Analisis Pendekatan Strata Norma dalam Puisi Papi Mewanti Karya Remy Sylado
Disusun Oleh:
Kelompok 11
Margaretha Yuliana T (I1B116031)
Ilza Dearmy Damta (I1B116032)
Egalora (I1B116033)
Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, SS., M.Pd.
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Puisi merupakan karya sastra yang memiliki unsur estetis atau keindahan. Dalam puisi terdapat hal-hal yang menarik atau pelajaran yang dapat diambil oleh pembaca. Karena puisi merupakan ekspresi pengarang terhadap keadaan atau pengalaman dan daya imajinasi pengarang terhadap keadaan. Menurut Jassin (Situmorang, 1980:7) puisi merupakan penghayatan kehidupan manusia totalitas yang dipantulkan oleh pendapatnya dengan segala pribadinya, pikirannya, perasaannya, kemauannya, dll. Oleh karena itu dari puisi seorang pembaca dapat memetik dan mengambil manfaat dan pengetahuan serta pengaalaman dari pengarang.
Pada sebuah puisi terkadang apa yang dipikirkan pengarang berbeda dengan interpretasi dari pembaca. Memang dalam apresiasi sastra hal tersebut menjadi sah karena setiap orang atau pembaca memiliki daya interpretasi sendiri sesuai dengan keadaan dan pengalamannya dalam memahami sebuah karya sastra. Untuk dapat memahami sebuah karya sastra diperlukan pendekatan agar dapat memetik makna yang disampaikan pengarang. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami makna tersebut. Diantaranya adalah pendekatan strata norma. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pendekatan strata norma dan penerapannyadalam menganalisis puisi Papi Mewanti Karya Remy Sylado.
1.2 Rumusan Masalah
- Apakah pengertian pendekatan strata norma?
- Bagaimana penerapan pendekatan strata norma dalam menganalisis puisi Papi Mewanti Karya Remy Sylado?
1.3 Tujuan Penulisan
- Mengetahui pengertian pendekatan strata norma.
- Mendeskripsikan penerapan pendekatan strata norma dalam menganalisis puisi Papi Mewanti Karya Remy Sylado.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Lapis Norma dalam Puisi
Dalam melakukan analisis terhadap sebuah puisi diperlukan pendekatan, salah satunya pendekatan strata norma. Pendekatan strata norma adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan menganalisis dengan berbagai tahap atau lapis. Hal ini dilakukan karena karya sastra memiliki kekhasan dan kekompleksitasan tersendiriUntuk menganalisis puisi setepat-tepatnya perlulah diketahui apakah sesungguhnya (wujud) puisi itu. Dikemukakan oleh Wellek (1968:150) bahwa puisi itu adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman. Karena itu, puisi (sajak) sesungguhnya harus dimengerti sebagai struktur norma-norma. Pengertian norma ini menurut Rene Wellek (1968:150-151) jangan dikacaukan dengan norma-norma klasik, etika, ataupun politik.
Karya sastra itu tak hanya merupakan satu sistem norma, melainkan terdiri dari beberapa starata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma di bawahnya. Rene Wellek (1968:151) mengemukakan analisis Das Literarische Kunstwerk (1931) ia menganalisis norma-norma itu sebagai berikut.
Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound Stratum). Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar itu ialah rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang. Tetapi, suara itu bukan hanya suara tak berarti. Suara sesuai dengan konvensi bahasa, disusun begitu rupa hingga menimbulkan arti. Maka, lapis bunyi itu menjadi dasar timbulnya lapis kedua, yaitu lapis arti.
Lapis arti (units of meaning) berupa rangkaian fonem, suku kata, frase dan kalimat. semuanya itu merupakan satuan-satuan arti. Rangkaian kalimat menjadi alinea, bab dan keseluruhan cerita ataupun keseluruhan sajak.
Rangkaian satuan-satuan arti ini menimbulkan lapis ketiga, yaitu berupa latar,pelaku, obyek-obyek yang dikemukakan dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan dan dua lapis norma lagi yang sesungguhnya menurut Wellek dapat dimasukkan dalam lapis yang ketiga. Lapis tersebut sebagai berikut.
a. Lapis “dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkandung dalamnya (implisit).
b. Lapis “metafisis”, berupa sifat-sifat metafisis (yang sublim, yang tragis, mengerikan atau menakutkan dan yang suci), dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca.
Papi Mewanti Anak
Karya Remy Sylado
Nak, jamannya sudah terbalik
Masa silam bukan yang terbalik
Tidak usah jadi pemimpin
Lebih aman jadi pemimpi
Pandai-pandai bilang ya’
Jangan sekali-kali bilang ta’
Kepada bosmu jangan tulus
Malah perlu akal bulus
Korupsi perlu kau jalani
Sebab ia adalah budaya kini
Cari istri yang membawa mujur
Tak perlu yang berbakat jujur
Jangan main cinta dengan istri orang
Sejauh suaminya tidak mengetahui
Orang lain boleh miskin menderita
Asal kau kaya sendiri habis perkara
Kalau kau masuk neraka nanti
Itu di luar tanggungjawab Papi.
2.2 Analisis Puisi Papi Mewanti Anak
a. Lapis Bunyi
Dalam puisi Papi Mewanti Anak pada bait pertama sampai kesembilan memiliki sajak yang sama. Kecuali pada bait kedua dan ketujuh. Yaitu pada bait pertama, ketiga, keempat, kelima, keenam, kedelapan, dan kesembilan.
Nak, jamannya sudah terbalik
Masa silam bukan yang terbalik
Pada bait pertama bersajak ik-ik.
Pandai-pandai bilang ya’
Jangan sekali-kali bilang ta’
Pada bait ketiga bersajak a-a.
Kepada bosmu jangan tulus
Malah perlu akal bulus
Pada bait keempat bersajak us-us.
Korupsi perlu kau jalani
Sebab ia adalah budaya kini
Pada bait kelima bersajak i-i.
Cari istri yang membawa mujur
Tak perlu yang berbakat jujur
Pada bait keenam bersajak ur-ur.
Orang lain boleh miskin menderita
Asal kau kaya sendiri habis perkara
Pada bait kedelapan bersajak a-a
Kalau kau masuk neraka nanti
Itu di luar tanggungjawab Papi.
Pada bait kesembilan bersajak i-i.
b. Lapis arti
Nak, jamannya sudah terbalik
Anakku , zaman sekarang yang sudah terbalik
Masa silam bukan yang terbalik
Bukan zaman dulu yang terbalik
Tidak usah jadi pemimpin
Tidak perlu menjadi seorang pemimpin
Lebih aman jadi pemimpi
Lebih aman menjadi seorang yang hanya bermimpi
Pandai-pandai bilang ya’
Teruslah mengatakan ya
Jangan sekali-kali bilang ta’
Jangan pernah mengatakan tidak
Kepada bosmu jangan tulus
Terhadap bosmu janganlah bersikap tulus
Malah perlu akal bulus
Justru kamu perlu memiliki tipu muslihat yang licik
Korupsi perlu kau jalani
Kamu perlu melakukan korupsi
Sebab ia adalah budaya kini
Karena korupsi sekarang menjadi budaya
Cari istri yang membawa mujur
Carilah istri yang membawa nasib baik
Tak perlu yang berbakat jujur
Tidak perlu mencari istri yang bersifat jujur
Jangan main cinta dengan istri orang
Jangan berselingkuh dengan istri orang
Sejauh suaminya tidak mengetahui
Selama suaminya tidak mengetahuinya
Orang lain boleh miskin menderita
Orang lain boleh hidup miskin dan menderita
Asal kau kaya sendiri habis perkara
Asalkan kamu hidup kaya sendiri masalah selesai
Kalau kau masuk neraka nanti
Tapi nanti jika kamu masuk neraka
Itu di luar tanggungjawab Papi.
Ayah tidak mau tanggung jawab.
Pada bait pertama, si Papi mulai bercerita kepada anaknya. Kemudian pada bait kedua sampai dengan bait kedelapan, tokoh Papi menasihati dengan nasihat-nasihat yang justru tidak semestinya. Mungkin di sini Remy Sylado menggunakan satire (ejekan) untuk menyindir. Tiap bait dikiaskan sebagai dosa-dosa kecil yang dilakukan, demi keberlangsungan hidup di dunia. Namun, pada bait terakhir si Papi berpesan, jika anaknya masuk neraka nanti karena telah melakukan dosa-dosa kecil sebelumnya bukan lagi tanggung jawabnya.
c. Lapis Implisit
Puisi berjudul Papi Mewanti Anak karya Remy Sylado ini isinya yang sebenarnya berupa nasihat – nasihat namun di sampaikan dengan cara yang tidak semestinya, yaitu dengan membalikkan maknanya. Dalam puisi ini pengarang sebenarnya ingin menyampaikan nasihatnya kepada anak-anak zaman sekarang, namun disampaikan dengan makna yang sebaliknya seperti sindiran. Jadi maksud pengarang yang sebenarnya dalam puisi ini adalah untuk memberitahu si anak apa saja yang dilarang sekaligus menasihati si anak.
Maksud sebenarnya :
Anakku zaman sekaranglah yang sudah terbalik, bukan zaman dulu yang terbalik. lebih baik hanya menjadi orang yang bermimpi, daripada menjadi seorang pemimpin. Berhati-hatilah dalam mengatakan ya dan tidak. Berbuat tuluslah kepada bosmu, dan jangan memiliki tipu muslihat kepadanya. Meskipun kini korupsi sudah menjadi budaya, namun jangan pernah kau melakukannya. Carilah istri yang memiliki kejujuran, jangan hanya karena membawa nasib baik. Janganlah engkau hidup kaya dan bahagia sendiri, namun yang lain miskin dan menderita.
d. Lapis Metafisis
Lapis Metafisis dalam puisi Papi Mewanti Anak adalah pada masa sekarang banyak orang yang terjerumus pada hal yang salah yang entah bagaimana kesalahan itu seperti sudah membudaya. Contohnya korupsi, semakin kemari bukannya orang jera melakukan tindak korupsi, justru makin banyak orang yang ketahuan melakukan tindak korupsi. Untuk itu Remy Sylado mengarang puisi Papi Mewanti Anak ini sebagai bentuk nasihat kepada anak-anak muda zaman sekarang, sekaligus sindiran pada orang-orang yang telah melakukan perbuatan yang salah agar mereka cepat sadar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pendekatan strata norma adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan menganalisis dengan berbagai tahap atau lapis. Hal ini dilakukan karena karya sastra memiliki kekhasan dan kekompleksitasan tersendiri. Menurut beberapa pendapat terdapat tiga lapis atau tahap dalam melakukan analisis berdasarkan strata norma.
- Lapis norma pertama adalah lapis bunyi.
- Lapis norma kedua adalah lapis arti.
- Lapis norma ketiga adalah lapis unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi.
Dalam puisi Papi Mewanti Anak tersebut terdapat makna yang disampaikan pengarang, yaitu untuk mencapai sesuatu yang diinginkan manusia perlu berusaha. Kadang dalam menjalani kehidupan manusia mengalami rasa khawatir karena takut jika usaha yang dilakukannya berakhir dengan kegagalan. Tetapi jika manusia mau berusaha, dan mengambil pelajaran dari kegagalan manusia bisa menjadi bijak dan meraih cita-cita yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/15560/log-apr2006-%20%286%29.pdf?sequence=1&isAllowed=y
http://poempuisi-poempuisi.blogspot.com/2008/10/papi-mewanti-anak-by-remy-sylando.html?m=1
http://eprints.ung.ac.id/8216/