Analisis Stilistika Puisi Solitude Karya Sutardji Calzoum Bachri

Analisis Stilistika Puisi Solitude
Karya Sutardji Calzoum Bachri

Disusun oleh kelompok 9
Lu’lu’ Nashiroh (I1B116025)
Septiyani (I1B116026)
Tanti Justia Reffianti (I1B116027)

Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd.

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019

LANDASAN TEORI

1.Puisi dan Ciri Teks Puisi
Puisi merupakan bentuk karya sastra yang menyampaikan sebuah kata-katanya dalam bentuk lain, baik dari segi tipografi dan segi visual. Menurut H.B. Jassin menyatakan bahwa puisi adalah sebuah pengucapan dengan sebuah perasaan yang didalamnya mengandung sebuah fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan. Menurut Ralph Waldo Emerson menyatakan bahwa puisi ialah mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata yang sedikit mungkin.


Puisi secara umum ditulis dengan menekankan kepada larik-larik sehingga jarang ditulis sampai pada baris pinggir kanan kertas. Kata-kata yang digunakan di dalam puisi tidak sama dengan kata sastra seperti prosa yang penulisannya sampai ke ujung baris.


Menurut Herbert (dalam Semi, 2008: 139), “Poetry is predominantly intuitive, imaginative, and synthetic” maksudnya ialah, puisi lebih dominan sifat intuitif, imajinatif, dan sintetik. Dominan di sini diartikan bahwa di dalam fiksi maupun drama, unsur intuitif, imajinatif dan sintetik itu juga ada tetapi tidak dominan atau tidak menonjol. Karya yang non-puisi lebih bersifat logis, konstruktif dan analitik. Ketiga aspek penting yang mencirikan sebuah puisi akan diperjelas lebih lanjut.


a. Intuisi
Unsur yang pertama dalam puisi ialah intuisi. Kata intuisi menurut KBBI diartikan sebagai daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati. Intuisi merupakan suatu daya, suatu tenaga dalam yang tanpa bantuan pengalaman atau dibantu oleh proses logika yaitu mampu melihat, memahami dan menunjukkan kebenaran.


Pada hakikatnya intuisi tercipta disebabkan endapan rangkaian kearifan dan latihan merasa dan berpikir yang panjang sebelumnya. Dengan intuisi sesuatu dapat dilihat dan dinyatakan secara tepat seolah-olah dengan menggunakan indra keenam, yaitu perasaan dan kata hati. Maka dari itu, puisi diciptakan dengan menggunakan perasaan dan kata hati, seingga seseorang yang memiliki kemampuan berpikir yang baik tidak punya jaminan untuk mampu menghasilkan puisi yang baik. Karena memang puisi bukan diciptakan dari kemampuan berpikir, namun timbul secara murni dari hati atau perasaan seseorang yang merasakan suatu kondisi tertentu sehingga dapat menggambarkan isi hatinya melalui kata-kata puitis.


b. Imajinasi
Imajinasi merupakan angan atau kemampuan kejiwaan abstrak yang diwujudan secara konkrit. Di dalam puisi, pengalaman jiwa tersebut diwujudkan ke dalam kata-kata. Semakin lengkap dan dekat perwujudan angan –angan itu, semakin tinggi pula mutu karya puisi tersebut. namun, perwujudan angan-angan mutu tersebut dilakukan melalui lambang-lambang bahasa. Lambang bahasa itu sendiri memiliki kelemahan, karena lambang itu sendiri tidak persis sama dengan apa yang dilambangkannya. Oleh sebab itu, imajinasi tersebut sangat tergantung kepada kemampuan penyair dalam memilih kata atau ungkapan yang tepat, dan juga tergantung kepada kemampuan pembaca menafsirkannya.


Daya imajinasi pada dasarnya tidak kelihatan, karena terpendam dalam kesadaran orang masing-masing. Imajinasi dalam puisi merupakan bentuk kreativitas berpikir yang mampu memperkuat kesan suatu pengalaman jiwa. Dengan kreativitas ini pula puisi dibentuk, berdasarkan kemampuan imajinasi para penyair menangkap pengalaman atau penghayatan puitik yang dengan cara lain mungkin tidak tertangkap atau terungkap.


c. Sintetik
Sintetik diartikan sebagai suatu kesatuan, satu gabungan, suatu pemadatan. Lawan sintetik yaitu analitik yang berarti terurai, dan terlihat jelas unsu-unsur yang membentuknya. Puisi yang sintetik membentuk kontruksi terpadu, dan terpusat. Akibat dari sifat puisi yang sintetik, pernyataan puisi menjadi unik dalam artian tidak langsung mengacu kepada sesuatu yang diungkapkan, tetapi dapat menghasilkan pengertian yang luas dan bermacam-macam.

2.Gaya Puisi dari Segi Tipografi
Saat ini terjadi perkembangan yang luar biasa dalam dunia perpuisian di Indonesia. banyak pengarang yang melahirkan karyanya dengan bentuk tipografi yang beragam. Setiap penyair seperti mau memilih bentuk pengucapan yang sama sekali tidak terduga, dengan memilih bentuk-bentuk yang aneh atau ganjil, maka terjadilah ragam bentuk tipografi yang dengan sendirinya membuat terbentuknya ragam gaya pengucapan puisi.


Menurut Semi (2008: 144), keanekaragaman tipografis secara garis besar terdiri dari bentuk berikut :

a) Sistem kalimat dalam larik dan bait

b) Sistem kalimat dalam wujud prosais

c) Sistem frase dalam larik dan bait

d) Sistem frase dalam bait yang simetris

e) Sistem kata yang tersusun dalam wujud prosais

f) Sistem kata dalam susunan simetris

g) Sistem kata yang tersusun dalam susunan lekuk

h) Sistem kata yang tersusun secara acak

i) Sistem bunyi dan kata yang disusun secara absurd

j) Gabungan dari sistem tersebut

3.Gaya Puisi dari Segi kepuitisan
Unsur pokok yang membangun puisi ada dua, yaitu bentuk fisik atau tipografi, dan yang kedua adalah bentuk mentalnya. Kedua hal ini terjalin dalam suatu wujud yang padu. Bentuk fisik dan mental puisi terdiri dari tiga lapis yaitu; lapisan bunyi, lapisan arti , dan lapisan tema. Ketiga lapisan ini saling mendukung untuk menciptakan nilai estetika puisi.


Bagian yang penting dalam stilistika puisi atau dalam membentuk kepuitisan puisi:

Kemerduan Bunyi
Lapisan pertama dan utama sebuah puisi adalah bunyi. Bunyi bahkan tidak dapat dan tidak mungkin dilepaskan dalam puisi karena di dalam puisi unsur bunyi itu sangat penting.


Hal lain yang terkait dengan kemerduan bunyi adalah irama yaitu semacam gerakan atau alunan yang teratur, rentetan bunyi yang berulang yang menimbulkan variasi bunyi yang menciptkan getaran yang hidup.

Asosiasi dan Imajinasi
Asosiasi berkaitan dengan masalah mental dan perasaan. Yang dimaksudkan dengan asosiasi adalah kemampuan mental untuk menghubungkan suatu gagasan atau objek dengan gagasan atau objek yang lain.


Imajinasi ada hubungannya dengan asosiasi. Bila asosiasi merupakan keadaan mental pembaca yang menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain maka imajinasi lebih merupakan upaya penyair dalam menghadapi objek atau abstraksi serta bagaimana cara ia berespon terhadapnya.


Asosiasi dan imajinasi hanya dapat dibentuk dengan melakukan pemilihan kata dan pembentukan kata secara cermat dengan penuh pertimbangan. Pemilihan dan pembentukan kata dengan menggunakan kombinasi kata ditempuh dengan cara:
a. Dengan penjajaran (paralelisme)
Yaitu penggunaan kata yang sama artinya atau sama bentuknya dalam suatu rangkaian puisi.
b. Dengan paradoksal
Yaitu kata yang digunakan memiliki arti yang bertentangan atau berlawanan.
c. Dengan metafora
Yaitu pengucapan yang berhubungan dengan perbandingan langsung atau memindahkan sifat benda yang satu menjadi sifat benda yang lain.
d. Pesonifikasi
Adalah cara penyampaian gagasan dengan jalan menggunakan kata yang member sifat manusia terhadap benda mati.
e. Simile (perumpamaan)
Perbandingan yang menggunakan kombinasi kata kata yang menunjukan benda – benda, perbuatan, keadaan, dan sebagainya yang senapas, selingkupan, atau sejenis yang mempunyai sifat yang sama sebagai perbandingan.
f. Repitisi (perulangan)
Sesuatu yang abstrak dapat menjadi lebih konkrit. Dengan cara mengulang-ulang bagian tertentu.

HASIL ANALISIS PUISI SOLITUDE KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI


Yang paling mawar
Yang paling duri
Yang paling sayap
Yang paling bumi
Yang paling pisau
Yang paling risau
Yang paling nancap
Yang paling dekap
Samping yang paling
Kau!
Puisi ini termasuk kedalam tipografi sistem frase dalam larik dan bait karena terdiri dari rangkaian susunan frase sebagai unsur larik, dan larik – larik tersebut akhirnya membangun bait. Kemudian bait tersebut membangun struktur keseluruhan puisi.


Makna
Yang paling mawar = kesunyian seperti mawar yang indah dan harum
Yang paling duri = kesunyian yang menusuk , tajam, menyakitkan jika terkena duri
Yang paling sayap = kesunyian yang bisa terbang
Yang paling bumi = Kesunyian itu memiliki sifat seperti tempat dimana kita hidup di bumi
Yang paling pisau = kesunyian yang dibutuhkan jika memotong dan jika kita salah menggunakan akan berbahaya
Yang paling risau = kesunyian yang merisaukan bila mengalaminya
Yang paling nancap = Kesunyian yang pasti dan jika terus menerus dan berada didalamnya dan tidak pernah terlepas dalam kesunyian tersebut
Yang paling dekap = kesunyian yang memeluk
Samping yang paling Kau! = Yang mempunyai sifat yang paling adalah Kau yaitu Tuhan. Jadi orang yang paling itu, adalah orang selalu ingat Tuhan.


Rima
Puisi Sutardji Chalzoum Bachri banyak terdapat pengulangan bunyi yang membentuk musikalitas atau orkestrasi yang terdapat pada baris pertama sampai ke delapan. Dengan adanya bunyi yang berulang – ulang seperti itu maka dapat menyebabkan terjadinya keindahan dan kemerduan.


Repitisi
Puisi ini lebih mengarah pada asosisi imajinasi dengan menggunakan kombinasi repitisi atau pengulangan. Dengan mengulang bagian – bagian tertentu pada puisi Solitude maka dapat memancing perhatian dan terjadinya penekanan. Pengulangan pada puisi terdapat pada setiap barisnya (frase) yang sangat berperan dalam menciptakan intensitas makna, dan membentik rima. Gaya repitisi dalam puisi Solitude mempunyai pengaruh besar dalam setiap ujarannya.

DAFTAR PUSTAKA
Nurgiyantoro,Burhan.2013. Teori pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Semi, M.Atar. 2008. Stilistika Sastra. Padang: UNP Press
https://zaen.blog.uns.ac.id/2016/02/18/45/

This entry was posted in Puisi Kontemporer. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *