Analisis Cerpen Orez Karya Budi Darma
Menggunakan Sosiologi Sastra Teks
Oleh:
Kelompok 3
Nani Fitri Ramadhani (I1B116004)
Shella Syaputri (I1B116005)
Silvia Rosita Dewi (I1B116006)
Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd.
Program Studi Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Jambi
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra adalah fiksi yang sangat berpengaruh, Ia bukan hanya cerita khayal atau angan dari pengarang saja, melainkan wujud dari kreativitas dan imajinasi pengarang dalam menggali dan mengolah gagasan yang ada dalam pikirannya melalui pandangan terhadap lingkungan sosial yang berada di sekelilingnya.
Sastra hadir sebagai perenungan pengarang terhadap fenomena yang ada, biasanya pengarang berusaha mengungkapkan suka duka kehidupan masyarakat yang juga ia rasakan. Dari kehidupan masyarakat tersebut, terdapat beberapa permasalahan kehidupan yang mencakup hubungan sesama masyarakat, manusia, manusia dengan Tuhannya maupun antar peristiwa yang terjadi. Gambaran sosial masyarakat tersebut yang kemudian dituangkan pengarang ke dalam sebuah cerita, seperti novel dan cerita pendek.
Cerita pendek atau cerpen merupakan salah satu karya sastra di Indonesia yang biasanya hanya mengisahkan satu peristiwa kemudian ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Dari sebuah cerpen dapat diambil sebuah pelajaran, di antaranya dapat memberikan pengalaman, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal.
Orang-orang Bloomington merupakan kumpulan cerpen karya Budi Darma yang diterbitkan pada tahun 1980. Kumpulan cerpen ini ditulis pengarang pada periode akhir 1970-an yang terdiri dari tujuh cerpen yaitu Laki-laki Tua Tanpa Nama, Joshua Karabish, Keluarga M, Orez, Yorrick, Ny. Elberhart, dan Charles Lebourne. Dalam analisis cerpen kontemporer ini, dipilih cerpen Orez. Meskipun cerpen ini tergolong cerpen lama, tapi Ia masih bisa dikatakan kontemporer, karena cerpen ini menghadirkan permasalahan yang masih relevan sampai zaman sekarang.
Pada zaman globalisasi sekarang, interaksi sosial sangat dibutuhkan oleh seluruh manusia untuk keberhasilan hidup, karena pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri, dengan kata lain, manusia mempunyai kecenderungan untuk hidup bersama. Dalam hidup bersama atau bermasyarakat, manusia senantiasa dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia hidup, salah satunya dengan cara berinteraksi. Namun, ada beberapa masalah yang dapat terjadi pada manusia dalam berinteraksi.
Masalah tersebut tidak hanya terjadi di dalam cerita yang dituliskan Budi Darma saja, melainkan di kehidupan sehari-hari, seperti kesulitan berinteraksi sesama manusia yang dipicu oleh faktor kurangnya sosialisasi, kurangnya perhatian dan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar, teknologi yang sudah semakin maju, dan faktor luar seperti pengaruh budaya asing. Selain itu, ada hal absurd absurd dan terbaru yang dicoba untuk disajikan oleh Budi Darma melalui teks cerpen Orez.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Hakikat Cerpen
Pengertian Cerpen
Cerpen atau cerita pendek muncul dalam abad ke-19 di Eropa bersamaan dengan munculnya majalah. “Menurut bentuk fisiknya, cerita pendek atau cerpen adalah cerita yang pendek. Tetapi dengan hanya melihat fisiknya yang pendek saja orang belum dapat menetapkan sebuah cerita yang pendek adalah sebuah cerpen” (Sumardjo, 1988: 36).
Menurut Siswanto (2008: 142), cerpen merupakan akronim dari cerita pendek. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cerpen diartikan sebagai kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh di satu situasi (pada suatu ketika).
Edgar Allan Poe, sastrawan kenamaan dari Amerika mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira- kira berkisar antara setengah sampai dua jam-suatu hal yang kiranya tidak mungkin dilakukan untuk sebuah novel (Nurgiantoro, 2013: 12).
Sebuah cerpen, tidak luput di dalamnya memuat tentang unsur intrinsik, karena sejatinya unsur tersebut adalah pembangun dari karya itu sendiri. Unsur intrinsik tersebut adalah tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang dan amanat. Selain itu, ada unsur ekstrinsik yang ikut andil dalam penciptaan sebuah karya sastra, seperti cerpen.
Kecenderungan cerpen modern atau kontemporer adalah penekanan pada unsur perwatakan tokohnya. Bukan berarti bahwa pada cerpen lama perwatakan tidak dipentingkan. Penulis cerpen modern banyak menciptakan karakter besar, tokoh cerita dengan watak yang tidak akan kita lupakan. Unsur watak atau karakter dalam cerpen modern menjadi begitu menonjol dan dominan antara lain disebabkan oleh makin berkembangnya ilmu jiwa. Di Indonesia dapat kita sebut Budi Darma, pengarang yang menulis dengan menggunakan unsur tersebut.
Cerpen kontemporer adalah cerpen yang sesuai zaman, cerpen yang melampaui zaman atau cerpen lama yang permasalahan di dalamnya masih relevan dengan zaman sekarang. Cerpen kontemporer bercirikan absurd, irasional, membawa pembaruan, mendekonstruksi kaidah-kaidah sastra yang ada, tokoh-tokoh yang dihadirkan gelisah dan lain-lain. Namun, sebuah cerpen tidak harus memiliki semua ciri untuk bisa dikatakan kontemporer, jika sebuah cerpen mempunyai salah satu ciri, maka Ia bisa disebut dengan cerpen kontemporer.
2.2 Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra merupakan sambungan dari pendekatan Mimesis. Maksudnya adalah, pendekatan mimesis berupa melihat kenyataan yang disajikan dalam suatu karya, baik itu disajikan secara kompleks atau telah melalui proses inkubasi, dapat dianalisis dengan menggunakan teori sosiologi sastra.
Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Soio/socius berarti masyarakat, logi/logos berarti ilmu. Jadi, sosiologi berarti ilmu mengenali asal-usul dan pertumbuhan (evolusi) masyarakat, mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antar manusia dalam masyarakat.
Sedangkan sastra berasal dari bahasa Sangsekerta kata sas yang berarti mengarahkan, mengajar dan kata tra berarti alat, sarana. Jadi, sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar. Makna kata sastra bersifat lebih spesifik ketika membentuk kata kesusastraan, yaitu kumpulan hasil karya yang baik. Ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yaitu:
a) Pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek- aspek kemasyarakatannya.
b) Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek-aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya
c) Analisis secara langsung mengenai seberapa jauh kaitan langsung antara unsur-unsur karya dengan unsur-unsur masyarakat.
d) Sosiologi sastra adalah kaitan langsung antara karya sastra dengan masyarakat (Ratna, 2009: 1-3).
Pendekatan sosiologi menganalisis manusia dalam masyarakat, dengan proses pemahaman mulai dari masyarakat ke individu juga mengungkap karya sastra sebagai milik masyarakat (Ratna, 2007: 59).
Perilaku dan interaksi sosial merupakan akibat dan bagian sistem sosial, yang pada gilirannya merupakan bagian lingkungan sosial. Lingkungan sosial melibatkan berbagai komponen (fisik – non fisik) dalam bentuk tradisi (agama, bahasa, norma, hukum, pengetahuan, dan pola-pola perilaku lainnya). Perilaku dan interaksi sosial bertumpu pada kualitas dan tradisi di dalam kenyataan sosial, yang tidak disadari telah dimanfaatkan dan dimapankan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah perilaku sosial dan interaksi sosial dianggap sebagai ciri khas objek sosiologi.
Analisis yang dipakai dalam sosiologi sastra kali ini adalah analisis sosiologi teks untuk mengetahui strukturnya, kemudian digunakan untuk memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang ada di luar sastra. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra dipakai untuk memaparkan keterkaitan antar unsur pembangun karya dari aspek sosial yang ada.
2.3 Interaksi Sosial
Pengertian Interaksi Sosial
Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa mempunyai kecenderungan untuk hidup bersama dalam suatu bentuk pergaulan hidup yang disebut masyarakat. Dengan kata lain, manusia memerlukan hubungan dengan lingkungannya yang menggiatkannya, merangsang perkembangannya, atau yang memberikan sesuatu yang ia perlukan. Sehingga menyebabkan manusia dapat menggunakan lingkungannya, berpartisipasi dengan lingkungannya, menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau bertentangan dengan lingkungannya. Hubungan itu dapat juga disebut interaksi.
Interaksi dapat juga memengaruhi, mengubah, dan memperbaiki perilaku seseorang, atau sebaliknya yang menyebabkan kegiatan hidup seseorang menjadi bervariasi dan kompleks. Jika salah seorang melakukan aksi dan orang lain tidak melakukan reaksi, interaksi tidak akan terjadi. Oleh karena itu, interaksi sosial dapat terjadi apabila dua belah pihak saling berhubungan.
Roucek (dalam Abdulsyani: 2012:) menyatakan bahwa interaksi merupakan proses timbal balik, dengan mana satu kelompok dipengaruhi tingkah laku reaktif pihak lain dan dengan demikian ia mempengaruhi tingkah laku orang lain. Interaksi sosial menurut H. Bonner dalam bukunya Social Psychology, adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya.
Jadi, dengan kata lain, interaksi sosial terjadi karena adanya saling mengerti satu sama lain tentang maksud dan tujuan masing-masing pihak dalam suatu hubungan sosial. Tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat disebut interaksi.
Pada kontak sosial, dapat terjadi hubungan yang positif dan negatif. Kontak sosial positif dapat terjadi karena hubungan kedua belah pihak terdapat saling pengertian sehingga hubungan dapat mengarah pada suatu kerja sama. Sedangkan kontak sosial negatif dapat terjadi karena hubungan antara kedua belah pihak tidak melahirkan saling pengertian, sehingga mengakibatkan suatu pertentangan atau perselisihan.
2.4 Sinopsis Cerpen Orez Karya Budi Darma
Cerpen Orez menceritakan tentang sepasang suami istri yang memiliki anak abnormal. Tokoh utama memutuskan untuk menikahi Hester, walaupun Ia mengetahui bahwa Hester berasal dari keluarga yang aneh. Ia berasal dari keluarga yang cacat, anehnya semua saudaranya meninggal tapi tidak dengan Hester. Ia hidup dan menjadi aneh. Keanehan tersebut terlihat pada saat Hester kaget dan menggigit bibirnya serta mencekik dirinya sendiri. Lalu akhirnya Hester menjauhi tokoh utama, dan setelah itu pun ia meminta maaf dan akhirnya mau dinikahi oleh lelaki tersebut.
Setelah beberapa lama menikah, Hester hamil. Sayangnya bayinya gugur. Dan akhirnya ia pun kembali mengandung. Kehamilan kedua ini agak aneh dan tidak biasa. Perut Hester menjadi kuat dan lentur dan membuncit. Hester merasa takut tentang kehamilannya dan ingin menggugurkan janinnya. Tetapi suaminya tidak memperbolehkan, dan memang undang-undang kenegaraan tidak memperbolehkan warga untuk melakukan aborsi. Pada akhirnya, Hester melakukan sendiri hal-hal yang bisa menggugurkan kandungannya. Ia melompat dari wastafel ke bak mandi secara berulang-ulang, memukul diri sendiri, dan bahkan meminta suaminya untuk memukul perutnya dengan tongkat baseball, menendang seperti bola kaki, serta meninjunya. Namun, suaminya tidak mau dan semua usaha yang Hester lakukan menjadi sia-sia.
Akhirnya lahirlah anak laki-laki mereka yang diberi nama Orez. Ia terlihat cacat. Orez suka melompat-lompat, seperti binatang. Teriakan Orez dapat membuat gempa dan tangan kakinya mempunyai kekuatan yang tidak biasa. Tetangga tidak pernah menghina Orez dan keluarganya, mereka membolehkan anak-anak mereka bermain dengan Orez. Namun, rasa malu dan tidak enak kepada tetangga membuat keluarga Orze harus berpindah-pindah tempat tinggal.
Orez pernah dibawa oleh ayahnya ke sebuah tebing curam yang telah memakan korban jiwa karena mereka terpeleset, dengan harapan Orez pun akan menjadi korban berikutnya. Pada saat di perjalanan, Ia mengurungkan niatnya karena Ia menyadari bahwa cacatnya Orez bukan salahnya. Itu adalah kehendak Tuhan. Jadi Ia membatalkan niatnya untuk membunuh Orez.
2.5 Analisis Unsur Intrinsik Cerpen Orez Karya Budi Darma
Tema
Tema adalah ide pokok suatu cerita dan merupakan suatu landasan bagi pengarang untuk menulis ceritanya (Sayuti, 2000: 31). Dalam sebuah penulisan, sejatinya pengarang dalam menuangkan idenya tidak hanya ingin sekedar bercerita belaka, tapi ia mau menyampaikan sesuatu yang dianggapnya berguna kepada pembacanya. Keberadaan suatu cerita yang ditampilkan pengarang dapat berupa suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya, atau komentar tentang kehidupan.
Cerpen Orez karya Budi Darma ini menceritakan tentang segala permasalahan hidup yang dihadapi oleh sebuah keluarga. Konflik batin dan kenyataan hidup membuat mereka mengasingkan diri dari masyarakat yang sejatinya tidak pernah memusuhi mereka. Namun, sejatinya kesabaran masih tampak dari keluarga ini dalam menghadapi anaknya yang cacat. Mereka pun berusaha menjaga keharmonisan rumah tangga.
Tema yang diangkat dalam cerpen ini yaitu tentang kritik sosial terhadap masyarakat dalam menghadapi anak tidak normal dan ketika manusia menyikapi hawa nafsu mereka. Namun, hal itu dibungkus oleh pengarang dengan sudut pandang terbalik dari kenyataan melalui cerpen Orez, salah satu cerpen pada antologi cerpen yang berjudul Orang-Orang Blomingtoon.
Tokoh dan penokohan
a) Tokoh saya: sabar, tidak tegaan, setia, gigih dan bertanggungjawab.
Hal ini terdapat dalam kutipan:
“tahan dulu, kata saya. Tenangkan dirimu, nasihat saya”. Hal 106.
“…memang saya ingin menjadi ayah yang baik…” hal. 115.
b) Hester: rendah diri, mudah gugup, berprasangka buruk.
Hal ini terdapat dalam kutipan:
“tapi katanya perempuan semacam dia tidak pantas menjadi istri saya”. Hal. 98
“makin membesar perutnya, makin tampak was was menguasai wajahnya”. Hal. 101.
c) Orez: anak abnormal. Bukti dia anak abnormal terdalam dalam setiap paragraf di dalam cerpen dimulai ketika ia dilahirkan.
d) tetangga: baik dan pengertian.
Alur
Salah satu elemen terpenting dalam membentuk sebuah karya fiksi adalah plot cerita. Dalam analisis cerita, plot sering pula disebut alur. Plot atau alur ialah jalan cerita yang berupa peristiwa-peristiwa yang disusun satu-persatu saling berkaitan menurut hukum sebab akibat dari awal hingga akhir cerita. Jadi, peristiwa yang lain itu juga akan menjadi sebab bagi timbulnya peristiwa berikutnya dan seterusnya sampai akhir cerita (Suroto, 1989: 89).
Kemudian menurut Sayuti (2000: 31), alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan kausalitas. Secara garis besar alur dibagi dalam tiga bagian, yaitu awal, tengah, dan akhir.
Bagian awal struktur terdiri dari paparan, rangsangan, dan gawatan. Pada bagian awal cerpen Orez ini, penulis memaparkan gambaran situasi dan kondisi sebagai pijakan awal dimulainya cerita. Situasi yang digambarkan merupakan sebuah rangsangan untuk pengenalan masalah yang diangkat dalam cerita ini. Awal dari cerita dimulai dengan sorot balik yang diceritakan oleh toko saya tentang awal mula, penyebab atau akar dari permasalahan dalam kehidupannya, yaitu Orez. Hal ini dapat dibaca pada kutipan berikut:
“Umur Orez memang belum panjang, masih lima tahun lebih tiga bulan. …, sebelum saya kawin memang sudah ada pertanda bahwa keluarga saya akan celaka.”
Kemudian setelah pengenalan masalah tersebut, terjadilah konflik yang membuat jalan cerita ini menjadi menarik sehingga pembaca tenggelam dalam rasa simpati dan empati yang mendalam pada tokoh cerita ini. Masalah atau konflik terjadi ketika Hester menolak untuk dinikahi oleh tokoh Saya. Bukan karena tidak cinta, tapi karena ada penyakit dalam dirinya yang dianggapnya sebagai penyakit keturunan yang akan membuat rumah tangganya kelak akan dipenuhi masalah. Hal ini dapat dibaca pada kutipan berikut:
“Malamnya dia menelepon, mengajukan permohonan maaf, dan menyatakan terima kasihnya…, katanya, dia tidak hanya mencintai saya tapi juga menghormati saya. Tapi, katanya, perempuan semacam dia tidak pantas menjadi istri saya…”
Selain itu, konflik juga ditimbulkan ketika ayah tokoh perempuan menceritakan semua persoalan yang sebenarnya terjadi. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Mulai dari titik inilah Stevick membuka persoalan yang sebenarnya. Entah berapa jumlah anaknya, dia sendiri sudah lupa. Mungkin tujuh, mungkin delapan, mungkin sembilan, semua mati karena cacat kecuali Hester…”
Bagian tengah struktur terdapat klimaks. Pada bagian tengah ini permasalahan atau konflik yang terjadi mengalami puncaknya. Klimaks digambarkan ketika Hester berusaha menggugurkan anaknya dengan segala cara, tapi selalu gagal dan sampailah anak itu lahir. Selain itu, klimaks selanjutnya terjadi ketika Orez lahir yang membuat keluarga kecil ini begitu terpuruk kehidupannya dan harus berpindah dari satu tempat tinggal ke tempat tinggal lainnya. Bukan karena tetangga yang membuat mereka begitu, tapi karena tekanan batin dan juga kelakuan anaknya. Hal ini dapat dibaca pada kutipan berikut:
“Kali ini Hester berterus terang akan menggugurkan kandungannya. …, rencana pengguguran gagal karena perbuatan ini dianggap sebagai dajal oleh undang-undang negara Indiana… “
“Akhirnya, Hester sering mengunci diri di kamar mandi sampai lama. …, ketika saya intip, dia melompat dari lantai ke meja wastafel, dari sana melompat ke kakus, ke bibir bak, ke lantai, dan seterusnya.”
“Bagaikan seorang wasit tanpa sempritan, dia memerintahkan saya menendang perutnya. … kemudian, dia meminta saya memperlakukan perutnya sebagai landasan lompat jauh. Saya disuruh menjauh kemudian lari, memancangkan kaki saya pada perutnya kemudian melompat ke jendela. Saya tetap menolak.”
“Dan, begitu Hester ditelentangkan di ruang bersalin darurat, Orez lahir. Memang Orez lahir dengan selamat, tapi cacat. Kepalanya terlalu besar, kasar, dan benjol-benjol. Tangan dan kakinya juga terlalu besar, tapi tubuhnya terlalu kecil. Dan, setiap kali dia menangis, seluruh kota serasa mengalami gempa bumi hebat. Rupanya dia kelak akan mempunyai kekuatan luar biasa, lebih kuat daripada banteng ketaton.”
“Semua tetangga apartemen melakukan kami dengan baik. Kami tahu mereka tulus dan ikhlas, tapi kami merasa malu. …, beberapa kali kami pindah apartemen.”
Bagian akhir struktur terdiri dari leraian dan selesaian. Leraian digambarkan ketika berakhirnya konflik batin yang dialami tokoh karena menyadari bahwa walaupun anaknya tidak normal, tapi dia berhak hidup. Bahwa hidup bukan hanya tentang pelampiasan nafsu semata, tapi juga tentang kesiapan dalam menghadapi semua risiko. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Saya tahu bahwa Orez tidak pernah minta dilahirkan, karena itu dia mempunyai hak hidup. Saya tahu bahwa dia, andaikata dapat berpikir, tidak menginginkan hidup cacat. Karena sudah terlanjur cacat, siapa pun tidak bisa mengubah Orez.”
Berdasarkan struktur alur di atas, maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dalam alur flash back atau sorot balik. Dikatakan demikian karena perjalanan kisah dalam cerpen ini benar-benar bertumpu pada kisah sebelumnya atau dimulai dari awal munculnya masalah dalam cerita, yang mana kisah itu diceritakan oleh tokoh Saya.
Latar
a. Latar tempat:
- Rumah Hester
Hal ini terlihat dari pendeskripsian tokoh saya yang terdapat pada hal 99: “Dia mempersilakan saya duduk, lalu menanyakan apakah saya tidak keberatan jika disuguhkan kopi.” - Rumah sakit
“Akhirnya, pada suatu siang saya menerima telvon dari rumah sakit.” Hal 107 - Indiana, Kectucky, Ohio dan Chicago
“Rencana penguguran gagal karena perbuatan ini diaanggap sebagai dajal oleh undang-undang Negara bagian Indiana, Hester berhasrat melaksanakan keingunanya di Kentucky, ternyata undang, undang Negara bagian ini juga sama. Demikian juga Ohio. Kemudian tanpa saya antar, dia terbang ke Chicago.” Hal. 108 dan 109.
Pada kutipan tersebut, terlihat bahwa Hester ingin mengugurkan kandunganya dan ternyata di sebagian Negara penguguguran kandungan termasuk kedalam perbuatan yang dianggap dajal oleh undang-undang Negara, Hester pergi ke beberapa Negara untuk melancarkan keinginanya ia pergi ke Kentucky, Ohio, dan Chicago namun tetap namun hasilnya tetap nihil.
4. Kamar mandi
“Tapi, dari suara-suara yang saya dengar dari kamar mandi, saya menjadi curiga.” Hal 109
Pada kutipan halaman 109 ini, terlihat bahwa si Hester ini ingin melakukan berbagai cara untuk mengugurkan kandungannya termasuk melakukan perbuatan yang menyakiti dirinya sendiri yang dilakukan dikamar mandi dengan cara melompat dari lantai kemeja wastafel , melompat kekaskus, lalu bibir bak lalu kelantai dan begitu seterusnya.
5. Kamar
“…dengan sekali lompat dia berdiri ditepi tempat tidurnya, kemudian membuka bajunya dengan cekatan mempertontonkan perutnya kepada saya, kemudian mengeluarkan aba-aba supaya saya menjontos perutnya seperti jago tinju yang akan merebahkan lawannya.” Hal 111.
6. Kamar
“…dengan sekali lompat dia berdiri ditepi tempat tidurnya, kemudian membuka bajunya dengan cekatan mempertontonkan perutnya kepada saya, kemudian mengeluarkan aba-aba supaya saya menjontos perutnya seperti jago tinju yang akan merebahkan lawanya.” Hal 111.
7. Di dekat lift
Hal tersebut terlihat dalam kutipan hal 115:
“Dalam hitungan beberapa detik kami sudah sampai di dekat lift.”
8. Hutan
Hal ini terlihat dalam kutipan hal 130:
“Dia saya gandeng terus masuk ke dalam hutan.”
b. Latar waktu:
- Malam hari
Hal ini terlihat dalam kutipan:
Malamnya dia menelfon mengajukan permohonan maaf, dan menyatakan terima kasihnya yang tidak terhingga kepada saya. Hal. 98 - Siang hari
Hal ini terdapat pada kutipan berikut:
“Akhirnya, pada suatu siang saya menerima telvon dari rumah sakit”. Hal. 107 - Sore hari
Hal ini terlihat dalam kutipan:
“Pada suatu sore, menjelang pukul lima, hester mengatakan bahwa perutnya sakit”. Hal 115
c. Latar suasana:
- Haru dan penuh cinta
Suasana haru dan penuh cinta ini terlihat dalam kutipan yang terdapat di hal 98:
Malamnya dia menelfon mengajukan permohonan maaf, dan menyatakan terima kasihnya yang tidak terhingga kepada saya. Katanya, dia tidak hanya mencintai saya, tapi juga menghormati saya. - Putus asa
“Haster dan saya sudah memutuskan tidak mengharap mempunyai bayi lagi”. hal 107
Keputusasaan terlihat dalam kutipan halaman 10, yang mana tokoh Saya ini dan istrinya Hester memutuskan untuk tidak mau berharap agar mempunyai bayi lagi.
- Sedih
Kemudian dia bercerita bahwa istrinya sudah lama meninggal, bukan hanya karena sedih, melainkan juga karena putus harapan dan malu. Hal. 100
Suasana sedih terlihat dalam kutipan hal 100 berdasarkan pemaparan dan cerita masa lalu yang diceritakan oleh ayahnya Hester yaitu Stevick Price tampak kesedihan yang mendalam dalam pendeskripsianya tentang kenangan masa lalu yang pahit dan keam tentang kehidupanya bersama istrinya yang sudah meninggal. Kesedihan yang mendalam juga terlihat pada kutipan hal 110:
“… dia menjatuhkan diri ke dada saya, menangis tersedu-sedu, mengakui kesalahanya minta maaf dan menyatakan cintanya kepada saya.”
- Kekecewaan
Hal ini terlihat dalam kutipan:
“atas kegigihan saya menolak permohonanya dia menyatakan kecewa”. hal 112
Dalam kutipan hal 112 tersebut, Hester menyatakan kecewa kepada suaminya karena suaminya menolak semua perintahnya untuk menendang perutnya layaknya menendang dan memperlakukan perutnya layaknya bola soccer.
- Malu
“Karena malu, Hester tetap hijrah dari satu pekerjaan ketempat pekerjaan lain, demikian juga saya”. Hal 122
Dalam kutipan tersebut terlihat bahwa malu dengan tingkah anaknya Orez.
- Menegangkan
“Tepat pada saat saya mengambil pedang, dia melihat saya. Saya paksa dia untuk menelungkup, dia tetap menolak. Saya mengalah, saya biarkan dia melihat saya. Dan, ketika saya menarik pedang dari sarungnya, mata orez menjadi lebar.”
Hal. 130 - Penyesalan
“Keringat dingin membasahi tubuh saya, bukan hanya karena takut melainkan juga karena menyesal”. Hal. 130
Dalam kutipan di atas terlihat bahwa adanya rasa penyesalan di hati si saya ini karena sebelumnya sudah berusaha untuk mecoba untuk membunuh anaknya dengan pedang.
Sudut padang
Sudut pandang dalam cerpen ini adalah orang pertama serba tahu, hal itu terlihat dalam setiap paragrafnya penulis mendeskripsikan cerita yang selalu menggunakan kata saya yang mana si saya ini mengetahui semua seluk beluk dalam setiap cerita, kita dapat melihat salah satu kutipannya yaitu terdapat pada hal pertama dalam pembukaan cerita:
“Umur Orez memang belum panjang, masih lima tahun lebih tiga bulan. Tapi karena dia, baik istri saya maupun saya sudah sering pindah pekerjaan dan pindah apartemen delapan kali. Sebelum saya kawin memang sudah ada pertanda bahwa keluarga saya akan celaka.”
Hal itu juga terlihat dalam kutipan hal 124:
“Penyerangan terhadap Genet Tumblin, ini melahirkan babak baru dalam kehidupan kami. Hester sering menyendiri, takut saya dekati dan selamanya merasa malu dan bersalah terhadap saya.”
Pada kutipan di atas terlihat bahwa si Saya ini mengetahui semua perasaan yang ada dalam hati istrinya dan memaparkannya dengan pasti dan jelas.
Amanat
Amanat yang terdapat pada cerpen tersebut adalah bahwa sebagai manusia hendaknya selalu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan. Kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap takdir. Hiduplah dengan interaksi yang baik, meskipun ada kekurangan dari manusia lainnya, dan bersikap bijaklah dalam mengatasi hawa nafsu dan pernikahan.
2.6 Analisis Sosiologi Sastra pada Cerpen Orez Karya Budi Darma
Setelah dibaca dan mencoba memandang dari sudut sosiologi teks, ditemukan pandangan berbeda tentang orang-orang di luar sana atau di Luar Negeri, yaitu bahwa masih ada kehidupan yang memikirkan Tuhan, masih ada masyarakat yang sosialis bukan individualis dan masih ada orang yang bisa bertanggungjawab dalam segala hal, serta masih ada orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya di tempat yang terkenal dengan julukan kapitalis itu.
Tampaknya, teks cerpen Orez hadir membawa kritik terhadap interaksi sosial di Indonesia sendiri. Pesan implisit tersebut seperti, Indonesia seharusnya bisa lebih baik dari negara Barat. Indonesia, Negara dengan umat yang memiliki agama harusnya bisa melawan hawa nafsu, sehingga tidak lagi menambah angka amoral di Indonesia.
Selain itu, dalam teks juga menghadirkan kritik kepada orang-orang yang suka pilih-pilih dalam berteman, suka mengasingkan orang yang tidak sama dengan mereka atau punya kekurangan. Kritik tersebut hadir dalam bentuk teks cerpen yang menceritakan bahwa di Luar Negeri yang terkenal individualis ternyata justru lebih menjunjung tinggi kehidupan sosial, tidak membedakan fisik dan selalu rukun tetangga.
Tokoh Orez digambarkan sangat absurd di cerpen ini, karena Ia disajikan dalam bentuk manusia tapi memiliki keanehan-keanehan seperti bentuk wajah yang mengerikan, kemudian apabila Ia berteriak maka akan terjadi gempa di sekitarnya, kekuatan tangan dan kaki yang sangat kuat dapat membanting benda di sekitar dengan sekali pegang, dan hal lainnya.
Hal irasional tampak pula digambarkan pada tokoh Hester (ibu Orez), karena Hester semasa hamilnya, Ia melompat dari wastafel ke bak mandi, menyuruh suaminya menendang perutnya seperti bola kaki, meninju perutnya, dan hal lainnya. Tapi anehnya, janin itu tetap bertahan.
Hal yang tergambar dalam teks pula adalah, bahwa setiap manusia yang memiliki kekurangan pasti memiliki kelebihan. Jadi, jangan pernah malu untuk mempunyai anak yang cacat dan jangan malu berteman dengan mereka yang tidak normal, karena mereka butuh kasih sayang dan mereka punya kelebihan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Cerpen ini merupakan cerpen kontemporer yang lebih menitikberatkan kepada penokohan dari setiap tokoh. Cerpen ini berusaha menghadirkan sisi lain dari negara kapitalis yang tujuannya adalah untuk mengkritik negara pengarang sendiri, agar tersadar dari lamunan berkepanjangan, agar tidak lagi individualis dan agar bisa membuka mata terhadap sekitar, serta agar lebih meningkatkan keimanan.
Daftar Pustaka
Nurgiyantoro. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjahmada University Press
Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo
Sumardjo. 1988. Apresiasi Kesusteraan. Jakarta: Gramedia
Ratna, N.K. 2009. Stilistika. Bandung: Remaja Rosdakarya