ANALISIS NOVEL ZIARAH KARYA IWAN SIMATUPANG

ANALISIS NOVEL ZIARAH KARYA IWAN SIMATUPANG

Oleh Kelompok 7 :
Dita Cahyani (I1B116017)
Siti munawa (I1B116019)
Karmila (I1B116020)

Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd.

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar belakang
Karya sastra adalah hasil dari pemikiran manusia baik berupa puisi, prosa maupun lakon. Karya sastra disampaikan secara komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Dalam karya sastra selain ide, dalam literatur ada juga deskripsi peristiwa, gambar psikologis, dan pemecahan masalah jangkauan dinamis. Salah satu jenis karya sastra adalah novel.

Novel adalah bentuk sastra yang menceritakan kisah fiksi kehidupan seseorang yang dianggap mengesankan. Pada dasarnya karakter dalam novel adalah fiktif belaka, tetapi disesuaikan dengan waktu cerita itu ditulis. Dalam hal ini, novel yang akan dibahas adalah novel Ziarah karya Iwan Simatupang. Iwan Simatupang sendiri ialah salah satu penulis ternama yang dikenal dengan karya-karya absudrnya, dan salah satu karyanya ialah Ziarah.


Ziarah merupakan sebuah novel karya Iwan Simatupang yang diterbitkan pertama kali oleh penerbit Djambatan pada tahun 1969. Pemilihan tema dalam penulisan novel ini sangat berbeda dengan genre novel lainnya. Novel Ziarah dapat dikatakan sebagai novel yang rumit, seperti alur cerita yang tidak teratur atau tidak mengikuti urutan kronologis cerita, absurd. Novel ini membawa Iwan Simatupang untuk memperoleh Hadiah Sastra Asean tahun1977, tujuh tahun setelah sang pengarang meninggal dunia. Novel tersebut mendapat sambutan positif dari sastrawan dan pengamat sastra. Novel Ziarah ini bercerita tentang tokoh kita yang dianggap sebagai manusia aneh.


Novel Ziarah karya Iwan Simatupang ini merupakan karya sastra yang menarik dan berbeda dibandingkan dengan karya sastra Indonesia lainnya. Ziarah banyak mendapat kritik dari pakar sastra karena isi ceritanya melibatkan budaya Barat dan menganggap Iwan Simatupang sebagai pengarang yang borjuis. Novel Ziarah ini sulit dimengerti oleh pembaca biasa, sehingga untuk memahaminya perlu menggunakan kesadaran filsafat tentang kehidupan dan kematian manusia, pemberontakan, dan kesadaran sosial. Sehingga didalam pembahasan ini untuk memudahkan pembaca memahami apa makna yang tersirat didalamnya dengan menganalisis unsur Instrinsiknya.


Dalam sebuah penganalisisan membutuhkan kajian yang relevan dengan hal yang ingin dikaji. Pada analisis novel ziarah karya Iwan Simatupang ini, penulis mengambil kajian sturukturalisme, yang mana strukturalisme ini menurut KBBI ialah suatu gerakan linguistik yang berpandangan bahwa hubungan antara unsur bahasa lebih penting dari pada unsur itu sendiri. Suatu pandangan yang tepat dalam sebuah pengkajian sastra, karena sastra rekat kaitannya dengan bahasa.


B. Rumusan masalah

  1. Bagaimana kajian strukturalisme terhadap novel ziarah karya Iwan Simatupanhg?
  2. Apa saja unsur yang terdapat dalam novel ziarah karya Iwan Simatupang?

C. Tujuan

  1. Untuk menguraikan kajian strukturalisme dalam novel ziarah karya Iwan Simatupang.
  2. Untuk mengetahui unsur yang ada dalam novel ziarah karya Iwan Simatupang.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sinopsis Novel Ziarah karya Iwan Simatupang
Tokoh kita atau lebih tepatnya mantan pelukis hebat tiba-tiba berubah secara drastis semenjak kepergian istri yang sangat ia cintai.. Ia sangat mencintai istrinya sehingga ia tidak pernah percaya bahwa wanita yang dicintainya itu telah meninggal. Pada suatu hari si pelukis itu ke sebuah pekuburan Kotapraja. Di sana ia bertemu dengan lelaki tua yang telah menghabiskan masa tuanya sebagai opseter perkuburan. Lelaki tua itu menawarkan pekerjaan kepada si pelukis sebagai tukang cat tembok di pekuburan Kotapraja. Tawaran yang memang ia idam-idamkan, Tokoh kita menerima pekerjaan itu dengan tujuan agar selalu dekat dengan almarhum istri tercintanya. Namun, pekerjaan pengecatan pekuburan itu tidak berjalan lama sebab Walikota Kotapraja tiba-tiba mengeluarkan surat pemberhentian pekerjaan itu. Si opseter tua itu harus berhenti menjadi opseter perkuburan Kotapraja. Sang Walikota mendapat dukungan penuh dari masyarakat akan keputusannya itu.


Dukungan itu membuat si walikota menjadi besar kepala. Namun, khayalannya itu hanya mimpi, karena kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Saat sang opseter tua itu ditemukan gantung diri di dalam rumah dinasnya. Berita kematiannya itu membuat geger seluruh pelosok kota. Ia memerintahkan bawahan nya untuk segera mencari penggganti Opseter yang baru. Di tengah-tengah keputusasaan mereka, tiba-tiba datang seorang pemuda tampan yang melamar menjadi opseter baru.


Selama Ia menjadi opseter, pekerjaan mengecat tembok kuburan berjalan seperti semula. Hingga keuletan nya dalam bertugas para aparat pemerintah menginginkan pemuda itu menggantikan perdana menteri yang lama yang telah meninggal dunia. Namun, pemuda itu menolaknya, ia tidak mengingkan sekali jabatan itu. Sejak kejadian itu pemuda itu berubah, ia lebih sering mengurung dirinya, sang walikota keheranan, ada apa dengan pemuda yang yang cerdas, dan tegas dalam kepemimpinannya.


Pada suatu hari datang dua orang laki-laki ke kantor walikota. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mereka ingin menemui si opseter muda itu. Kedua orang itu adalah seorang ayah opseter dan mahaguru si opseter muda. Ia meminta walikota agar memberhentikan si pemuda itu karena ia tidak rela mahasiswa bimbingannya bekerja sebagai opseter perkuburan. Seorang calon doktor tidak tepat menjadi opseter kuburan (ucapnya), kenyataannya si pemuda itu berkata tegas bahwa ia tidak akan meninggalkan pekerjaannya. Ia juga menegaskan bahwa tak seorang pun yang dapat mencegahnya untuk menjadi opseter.


Suatu hari, ketika pulang kerja dari kuburan, si pelukis merasa terkejut ketika mengetahui bahwa salah satu lukisannya hilang. Dan ia menemukan setumpuk uang valuta asing di rumahnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung manukarkan uang asing itu menjadi rupiah. Dan ia begitu terkejut bahwa jumlahnya tidak sedikit. Ia bingung bagaimana menghabiskan uang sebanyak itu. Kemudia ia berfikir untuk mempertaruhkan semua uang nya di pertandingan sepak bola. Namun, ia memenangkan judi itu, maka uang nya pun malah bertambah. Karena kebingungan yang ia rasakan maka pelukis itu berusaha untuk bunuh diri karena merasa sangat bingung. Ia bunuh diri dengan cara lompat dari gedung kotapraja. Namun, ketika ia lompat, ada seorang wanita sedang berbelanja kemudian lewat di bawah gedung itu dan si pelukis jatuh tepat di dalam keranjang si wanita itu. Ia tidak jadi meninggal dunia. Bahkan, tidak lama kemudian, ia menikahi wanita itu, namun pernikahan itu tidak berlangsung lama karena si wanita kemudian meninggal dunia tanpa penyebab yang pasti.


Pekerjaan pengecatan tembok pekuburan akan segera di hentikan. Pemuda itu pun berhenti dari pekerjaannya bersamaan dengan surat penguduran dirinya. Tak lama sesudah si pelukis mengundurkan diri, tiba-tiba di lokasi kuburan Kotapraja menjadi sangat ramai. Ternyata si pemuda opseter itu bunuh diri di kamar dinasnya tanpa diketahui penyebabnya. Setelah menguburkan si pemuda opseter itu, si pelukis bincang-bincang dengan seorang kakek yang juga pekerja pekuburan Kotapraja. Si kakek adalah professor pembimbing si pemuda opseter itu. Setelah berbicara panjang lebar dengan si kakek, si pelukis memutuskan untuk melamar pekerjaan sebagai opseter untuk menggantikan si pemuda. Alasannya, ia selalu dekat dengan isteri yang sangat ia cintai.

B. Analisis Novel Ziarah Karya Iwan Simatupang
Penulis menganalisis novel Ziarah karya Iwan Simatupang ini menggunakan teori strukturalisme. Menurut KBBI strukturalisme adalah gerakan linguistik yang berpandangan bahwa hunbungan antara unsur bahasa lebih penting daripada unsur itu sendiri, satu-satunya objek bahasa adalah sistem bahasa, dan penelitian bahasa dapat dilakukan secara sinkronis. Tokoh penting di dalam teori strukturalisme diantaranya Roman Jakobson, Jan, Mukarovsky, Fellix Vodicka, Rene Wellek, Jonathan Culler, dan Robert Scoles.


Teori strukturalisme terbagi menjadi tiga bagian, yaitu strukturalisme dinamik, strukturalisme genetik, dan strukturalisme naratologi. Strukturalisme dinamik adalah penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik, yang dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. Menurut Fokkema (1997: 31) “Strukturalisme dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Fellix Vodicka”.


Strukturalisme Genetik adalah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul karya. Secara ringkas strukturalisme genetik berarti memberikan perhatian terhadap analisis intrinsik dan ekstrinsik. Sedangkan strukturalisme naratologi adalah strukturalisme yang berkembang atas dasar analogi linguistik, seperti model sintaksis, sebagaimana hubungan antara sabjek, predikat, dan objek penderita.
Dari ketiga bagian strukturalisme di atas, maka penulis memilih bagian pertama, yaitu strukturalisme dinamik. Novel Ziarah karya Iwan Simatupang ini merupakan novel yang absurd dan sangat sulit untuk di pahami oleh para pembaca awam. Oleh karena itu untuk memudahkan seluruh pembaca baik yang awam maupun orang yang tidak awan dalam memahami novel ini secara menyeluruh, maka penulis lebih memfokuskan analisis novel Ziarah karya Iwan Simatupang kepada unsur intrinsiknya saja.


Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang ada di dalam batang tubuh suatu karya satra. Setiap karya sastra, baik itu berbentuk frosa, puisi, ataupun drama, memiliki unsur-unsur intrinsik di dalamnya. Namun, masing-masing bentuk karya sastra itu memiliki bentuk unsur-unsur intrinsik tersendiri. Novel termasuk kedalam karya sastra bagian prosa fiksi. Adapun unsur intrinsik dalam novel, yaitu: tema, tokoh, alur, latar, perwatakan atau penokohan, gaya bahasa, sudut pandang, dan amanat.

C. Unsur Intrinsik Novel Ziarah Karya Iwan Simatupang

  1. Tema
    Tema adalah ide pokok suatu cerita dan merupakan suatu landasan bagi pengarang untuk menulis ceritanya (Sayuti, 2000: 31). Dalam sebuah penulisan, sejatinya pengarang dalam menuangkan idenya tidak hanya ingin sekedar bercerita belaka, tapi ia mau menyampaikan sesuatu yang dianggapnya berguna kepada pembacanya. Keberadaan suatu cerita yang ditampilkan pengarang dapat berupa suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya, atau komentar tentang kehidupan. besarnya cinta sang suami kepada istri yang telah meninggal.

2. Alur
Salah satu elemen terpenting dalam membentuk sebuah karya fiksi adalah plot cerita. Dalam analisis cerita, plot sering pula disebut alur. Plot atau alur ialah jalan cerita yang berupa peristiwa-peristiwa yang disusun satu-persatu saling berkaitan menurut hukum sebab akibat dari awal hingga akhir cerita. Jadi, peristiwa yang lain itu juga akan menjadi sebab bagi timbulnya peristiwa berikutnya dan seterusnya sampai akhir cerita (Suroto, 1989: 89).

3. Tokoh :
a. Si pelukis/atau tokoh Kita
Suami yang sangat mencintai istrinya walaupun istrinya telah meninggal. Seperti yang terdapat dalam kutipan “dia bangun dengan rasa hari itu bakal bertemu istrinya di salah satu tikungan, entah tikungan mana. Sedang istrinya telah mati entah berapa lama” . ( hal 13)

b. Penjaga kuburan
Kutipan “Malam nya dia menyuruh penjaga pekuburan meletekkan bunga di atas kuburan istrinya” (hal 14)

c. Orang-orang kampung
Kutipan “Ketika sampai di depan rumah tempat dia menyewa kamar, orang-orang baik hati yang telah berkenaan mengantarkannya pulang” (hal 16)

d. Opseter perkuburan kotapraja 1
Kutipan “dia berpapasan dengan seorang paruh baya, yang menurut orang-orang sekotanya adalah opseter perkuburan kotapraja” (hal 21)
Lelaki tua yang selama hidup nya hanya mengabdi di kuburan

e. Walikota
Kutipan “ mereka melongo saja, sama tercengan menonton sang walikota yang bicara sendirian” (hal 31)

f. Pamong praja
Kutipan “ ini menjadikan dirinya justru tipe pamong praja yang sangat ideal” (hal 42)

g. Kepala jawatan
Kutipan “ maka ini akan saya anggap sebagai alasan yang cukup kuat untuk meninjau kembali kedudukan saudara sebagai kepala jawatan penempatan tenaga di kota praja saya ini “ (hal 56)

h. Opseter pengawas pekuburan 2
Opseter muda yang melamar pekerjaan mengganti opseter sebelumnya.
Kutipan “ pemuda itu telah beroleh suray pengangkatannya sementaranya sebagai opseter pengawas perkuburan kotapraja yang baru” (hal 59)

i. Gubernur kepala daerah swatantra tingkat satu
Kutipan “oleh sebab itu, dia meneruskan persoalan ini atasannya, yakni gubernur kepala daerah swantantra” (hal 64)

j. Perdana Menteri
Kutipan “ajudan paduka yang mulia terengah-engah lari-lari kepada yang mulia perdana menteri” (hal 68)

k. Ayah opseter dan mahaguru
Kutipan “pada suaty hari, walikota kedatangan dua orang. Yang seorang ayah opseter, sedang seorang lagi seorang mahaguru”. (hal 76)

l. Mandor
Kutipan “dia terus mengurung dirinya dalam rumah. Seorang mandor datang membawa kertas dan pensil “. (hal 80)

4. Latar
A. Latar tempat :
a. Kamar kecil
b. Tanah perkuburan
c. Jalan raya
d. Kaki lima
e. Alun-alun
f. Kedai arak
g. Rumah dinas
h. Taman kecil belakang rumah dinas


B. Latar waktu :
a. Malam
b. Sore hari
c. Tengah hari

C. Latar suasana :
a. Ramai
b. Sedih
c. Sunyi
d. Kacau

5. Gaya Bahasa
a. Hiperbola
Kutipan “ panas dalam tubuh mereka memijar, membuat isi dada mereka berkilauan memantulkan napas persahabatan dan kesetiakawanan ke seluruh pelosok alam”. (hal 24)

b. Metafora
Kutipan “Mereka sesungguhnya hidup pada abad ke-20 dengan kebudayaannya yang sedang merobos ruang angkasa”. (hal 30)

c. Personafikasi
Kutipan “ dalam telingannya dia mendengar suara gegap gempita ,suara turut terjungkirnya Bumi yang merekat rapat pada kakinya. (hal 40)

d. Sinisme
Kutipan “dia tak pernah menyukai orang-orang seperti dia, bekas pelukis yang berubah menjadi tukang kapur ini, dengan jidat terlalu lebar, rambut semakin jarang tumbuh di batok kepalanya, dan muka yang pasti karena tak pernah bertemu sinar Matahari.” (hal 38)

e. Sarkasme
Kutipan “ mayatnya di cincang lumat-lumat, kemudian di gumpalkan sebesar upil hidung dan di penyetkan dengan rasa kesal dan mual”. (hal 48)Sudut pandang dalam novel ziarah

6. Sudut pandang

Sudut pandang yang bisa diambil dalam novel ini ialah yaitu sudut pandang orang ketiga, yaitu dimana orang ketiga disini yang selalu menyebutkan nama-nama tokoh pemeran dalam novel tersebut. Hal ini di buktikan oleh salah satu kutipan “tiba-tiba tangan Opseter telah menyuruk ke dalam tangan tokoh kita dalam salam yang bergetar-getar hangat”.

7. Amanat
Amanat yang bisa kita ambil dari novel ini adalah, bahwa kematian adalah hal yang pasti. Namun, jarang orang menerimanya dengan kenyataan sebenarnya. Dan dalam novel ini mengisahkan tentang kecintaan sang suami yang tidak rela di tinggal istrinya. Kekuatan cinta yang bisa kita petik dari novel Ziarah karya Iwan Simatupang ini.

DAFTAR PUSTAKA

Simatupang, Iwan. 2017. Ziarah. Noura Books (PT. Mizan Publika).
Jakarta Selatan.

https://www.quipper.com/id/blog/mapel/bahasa-indonesia/unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-sastra/amp/
https://sastra33.blogspot.com/2015/07/teori-strukturslisme-teori-metode-dan.html?m=1
This entry was posted in Novel Kontemporer. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *