KAJIAN SASTRA KONTEMPORER ROMANTISME DALAM CERPEN SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA

KAJIAN SASTRA KONTEMPORER
ROMANTISME DALAM CERPEN SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU
KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA


Disusun oleh :
Kelompok 8

Ahmad Azhari (I1B116022)

Mustakim (I1B116023)

Anggi Marlinda (I1B116024)

Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd.

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar belakang
Sastra adalah karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif atau sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain (Taum, 1997:13). Dalam sastra, kita juga mengenal sastra kontemporer. Sastra kontemporer adalah karya sastra yang hidup pada masa kini atau sastra yang hidup dalam waktu yang sama atau sastra yang berusaha bergerak mendahului zamannya.


Sebuah karya sastra mempunyai sifat imajinatif berdasarkan kekreatifan dan luapan emosi dari pengarang. Yang mana luapan emosi tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk kalimat-kalimat yang bernilai estetik. Dari kalimat-kalimat atau diksi yang menjadi pilihan pengarang itu pula yang menjadikan ciri khas dari pengarang itu sendiri.


Salah satu karya sastra kontemporer adalah cerpen berjudul “Sepotong senja untuk pacarku” karya Seno Gumira Aji Darma. Cerpen karya Seno ini memiliki cerita yang begitu imajinatif dan bisa dibilang sangat fenomena dalam masyarakat. pengarang mencoba keluar dari aturan-aturan dalam karya sastra pada umumnya.


Dalam cerpen tersebut, pengarang benar-benar bermain dengan imajinasinya dan juga pengarang lebih mengutamakan perasaan daripada logika dalam menciptakan karyanya. Hal semacam ini lah yang disebut-sebut sebagai aliran romantisme dalam karya sastra.
Pembaca betul-betul dibuatnya masuk dan terbuai dalam alur dari cerita tersebut. Selain itu, dalam peristiwa yang terjadi di dalam cerpen tersebut, pengarang betul-betul membuat tokoh utama menjadi sosok yang begitu romantis lewat kalimat-kalimat indah dan diksi yang pengarang gunakan dalam cerpen tersebut. Oleh sebab itu, Keindahan menjadi fokus utama dalam romantisme (Endaswara, 2003: 33).

Namun tidak sedikit pembaca yang menganggap bahwa cerpen ini sulit diterima oleh nalar, karena ke absudannya tersebut, pembaca terkadang sulit memahami dan memaknai apa sebenarnya inti dari cerita tersebut. Untuk itu, penulis mencoba menganalisis cerpen berjudul “Sepotong senja untuk pacarku” karya Seno Gumir Aji Darma ini menggunakan pendekatan Romantisme, agar pembaca bisa dengan mudah mengetahui dan memaknai isi dari cerpen tersebut, khususnya sisi romantis dalam cerita tersebut.


1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana unsur romantisme dalam cerpen “Sepotong senja untuk pacarku” karya Seno Gumir Aji Darma


1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :

  1. Agar pembaca mengetahui teori tentang romantisme
  2. Agar pembaca bisa mengetahui dan memahami unsur romantisme yang terdapat dalam cerpen “Sepotong senja untuk pacarku” karya Seno Gumira Aji Darma.

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Sinopsis cerpen
Cerpen karangan Seno Gumira Ajidarma ini bercerita tentang usaha seorang pria yang ingin sekali mengirimkan sepotong senja untuk pacarnya, Alina. Ia memilih senja itu karena baginya, kata-kata tidaklah cukup berarti untuk mewakili perasaannya dan senja itulah yang diimpikan oleh kekasihnya itu selama ini. Lalu di suatu pantai yang indah dengan pemandangan syahdu membuatnya ingin mengambil senja itu.


Namun, usahanya mengambil senja ternyata tak semulus yang ia kira, bahkan polisi dan masyarakat pada ribut karena kehilangan senja. Di tengah pelariannya, ia bertemu dengan gelandangan di bawah gorong-gorong. Gelandangan itu menyuruhnya bersembunyi agar aman dari kejaran polisi. Tiba-tiba ia menemukan sebuah tempat yang mirip dengan tempat dimana ia mengambil senja tadi. Namun disana tampak sangat sepi, tak ada manusia, hewan, apalagi keramaian. Iapun memutuskan untuk mengambil senja yang ada disana dan menyimpan di saku yang satunya lalu kembali meninggalkan gorong-gorong dan naik ke bumi.


Diluar dugaan ternyata keadaan diatas sudah tak sekacau tadi, bahkan mobilnya tampak habis dicuci. Ia juga sempat melahap pizza dan segera melajukan mobilnya. Ia memasangkan senja yang dari gorong-gorong itu dan ternyata cocok. Sedangkan senja yang ia dapat dari tempat pertama ia kirimkan lewat pos. Ia jadi ingat, gorong-gorong itu pasti akan menjadi gelap karena ia telah mengambil senja itu untuk pacarnya dan semua orang akan memperbincangkan itu kelak. Terakhir iapun berpesan agar kekasihnya itu menjaga baik-baik senja yang ia berikan.


2.2 Romantisme
Romantisme adalah aliran sastra yang berkembang di Eropa yang muncul sebagai reaksi pada aliran rasionalisme yang cenderung kaku dan terlalu mengedepankan rasio. Aliran ini sangat mengedepankan perasaan dan emosionalitas (Shaari, 2002 : 87). Romantisme berasal dari kata romantic dalam Bahasa Inggris. Kata ini sering digunakan pada roman-roman heroik Prancis pada pertengahan abad ke-17.
Romantik sebenarnya juga mengandung pengertian pertualangan yang jauh dari kehidupan biasanya, sehingga menjadi sesuatu yang tidak nyata dan penuh khayalan. Pada abad ke-18 istilah romantisme umumnya mengacu pada kebangkitan pemikiran dan emosi yang tidak pernah dipengaruhi oleh rasionalisme pada abad tersebut (Noyes, 1967 : XX).


Kemunculan romantisme tidak terlepas dari pengaruh berbagai peristiwa penting yang terjadi di Eropa pada zaman Renaissance, seperti revolusi Prancis dan revolusi industri di Inggris. Semangat pencerahan yang sangat hebat pada saat itu menempatkan rasio pada posisi tertinggi untuk memahami alam semesta. Apapun yang ada dan terjadi di jagad raya harus dapat diterjemahkan dengan rasio, sehingga terjadilah penyisihan terhadap kehidupan rohani dan kepekaan perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan akal manusia secara keseluruhan.


Hal ini ternayata menimbulkan kegelisahan dalam masyarakat Eropa itu sendiri, yang mampu memunculkan kembali semangat untuk memperoleh kemerdekaan emosi dan kedaulatan pribadi. Semangat romantisme yang menekankan nilai-nilai ketulusan hati, spontanitas, dan penentangan terhadap pengekangan menjadi salah satu pemecahan masalah kala itu, sehingga aliran ini mampu berkembang dengan pesat dan mempengaruhi kehidupan masyarakat di berbagai bidang, termasuk bidang kesusastraan.


Romantisisme berawal dari sebuah aliran seni yang menempatkan perasaan manusia sebagai unsur yang paling dominan. Menurut Neyos (dalam Hadimadja, 1972) bahwa sedikitnya ada enam ciri romantisme yang muncul dalam karya sastra yakni Kembali ke Alam, kemurungan, primitivisme, sentimentalis, eksotisme.


Sedangkan menurut Pemandu di Dunia Sastra (Hartoko, 1986 : 122), romantik adalah sebuah istilah kebudayaan yang menonjolkan pemujaan terhadap alam murni, masa silam, sesuatu yang eksotis, misterius, bebas, pemberontakan terhadap hidup yang teratur, orisinal, dan memiliki identitas nasional. Jika dilihat secara umum dapat dikatakan bahwa romantisme memiliki ciri-ciri antara lain, memiliki perhatian yang besar dan memuja alam, emosi yang mengalahkan rasionalitas, individualisme dan mengedepankan kepentingan diri, khayalan dan imajinasi yang tinggi, sederhana tanpa pengaruh modernitas, spontan, menyukai hal-hal yang erotik serta pemberontakan terhapadap aturan atau tatanan yang ada dalam masyarakat.


Romantisme atau sering disebut dengan romantik ini mengungkapkan rasa ketidaksenangan terhadap kehidupan modern yang artifisial, materialis, kasar, dan kaku. Rasa ketidaksenangan itu dilampiaskan dengan lari ke pangkuan alam, memuja keindahan ciptaan Tuhan, mendendangkan nyanyian indah, mengagumi pribadi-pribadi yang tenang, penyayang, penuh rasa kasih sayang, memuja cinta, kelembutan, dan keindahan. Aliran ini biasanya menggambarkan tentang peristiwa kehidupan dunia yang lain, yang indah, yang kurang dikenal, yang terjadinya entah di mana.


Menurut Sumarjo (1996:243) romantik merupakan istilah kesusastraan untuk menunjukkan karya perasaan dari pada segi intelektualnya. Karya sastra romantik sering mengandung pemujaan terhadap keagungan baik dalam pelukisan karakter, pelukisan peristiwa, maupun suasana sehingga jauh dari pemahaman realita. Romantisme merupakan aliran yang menggunakan prinsip bahwa karya sastra merupakan cerminan kehidupan realistik yang menggambarkan kehidupan manusia yang berliku-liku dengan menggunakan bahasa yang indah sehingga dapat menyentuh emosi pembaca. Keindahan menjadi fokus utama dalam romantisme (Endaswara, 2003: 33).


Romantisme merupakan aliran sastra yang didominasi oleh perasaan dibandingkan logika dalam berfikir. Aliran romantisme lebih mementingkan curahan perasaan yang indah dan menggetarkan jiwa serta gambaran kehidupan yang penuh duka yang diungkapkan dalam estetika diksi dan gaya bahasa yang mendayu-dayu.


Oleh karena itu fiksi romantis kerap mengambil latar masa yang sudah lewat, tempat yang tidak biasa atau di luar jangkauan, atau wilayah rekaan yang lokasi sebenarnya tidak jelas. Tokoh-tokoh utama dalam fiksi romantis biasanya teriosasi secara emosional maupun fisik dan dikendalikan oleh cinta yang obsesif, kebencian, pemberontakan, dan rasa takut.


2.3 Analisis Cerpen
Dari enam ciri romantisme menurut Neyos (Hadimadja, 1972), hal ini dapat dilihat juga dalam cerpen berjudul “Sepotong senja untuk pacarku” karya Seno Gumira Ajidarma. Berikut adalah analisisnya :


a. Kembali ke alam
Kaum romantik berpegang pada semboyan mereka yaitu alam adalah sesuatu yang mendukung dan menentukan perasaan hati manusia. Dengan demikian, perasaan hati manusia itu tergantung dari keadaan alam. Begitu besarnya pengaruh alam bagi pengarang beraliran romantik. Alam yang digambarkan dalam cerpen tersebut yakni seperti kutipan berikut :
Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu. “barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku.

Kutipan cerpen diatas menggambarkan suatu sore di tepi pantai. Dengan melihat keindahan alam yang tersebut diatas, tokoh “aku” berpikir bahwa senja itu akan bagus untuk kekasihnya dan berkeinginan untuk memberikan senja itu pada kekasihnya, keindahan alam benar-benar mendukung perasaannya. Dengan melihat itu, alam yang dimaksud dapat digambarkan oleh pengarang di dalam cerpennya.


b. Kemurungan
Tema-tema pada kesusastraan kemurungan (melankolis) dapat dikatakan berkisar seputar kemurungan akibat keterbencian, cinta yang tidak bahagia, penderitaan hidup, dan hal-hal yang menyeramkan. hal ini dapat digambarkan dalam kutipan novel dibawah ini:

“Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian. Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan.”

Dari kutipan cerpen di atas secara tidak langsung pengarang menggambarkan penderitaan hidup yang terjadi di gorong-gorong, yakni anak-anak gelandangan yang tidak bahagia. Meskipun pengarang menceritakannya hanya sekilas, namun dapat dilihat bahwa kemurungan yang terdapat dalam kutipan cerpen diatas yakni tentang penderitaan hidup anak-anak gelandangan.


c. Primitivisme
Primitivisme merupakan unsur romantisme yang ditandai oleh kerinduan masa lalu dan kerinduan kejayaan dimasa yang akan datang. Primitivisme berasal dari kata primitif yakni belum maju, kuno, tidak modern, terbelakang dsb. Primitivisme ini cendrung akan hal-hal yang alamiah dan natural. hal ini dapat digambarkan dalam kutipan novel dibawah ini:

“Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina.”

Dari kutipan cerpen di atas, dapat dilihat bahwa pada cerita tersebut terdapat sebuah tempat, yaitu gua. Dapat dinilai cerpen tersebut secara tidak langsung menandakan bahwa pada cerita tersebut berlatarbelakang zaman dahulu/belum maju.


d. Sentimentalis
Sentimentalis merupakan deskripsi tentang ungkapan emosi/perasaan secara berlebihan berupa kesukaan akan kelembutan, birahi, kegandrungan akan sifat alamiah yang semuanya lebih bersifat patetis dari pada etis. hal ini dapat digambarkan dalam kutipan novel dibawah ini:

“Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi. Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.”

Kutipan cerpen di atas merupakan sebuah ungkapan tokoh “aku” kepada kekasihnya Alina melalui surat yang sudah dia tulis. Tokoh “aku” memiliki perasaan cinta yang sangat berlebihan kepada Alina sampai-sampai dia mengirimkan sepotong senja untuk membuat Alina bahagia. Dia menulis surat tersebut penuh dengan perasaan cinta dan emosi dengan setiap kejadian-kejadian yang dialaminya. Pengarang menciptakan cerita yang sangat imajinatif dan penuh emosi, sehingga tokoh “aku” digambarkan sebagai sosok yang sangat sentimen.


e. Eksotisme
Romantisme tidak hanya cenderung melarikan diri ke dalam perasaan serta dunia mimpi mereka sendiri, tetapi juga mencari pengalaman emosional dalam dunia eksternal berupa hal-hal yang jauh, baik dalam hal waktu maupun tempat. Biasanya tokoh tenggelam dalam keinginan-keinginan. Eksotisme merupakan perlakuan tokoh yang mengandung keunikan serta rasa asing yang mengandung daya tarik khas. hal ini dapat digambarkan dalam kutipan novel di bawah ini:


“Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.”


Dari kutipan cerpen di atas, dapat dilihat bahwa perlakuan tokoh “aku” kepada Alina kekasihnya memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri. Dia memberikan senja untuk kekasihnya, meskipun jika dilihat dari sudut pandang dunia nyata hal tersebut mustahil, namun kemustahilan tersebutlah yang menjadi imajinasi pengarang dalam menciptakan karya sastra. Pengarang sangat imajinatif dan berani keluar dari aturan pada umumnya. hal yang dilakukan tokoh “aku” sangat berbeda, jauh dari laki-laki pada umumnya yang hanya bisa berkata-kata saja. Dia berusaha memberikan sesuatu yang berbeda, yaitu sepotong senja dan cinta untuk kekasihnya.


Selain itu, tokoh “aku” juga memiliki keinginan-keinginan seperti yang terdapat dalam kutipan diatas. Dia sangat menginginkan segala hal dapat dilakukannya bersama kekasinya meskipun hal tersebut entah kapan menjadi kenyataan.

BAB III
KESIMPULAN


Romantisme merupakan aliran sastra yang didominasi oleh perasaan dibandingkan logika dalam berfikir. Aliran romantisme lebih mementingkan curahan perasaan yang indah dan menggetarkan jiwa serta gambaran kehidupan yang penuh duka yang diungkapkan dalam estetika diksi dan gaya bahasa yang mendayu-dayu. Menurut Neyos (dalam Hadimadja, 1972) ada enam ciri romantisme yang muncul dalam karya sastra yakni Kembali ke Alam, kemurungan, primitivisme, sentimentalis, eksotisme.

Cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku” merupakan salahsatu cerpen yang tergolong romantik. Cerita didalamnya mengandung banyak kata-kata yang romantis dan indah. Pengarang sangat imajinatif dan berani keluar dari aturan-aturan pada umumnya yang berlaku pada karya sastra. 

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2009. Stilistika:teori, metode dan aplikasi pengkajian estetika bahasa. Surakarta : Cakra Books

Jurnal :
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://kim.ung.ac.id/index.php/KIMFSB/article/download/3200/3176&ved=2ahUKEwjyxdTe74niAhWTfCsKHXPNCdYQFjABegQIBxAB&usg=AOvVaw1VO8gHKB3LvxLRIMYXeZec

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://digilib.unila.ac.id/25829/18/SKRIPSI%2520TANPA%2520BAB%2520PEMBAHASAN.pdf&ved=2ahUKEwjyxdTe74niAhWTfCsKHXPNCdYQFjAAegQIAxAB&usg=AOvVaw0XRhWRvdA_Sw9A0mGoe8Wv
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://lib.ui.ac.id/file%3Ffile%3Ddigital/20352007-MK-Ferdina%2520Wahyu%2520Arista.pdf&ved=2ahUKEwiQidaE8YniAhVYU30KHVUMBq0QFjABegQIAhAB&usg=AOvVaw13PuxRxkiNG5nOCuSWOjKq
This entry was posted in Cerpen Kontemporer. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *