Analisis Pendekatan Strata Norma dalam Puisi Papi Mewanti Karya Remy Sylado

Analisis Pendekatan Strata Norma dalam Puisi Papi Mewanti Karya Remy Sylado

Disusun Oleh:
Kelompok 11


Margaretha Yuliana T (I1B116031)
Ilza Dearmy Damta (I1B116032)
Egalora (I1B116033)

Dosen Pengampu:

Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.

Sovia Wulandari, SS., M.Pd.

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Puisi merupakan karya sastra yang memiliki unsur estetis atau keindahan. Dalam puisi terdapat hal-hal yang menarik atau pelajaran yang dapat diambil oleh pembaca. Karena puisi merupakan ekspresi pengarang terhadap keadaan atau pengalaman dan daya imajinasi pengarang terhadap keadaan. Menurut Jassin (Situmorang, 1980:7) puisi merupakan penghayatan kehidupan manusia totalitas yang dipantulkan oleh pendapatnya dengan segala pribadinya, pikirannya, perasaannya, kemauannya, dll. Oleh karena itu dari puisi seorang pembaca dapat memetik dan mengambil manfaat dan pengetahuan serta pengaalaman dari pengarang.


Pada sebuah puisi terkadang apa yang dipikirkan pengarang berbeda dengan interpretasi dari pembaca. Memang dalam apresiasi sastra hal tersebut menjadi sah karena setiap orang atau pembaca memiliki daya interpretasi sendiri sesuai dengan keadaan dan pengalamannya dalam memahami sebuah karya sastra. Untuk dapat memahami sebuah karya sastra diperlukan pendekatan agar dapat memetik makna yang disampaikan pengarang. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami makna tersebut. Diantaranya adalah pendekatan strata norma. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pendekatan strata norma dan penerapannyadalam menganalisis puisi Papi Mewanti Karya Remy Sylado.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apakah pengertian pendekatan strata norma?
  2. Bagaimana penerapan pendekatan strata norma dalam menganalisis puisi Papi Mewanti Karya Remy Sylado?

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui pengertian pendekatan strata norma.
  2. Mendeskripsikan penerapan pendekatan strata norma dalam menganalisis puisi Papi Mewanti Karya Remy Sylado.

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Lapis Norma dalam Puisi

Dalam melakukan analisis terhadap sebuah puisi diperlukan pendekatan, salah satunya pendekatan strata norma. Pendekatan strata norma adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan menganalisis dengan berbagai tahap atau lapis. Hal ini dilakukan karena karya sastra memiliki kekhasan dan kekompleksitasan tersendiriUntuk menganalisis puisi setepat-tepatnya perlulah diketahui apakah sesungguhnya (wujud) puisi itu. Dikemukakan oleh Wellek (1968:150) bahwa puisi itu adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman. Karena itu, puisi (sajak) sesungguhnya harus dimengerti sebagai struktur norma-norma. Pengertian norma ini menurut Rene Wellek (1968:150-151) jangan dikacaukan dengan norma-norma klasik, etika, ataupun politik.


Karya sastra itu tak hanya merupakan satu sistem norma, melainkan terdiri dari beberapa starata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma di bawahnya. Rene Wellek (1968:151) mengemukakan analisis Das Literarische Kunstwerk (1931) ia menganalisis norma-norma itu sebagai berikut.
Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound Stratum). Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar itu ialah rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang. Tetapi, suara itu bukan hanya suara tak berarti. Suara sesuai dengan konvensi bahasa, disusun begitu rupa hingga menimbulkan arti. Maka, lapis bunyi itu menjadi dasar timbulnya lapis kedua, yaitu lapis arti.
Lapis arti (units of meaning) berupa rangkaian fonem, suku kata, frase dan kalimat. semuanya itu merupakan satuan-satuan arti. Rangkaian kalimat menjadi alinea, bab dan keseluruhan cerita ataupun keseluruhan sajak.


Rangkaian satuan-satuan arti ini menimbulkan lapis ketiga, yaitu berupa latar,pelaku, obyek-obyek yang dikemukakan dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan dan dua lapis norma lagi yang sesungguhnya menurut Wellek dapat dimasukkan dalam lapis yang ketiga. Lapis tersebut sebagai berikut.
a. Lapis “dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkandung dalamnya (implisit).
b. Lapis “metafisis”, berupa sifat-sifat metafisis (yang sublim, yang tragis, mengerikan atau menakutkan dan yang suci), dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca.

Papi Mewanti Anak
Karya Remy Sylado
Nak, jamannya sudah terbalik
Masa silam bukan yang terbalik
Tidak usah jadi pemimpin
Lebih aman jadi pemimpi
Pandai-pandai bilang ya’
Jangan sekali-kali bilang ta’
Kepada bosmu jangan tulus
Malah perlu akal bulus
Korupsi perlu kau jalani
Sebab ia adalah budaya kini
Cari istri yang membawa mujur
Tak perlu yang berbakat jujur
Jangan main cinta dengan istri orang
Sejauh suaminya tidak mengetahui
Orang lain boleh miskin menderita
Asal kau kaya sendiri habis perkara
Kalau kau masuk neraka nanti
Itu di luar tanggungjawab Papi.

2.2 Analisis Puisi Papi Mewanti Anak
a. Lapis Bunyi
Dalam puisi Papi Mewanti Anak pada bait pertama sampai kesembilan memiliki sajak yang sama. Kecuali pada bait kedua dan ketujuh. Yaitu pada bait pertama, ketiga, keempat, kelima, keenam, kedelapan, dan kesembilan.
Nak, jamannya sudah terbalik
Masa silam bukan yang terbalik
Pada bait pertama bersajak ik-ik.

Pandai-pandai bilang ya’
Jangan sekali-kali bilang ta’
Pada bait ketiga bersajak a-a.

Kepada bosmu jangan tulus
Malah perlu akal bulus
Pada bait keempat bersajak us-us.

Korupsi perlu kau jalani
Sebab ia adalah budaya kini
Pada bait kelima bersajak i-i.

Cari istri yang membawa mujur
Tak perlu yang berbakat jujur
Pada bait keenam bersajak ur-ur.

Orang lain boleh miskin menderita
Asal kau kaya sendiri habis perkara
Pada bait kedelapan bersajak a-a
Kalau kau masuk neraka nanti
Itu di luar tanggungjawab Papi.
Pada bait kesembilan bersajak i-i.

b. Lapis arti
Nak, jamannya sudah terbalik
Anakku , zaman sekarang yang sudah terbalik
Masa silam bukan yang terbalik
Bukan zaman dulu yang terbalik
Tidak usah jadi pemimpin
Tidak perlu menjadi seorang pemimpin
Lebih aman jadi pemimpi
Lebih aman menjadi seorang yang hanya bermimpi
Pandai-pandai bilang ya’
Teruslah mengatakan ya
Jangan sekali-kali bilang ta’
Jangan pernah mengatakan tidak
Kepada bosmu jangan tulus
Terhadap bosmu janganlah bersikap tulus
Malah perlu akal bulus
Justru kamu perlu memiliki tipu muslihat yang licik
Korupsi perlu kau jalani
Kamu perlu melakukan korupsi
Sebab ia adalah budaya kini
Karena korupsi sekarang menjadi budaya
Cari istri yang membawa mujur
Carilah istri yang membawa nasib baik
Tak perlu yang berbakat jujur
Tidak perlu mencari istri yang bersifat jujur
Jangan main cinta dengan istri orang
Jangan berselingkuh dengan istri orang
Sejauh suaminya tidak mengetahui
Selama suaminya tidak mengetahuinya
Orang lain boleh miskin menderita
Orang lain boleh hidup miskin dan menderita
Asal kau kaya sendiri habis perkara
Asalkan kamu hidup kaya sendiri masalah selesai

Kalau kau masuk neraka nanti
Tapi nanti jika kamu masuk neraka
Itu di luar tanggungjawab Papi.
Ayah tidak mau tanggung jawab.

Pada bait pertama, si Papi mulai bercerita kepada anaknya. Kemudian pada bait kedua sampai dengan bait kedelapan, tokoh Papi menasihati dengan nasihat-nasihat yang justru tidak semestinya. Mungkin di sini Remy Sylado menggunakan satire (ejekan) untuk menyindir. Tiap bait dikiaskan sebagai dosa-dosa kecil yang dilakukan, demi keberlangsungan hidup di dunia. Namun, pada bait terakhir si Papi berpesan, jika anaknya masuk neraka nanti karena telah melakukan dosa-dosa kecil sebelumnya bukan lagi tanggung jawabnya.


c. Lapis Implisit
Puisi berjudul Papi Mewanti Anak karya Remy Sylado ini isinya yang sebenarnya berupa nasihat – nasihat namun di sampaikan dengan cara yang tidak semestinya, yaitu dengan membalikkan maknanya. Dalam puisi ini pengarang sebenarnya ingin menyampaikan nasihatnya kepada anak-anak zaman sekarang, namun disampaikan dengan makna yang sebaliknya seperti sindiran. Jadi maksud pengarang yang sebenarnya dalam puisi ini adalah untuk memberitahu si anak apa saja yang dilarang sekaligus menasihati si anak.


Maksud sebenarnya :
Anakku zaman sekaranglah yang sudah terbalik, bukan zaman dulu yang terbalik. lebih baik hanya menjadi orang yang bermimpi, daripada menjadi seorang pemimpin. Berhati-hatilah dalam mengatakan ya dan tidak. Berbuat tuluslah kepada bosmu, dan jangan memiliki tipu muslihat kepadanya. Meskipun kini korupsi sudah menjadi budaya, namun jangan pernah kau melakukannya. Carilah istri yang memiliki kejujuran, jangan hanya karena membawa nasib baik. Janganlah engkau hidup kaya dan bahagia sendiri, namun yang lain miskin dan menderita.

d. Lapis Metafisis
Lapis Metafisis dalam puisi Papi Mewanti Anak adalah pada masa sekarang banyak orang yang terjerumus pada hal yang salah yang entah bagaimana kesalahan itu seperti sudah membudaya. Contohnya korupsi, semakin kemari bukannya orang jera melakukan tindak korupsi, justru makin banyak orang yang ketahuan melakukan tindak korupsi. Untuk itu Remy Sylado mengarang puisi Papi Mewanti Anak ini sebagai bentuk nasihat kepada anak-anak muda zaman sekarang, sekaligus sindiran pada orang-orang yang telah melakukan perbuatan yang salah agar mereka cepat sadar.

BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Pendekatan strata norma adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan menganalisis dengan berbagai tahap atau lapis. Hal ini dilakukan karena karya sastra memiliki kekhasan dan kekompleksitasan tersendiri. Menurut beberapa pendapat terdapat tiga lapis atau tahap dalam melakukan analisis berdasarkan strata norma.

  1. Lapis norma pertama adalah lapis bunyi.
  2. Lapis norma kedua adalah lapis arti.
  3. Lapis norma ketiga adalah lapis unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi.
    Dalam puisi Papi Mewanti Anak tersebut terdapat makna yang disampaikan pengarang, yaitu untuk mencapai sesuatu yang diinginkan manusia perlu berusaha. Kadang dalam menjalani kehidupan manusia mengalami rasa khawatir karena takut jika usaha yang dilakukannya berakhir dengan kegagalan. Tetapi jika manusia mau berusaha, dan mengambil pelajaran dari kegagalan manusia bisa menjadi bijak dan meraih cita-cita yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/15560/log-apr2006-%20%286%29.pdf?sequence=1&isAllowed=y
http://poempuisi-poempuisi.blogspot.com/2008/10/papi-mewanti-anak-by-remy-sylando.html?m=1
http://eprints.ung.ac.id/8216/

Posted in Puisi Kontemporer | Leave a comment

Analisis Semantik pada Cerpen Kado Pernikahan Karya Helvy Tiana Rosa Pendekatan Religiusisme.

Analisis Semantik pada Cerpen Kado Pernikahan Karya Helvy Tiana Rosa Pendekatan Religiusisme.

Disusun Oleh:

Kelompok 10


Ridwan Wahed Affani (I1B116026)
Mega Sri Delia (I1B116029)
Imanda Leagyaria Sukowati (I1B116030)

Dosen Pengampu:

Dr. Drs. Maizar Karim. M. Hum.
Sovia Wulandari. S,Hum,. M.pd.

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Sastra Indonesia Kontemporer di dalam kamus bahasa Inggris diistilahkan sebagai Contemporery Indonesia Literature. Istilah sastra kontemporer di dalam bahasa Inggris diistilahkan sebagai Contemporery Literature. Sastra Indonesia Kontemporer itu diartikan sebagai sastra yang hidup di Indonesia pada masa mutakhir atau sastra yang hidup di Indonesia pada masa kini,, atau sastra yang hidup di Indonesia pada masa mutakhir atau sastra yang hidup di Indonesia pada zaman yang sama. Pengertian sastra Indonesia Kontemporer itu bemakna sangat relatif. Kerelatifan makna sastra kontemporer itu disebabkan oleh sejarah sastra Indonesia yang belum panjang.


Pengertian sastra yang benar-benar mutakhir dalam arti hari ini hidup dan esok akan mati, ada pula sastra yang sekarang hidup dan tak sanggup terus bernafas entah sampai kapan. Pengertian mutakhir tidak mungkin semata dibatasi oleh waktu khusus untuk sastra yang benar-benar hebat. Meskipun demukian, sedikit banyak sastra mutakhir merupakan ancang-ancang bagi sastra masa depan. Pada kesempatan ini penulis memilih cerita pendek kontemporer sebagai objek yang akan penulis analisis.


Cerita pendek Indonesia kontemporer adalah cerita pendek yang berisikan kehidupan manusia Indonesia yang terasing dari dunianya karena gencetan suasana metropois, yang pemberontak, yang berada di tengah-tengah pergulatan nilai-nilai saing bertentangan yang membuktikan bahwa manusia mempunyai potensi-potensi unik. Cerpen kontemporer yang akan dianalisis adalah cerpen Kado Pernikahan Karya Helvi Tiana Rosa menggunakan analisis semantik pendekatan Religiusisme. Semantik adalah subdisplin linguistik yang membicarakan makna (Pateda, 2010:7). Objek kajiannya adalah makna. Makna yang menjadi objek semantik dapat dikaji dari banyak segi terutama teori atau aliran yang berada dalam linguistik (Pateda, 2010:65).


Dalam khazanah kesusastraan Indonesia, kehadiran sastra beraliran religius telah memberikan corak tersendiri. Bahkan, Ajip Rosidi mengatakan bahwa sastra modern Indonesia saat ini merupakan buah dari penyebaran karya sastra religius (Islam) di era kesusastraan lama. Penyebaran agama Islam dengan karya sastranya telah mendorong meluasnya peradaban tulis menulis dalam mayarakat Indonesia. Hal ini dapat dibandingkan dengan kondisi sastra sebelum Islam datang yang hanya dikuasai dan dipahami oleh kalangan istana semata.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas terdapat rumusan masalah, yaitu:
1) Apa itu cerpen kontemporer?
2) Bagaimana analisis semantik cerpen “Kado Pernikahan” karya Helvy Tiana Rosa dengan pendekatan religiusisme?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah adalah mengetahui pengertian cerpen kontemporer dan untuk mengetahui bentuk analisis semantik cerpen “Kado Pernikahan” karya Helvy Tiana Rosa dengan pendekatan religiusisme?

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Cerita Pendek Indonesia Kontemporer
Cerita pendek adalah salah satu cerita rekaan atau fiksi yang sudah tua usianya. Dalam buku Tifa Penyair dan Daerahnya, HB Yassin mengemukakan bahwa cerita pendek ialah cerita yang pendek Jassin lebih jauh mengungkapkan bahwa tentang cerita pendek ini orang boleh bertengkar, tetapi cerita yang seratus halaman panjangnya sepuluh atau duapuluh halaman asih bisa disebut sebagai cerita pendek, tetapi ada juga cerita pendek yang panjangnya hanya satu halaman. Pengertian yang sama dikemukakan oleh sumardjo dan saini di dalam buku Apresiasi kesusastraan, bahwa cerita pendek adalah cerita pendek, tetapi hanya melihat ari fisiknya yang pendek orang belum dapat menetapkan sebuah cerita yang pendek adalah sebuh cerpen.


Semenjak Muhammad Kassim dan Suman HS hingga cerpenis 1960-an dalam penciptaan dan penulisan tetap menerapkan konsep cerita pendek konvensional. Cerita pendek konvensional adalah cerita yang struktur ceritanya sesuai dengan konvensi yang ada. Tetap dengan perkembangan jenis atau genre sastra yang lain, para cerpenis juga melakukan inovasi. Cerita –cerita pendek kontemporer muncul tidak selalu mengikuti pola cerita- cerita pendek yang ada, tetapi mereka berusaha menemukan pengucapan diri dengan inovasi yang matang. Dalam sastra indonesia modern, cerita pendek kontemporer itu dimulai berkembang pada 1970-an. Pada masa ini, pertumbuhan kreatifitas yang luar biasa terjadi dalam penulisan crita pendek. Cerita pendek mempunyai tedensi yang baru baik dari segi pengucapan maupun tama-tamanya.


Konsep sastra Indonesia kontemporer, khususnya konsep cerita pendek kontemporer dapat dikatakan sebagai protes terhadap kepincangan-kepincangan masyarakat pada awal industrialisasi. Disamping itu, protes terhadap pengaruh negatif yang disebabkan oleh perkembangan ilmu dan pengetahuan dan teknologi. Akibat langsung pengaruh negatif itu dalah terjadinya krisis sosial, krisis politik. Krisis ekonomi dan krisisi nilai. Krisis itu menimbulkan anarkisme, skeptisme, individualisme, ketidak tentuan nilai dan sistem. Hal yang melatar belakangi munculnya cerita pendek kontemporer itu dalah pergeseran nilai kehidupan secara menyeluruh. Hal itu ditandai oleh semangat modern. Sedangkan semangat kontemporer lebih dijiwai oleh persoalan kehidupan manusia.


Berdasarkan pengertian cerita pendek Indonesia kontemporer dapat diuraikan sebagai berikut : Pertama, cerita pendek Indonesia kontemporer berciri anti logika. Cerita pendek anti logika diartikan sebagai menyalahi dasar logika manusia pada umumnya. Kedua, cerita pendek Indonesia kontmporer berciri mengabaikan plot atau alur cerita. Pola urutan cerita pendek konvenional seperti pembukaan, klimaks, antiklimaks tidak diikiti lagi. Plot atau alur cerita, cerita pendek indonesia kontemporer bersifat zigzag atau semeraut.

Ketiga, cerita pendek Indonesia kontemporer berciri absurd atau serba aneh. Cerita pendek dikatakan absurd karena berbagai karakteristiknya seperti alaur dan peristiwanya serba tidak jelas, tidak menentu, tidak logis menurut urutan logika seharihari. Keempat, cerita pendek Indonesia kontemporer berciri anti tokoh, atau tokohnya jelas atau tidak jelas bukan persoalan. Tokoh-tokoh cerita adalah tokoh-tokoh cerita imajiner, manusia yang tangguh, tahan terhadap benturan waktu, keadaan dan situasi. Kelima, cerita pendek Indonesia kontemporer berciri terasing dan serba kompleks. Ciri-ciri ini dapat dibaca dalam cerita pendek yang berisi realitas kehidupan sosial dan ekonomi yang serba kompleks.

2.2 Semantik
Semantik berasal dari bahasa Yunani semantikos, artinya studi tentang makna. Lehrer dalam Pateda (2010:6) mengatakan bahwa semantik adalah studi tentang makna. Semantik berfokus pada hubungan antara penanda seperti kata, frase, tanda dan simbol. Dalam pengertian umum semantik adalah disiplin ilmu yang menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Makna leksikal adalah makna unit semantik yang terkecil yang disebut leksem, sedangkan makna gramatikal adalah makna yang terbentuk dari penggabungan satuan-satuan kebahasaan.


Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa semantik adalah ilmu yang mengkaji tentang makna yang terkandung di dalam kata atau kelompok kata. Semantik adalah subdisplin linguistik yang membicarakan makna (Pateda, 2010:7). Objek kajiannya adalah makna. Makna yang menjadi objek semantik dapat dikaji dari banyak segi terutama teori atau aliran yang berada dalam linguistik (Pateda, 2010:65).

2.3 ALIRAN RELIGIUSISME
Aliran religiusme adalah suatu aliran yang mementingkan nilai-nilai keagamaan atau renungan tentang Tuhan dan manusia di hadapan-Nya. Sastra religius dimiliki oleh setiap agama, juga oleh sastrawan yang punya penghayatan personal terhadap Tuhan. YB. Mangun Wijaya pernah mengemukakan bahwa segala sastra adalah religius (Mangunwijawa, 1988: 12). Religius diambil dari bahasa Latin relego, yang berarti manusia yang berhati nurani serius, saleh, teliti dan penuh dengan pertimbangan spiritual.


Dapat juga diartikan sebagai perasaan rindu, perasaan ingin selalu bersama dengan sesuatu yang abstrak, tetapi keberadaannya sangat riil (Noor, 2011: 83). Religius lebih melihat aspek yang berada di dalam lubuk hati, riak getaran hati nurani pribadi, sikap personal yang sedikit banyak merupakan misteri bagi orang lain. Dengan demikian sikap religius ini lebih merujuk pada pribadi seseorang dengan Khaliqnya, bertata laku sesuai dengan karsa Tuhan. Dituangkan dalam karya sastra menjadi sastra religius ataupun sering disebut dengan sufisme dalam sastra karena sastra yang demikian merupakan usaha pencarian Tuhan.


Pada khazanah kesusastraan Indonesia, kehadiran sastra beraliran religius telah memberikan corak tersendiri. Bahkan, Ajip Rosidi mengatakan bahwa sastra modern Indonesia saat ini merupakan buah dari penyebaran karya sastra religius (Islam) di era kesusastraan lama. Penyebaran agama Islam dengan karya sastranya telah mendorong meluasnya peradaban tulis menulis dalam mayarakat Indonesia. Hal ini dapat dibandingkan dengan kondisi sastra sebelum Islam datang yang hanya dikuasai dan dipahami oleh kalangan istana semata.


Karya sastra yang beraliran religius terus tumbuh subur dalam khazanah kesusastraan Indonesia. Sastra menjadi salah satu sarana untuk mengungkap perasaan religiusitas yang dialami oleh para sastrawan. Pada tahun 1960 hingga 1970 karya-karya sastra religius semakin mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, oleh karenanya penulisan sastra religius sudah mulai tidak didominasi oleh sastrawan muslim saja. Sastrawan non-muslim seperti W.S Rendra (sebelum masuk Islam), Iwan Simatupang dan JE Tatengkeng pun juga mulai menulis karya-karya sastra yang bernapaskan religiusitas. Namun, seperti yang telah dikemukakan oleh Teeuw, sastra non-Islam (Kristen) tidak banyak berkembang dalam sastra Indonesia Modern. Hal ini disebabkan kebudayaan Indonesia umumnya tidak banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Kristen, seperti yang terjadi di Eropa. Oleh karena itulah, perkembangan sastra yang beraliran religius di Indonesia lebih banyak didominasi oleh karya-karya sastra yang bernapaskan religius Islam.

2.4 SINOPSIS CERPEN “KADO PERNIKAHAN”
Sejak awal ketika dilamar Nisa jujur pada Mas Pram, ia mengungkapkan segala kekuranganmya. Hal ini sangat jarang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Karena mereka menganggap, tidak baik membuka aib sendiri dan mereka juga khawatir kalau mereka mengungkapkan kekurangannya seperti yang dilakukan Nisa, yang berniat melamarnya membatalkan niatnya. Padahal yang mereka lakukan itu yang salah dan seharusnya bertindak seperti Nisa sehingga dalam menjalani kehidupan yang baru tidak ada salah paham sehingga kemungkinan bercerai sangat kecil. Dan yakinlah bahwa jodoh itu adalah cerminan kita sendiri.


Demi menjadi seorang istri yang baik, Nisa harus meninggalkan kebiasaan buruknya ketika ia masih bersama orang tuanya,dia berusaha menjalankan itu semua dan meninggalkan pola hidup manja ketika tinggal dengan orang tua serta dia berusaha lebih baik. Dia harus melakukan semua kewajiban istri s. Dia juga tidak malu belajar akan kekurangannya itu, sehingga pada hari setahun pernikahan mereka, ia sudah mengalami perubahan yang drastis.


Sosok Mas Pram mempunyai sifat yang patut di contoh, karena dia melamar atau memperistri seseorang tidak dilihat dari sisi materi atau ketrampilan tertentu karena menurutnya hal-hal seperti itu bisa dipelajari. Dia lebih mementingkan hal-hal yang benar-benar mendasar sebagaimana tujuan kita di dunia ini hanyalah tempat persinggahan menuju alam abadi-akhirat. Setelah menikah, ia konsekwen dengan janjinya untuk menerima Nisa dengan kekurangannya. Walaupun masakan istrinya bisa dikatakan tidak enak, tetepi ia tetap menghargai usaha istrinya , hal itu ditunjukkan dengan tindakannya yang selalu makan di rumah.


Tepat setahun pernikahan mereka,mereka saling memberi hadiah tanpa kesepakatan terlebih dahulu. Hal ini yang jarang terjadi, karena hari setahun tepat pernikahan mereka, mereka anggap momen yang tepat untuk intropeksi sekaligus motivasi. Sang istri memberikan kado dari hasil kerja kerasnya sehingga dia dapat memberikan kado sepotong baju yang dibutnya sendiri, sedangkan Mas Pram memberi kertas yang didalam nya berisikan penghargaan atas kerja keras Nisa.

2.5 ANALISIS CERPEN “KADO PERNIKAHAN”
Dalam cerpen “kado pernikahan,” yang menyebabkan kekontemporeran cerpen tersebut yaitu antitokoh. Cerpenis menggambarkan watak tokoh yang sangat luar biasa, yang seharusnya dilakukan oleh setiap individu muslim. Cerpen ini membahas bagaimana yang dilakukan muslim dan muslimah setelah pernikahan atau suami istri. Oleh karena itu dalam mengalinisis makna cerpen ini penulis menggunakan pendekatan relegiusisme. Berikut adalah bentuk analisinya:
“Dulu waktu pertama kali Mas Pram melamarku sudah ku katakana padanya bahwa aku, katakanlah sama sekali hampir sama sekali tak menguasai keterampilan kewanitaan. Sungguh aku nggak bisa masak, nggak bisa jahit, merawat tanaman, atau prakarya apapun namanya” (Cerpen hlm 1).


Nisa jujur ketika dilamar Mas Pram, ia mengungkapkan segala kekuranganmya. Hal ini sangat jarang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Karena mereka menganggap, tidak baik membuka aib sendiri dan mereka juga khawatir kalau mereka mengungkapkan kekurangannya seperti yang dilakukan Nisa, yang berniat melamarnya membatalkan niatnya.


Padahal yang mereka lakukan itu yang salah dan seharusnya bertindak seperti Nisa sehingga dalam menjalani kehidupan yang baru tidak ada salah paham sehingga kemungkinan bercerai sangat kecil. Dan yakinlah apabila kita bertindak seperti Nisa, Insya Allah keluarga kita akan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah karena ini lah yang sesuai aturan Allah yang menciptakan kita dan otomatis yang menciptakan kita lebih tau apa yang terbaik untuk yang diciptakannya, walaupun banyak hamba-Nya yang tidak memahami dan banyak juga yang mengingkari-Nya dengan mengikuti aturan yang dibuat manusia dan akhirnya mengalami kekacauan dalam menjalankan hidup.


“Dua minggu setelah menikah, praktis aku mengurus semua pekerjaan rumah tangga dan mengurangi jam terbangku selama ini. Kalau ada waktu luang, aku buka resep makanan,mencari menu yang sehat, lezat,dan murah, lantas mengolahnya”. (Cerpen hlm 2).


“Bagaimana, Bu Digdo, Bu Atin? Bagaimana, nih, Bu Roro. Setuju ndak dengan usul saya tadi?” aku tersenyum. Jadi ibu-ibu saya ajari baca Al-Qur’an. Gratis ya, Bu. Allah saja yang membalas saya, tetapi sehabis kita belajar Iqra’, bagaimana kalau Ibu-ibu gentian nolong saya? Mau nggak, Bu?”(Cerpen hlm 5)
Nisa harus meninggalkan kebiasaan buruknya ketika ia masih bersama orang tuanya,dia berusaha menjalankan itu semua dan meninggalkan pola hidup manja ketika tinggal dengan orang tua serta dia berusaha lebih baik. Dia harus melakukan semua kewajiban istri s. Dia juga tidak malu belajar akan kekurangannya itu, sehingga pada hari setahun pernikahan mereka, ia sudah mengalami perubahan yang drastis.


“Dia Cuma tertawa dan mengatakan bahwa manusia itu berproses dan bisa bila belajar. “Pokonya yang paling penting kita bisa jihad bareng!” katanya waktu itu. (Cerpen hlm 1).


“Mau makan masakan Nisa,” katanya. Memang sejak awal pernikahan Mas Pram selalu istiqamah untuk makan di rumah dan tampak menghargai usahaku. (Cerpen hlm 7)

Sosok Mas Pram mempunyai sifat yang patut di contoh, karena dia melamar atau memperistri seseorang tidak dilihat dari sisi materi atau ketrampilan tertentu karena menurutnya hal-hal seperti itu bisa dipelajari. Dia lebih mementingkan hal-hal yang benar-benar mendasar sebagaimana tujuan kita di dunia ini hanyalah tempat persinggahan menuju alam abadi-akhirat. Setelah menikah, ia konsekwen dengan janjinya untuk menerima Nisa dengan kekurangannya. Walaupun masakan istrinya bisa dikatakan tidak enak, tetepi ia tetap menghargai usaha istrinya, hal itu ditunjukkan dengan tindakannya yang selalu makan di rumah.


“Mas Pram nyengir. “Baju buatan Nisa?” katanya sekali lagi. Langsung dengan riang dicobanya baju itu. “Besok Mas Pram pakai”. (Cerpen hlm 8).


“Ia membeli kertas dengan penghargaan dan menulisnya dengan tinta warna emas untukku”. (Cerpen hlm 8).


Tepat setahun pernikahan mereka, mereka saling memberi hadiah tanpa kesepakatan terlebih dahulu. Hal ini yang jarang terjadi, karena hari setahun tepat pernikahan mereka, mereka anggap momen yang tepat untuk intropeksi sekaligus motivasi. Sang istri memberikan kado dari hasil kerja kerasnya sehingga dia dapat memberikan kado sepotong baju yang dibuatnya sendiri, sedangkan Mas Pram memberi kertas yang didlam nya berisikan penghargaan atas kerja keras Nisa.

BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Cerpen kontemporer merupakan cerpen yang memiliki kekhasan gaya ucap sendiri tanpa memperhatikan pola-pola atau kaidah-kaidah penulisan cerpen secara umum. Cerpen “kado pernikahan” karya Helvy Tiana Rosa termasuk kedalam cerpen kontemporer. Cerpen “kado pernikahan” dianggap sebagai cerpen kontemporer karena adanya unsur antitokoh dalam cerpen tersebut. Cerpenis menggambarkan watak tokoh yang sangat luar biasa, yang seharusnya dilakukan oleh setiap individu muslim. Cerpen ini membahas bagaimana yang dilakukan muslim dan muslimah setelah pernikahan atau suami istri. Setelah menganalisis cerpen “kado pernikahan”, penulis juga menemukan banyaknya istilah islami pada teks cerpen tersebut. Ungkapan ataupun istilah tersebut tidak terlepas dari tema yang penulis cerpen usung tentang pernikahan, disamping itu juga latar dan nuansa cerpen tersebut sangat islami. Konsikuensi logisnya banyak istilah kata dan ungkapan bahasa Arab yang penulis cerpen gunakan seperti, kata Al-quran, iqra dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA
Pateda, Mansoer. 2010. Semantic Leksikal. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Aminuddin. 2015. Pengantar Studi tentang Makna. Bandung: Sinar Baru
Tiana Rosa, Helvi. 2004. “Kado Pernikahan”, dalam “Kado Pernikahan” (Kumpulan Cerpen). Jakarta: Syamil Cipta Media
Purba, Antilan. 2001. Sastra Indonesia Kontemporer. Medan: USU Press.
Adib. 2011. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Posted in Cerpen Kontemporer | Leave a comment

Analisis Stilistika Puisi Solitude Karya Sutardji Calzoum Bachri

Analisis Stilistika Puisi Solitude
Karya Sutardji Calzoum Bachri

Disusun oleh kelompok 9
Lu’lu’ Nashiroh (I1B116025)
Septiyani (I1B116026)
Tanti Justia Reffianti (I1B116027)

Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd.

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019

LANDASAN TEORI

1.Puisi dan Ciri Teks Puisi
Puisi merupakan bentuk karya sastra yang menyampaikan sebuah kata-katanya dalam bentuk lain, baik dari segi tipografi dan segi visual. Menurut H.B. Jassin menyatakan bahwa puisi adalah sebuah pengucapan dengan sebuah perasaan yang didalamnya mengandung sebuah fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan. Menurut Ralph Waldo Emerson menyatakan bahwa puisi ialah mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata yang sedikit mungkin.


Puisi secara umum ditulis dengan menekankan kepada larik-larik sehingga jarang ditulis sampai pada baris pinggir kanan kertas. Kata-kata yang digunakan di dalam puisi tidak sama dengan kata sastra seperti prosa yang penulisannya sampai ke ujung baris.


Menurut Herbert (dalam Semi, 2008: 139), “Poetry is predominantly intuitive, imaginative, and synthetic” maksudnya ialah, puisi lebih dominan sifat intuitif, imajinatif, dan sintetik. Dominan di sini diartikan bahwa di dalam fiksi maupun drama, unsur intuitif, imajinatif dan sintetik itu juga ada tetapi tidak dominan atau tidak menonjol. Karya yang non-puisi lebih bersifat logis, konstruktif dan analitik. Ketiga aspek penting yang mencirikan sebuah puisi akan diperjelas lebih lanjut.


a. Intuisi
Unsur yang pertama dalam puisi ialah intuisi. Kata intuisi menurut KBBI diartikan sebagai daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati. Intuisi merupakan suatu daya, suatu tenaga dalam yang tanpa bantuan pengalaman atau dibantu oleh proses logika yaitu mampu melihat, memahami dan menunjukkan kebenaran.


Pada hakikatnya intuisi tercipta disebabkan endapan rangkaian kearifan dan latihan merasa dan berpikir yang panjang sebelumnya. Dengan intuisi sesuatu dapat dilihat dan dinyatakan secara tepat seolah-olah dengan menggunakan indra keenam, yaitu perasaan dan kata hati. Maka dari itu, puisi diciptakan dengan menggunakan perasaan dan kata hati, seingga seseorang yang memiliki kemampuan berpikir yang baik tidak punya jaminan untuk mampu menghasilkan puisi yang baik. Karena memang puisi bukan diciptakan dari kemampuan berpikir, namun timbul secara murni dari hati atau perasaan seseorang yang merasakan suatu kondisi tertentu sehingga dapat menggambarkan isi hatinya melalui kata-kata puitis.


b. Imajinasi
Imajinasi merupakan angan atau kemampuan kejiwaan abstrak yang diwujudan secara konkrit. Di dalam puisi, pengalaman jiwa tersebut diwujudkan ke dalam kata-kata. Semakin lengkap dan dekat perwujudan angan –angan itu, semakin tinggi pula mutu karya puisi tersebut. namun, perwujudan angan-angan mutu tersebut dilakukan melalui lambang-lambang bahasa. Lambang bahasa itu sendiri memiliki kelemahan, karena lambang itu sendiri tidak persis sama dengan apa yang dilambangkannya. Oleh sebab itu, imajinasi tersebut sangat tergantung kepada kemampuan penyair dalam memilih kata atau ungkapan yang tepat, dan juga tergantung kepada kemampuan pembaca menafsirkannya.


Daya imajinasi pada dasarnya tidak kelihatan, karena terpendam dalam kesadaran orang masing-masing. Imajinasi dalam puisi merupakan bentuk kreativitas berpikir yang mampu memperkuat kesan suatu pengalaman jiwa. Dengan kreativitas ini pula puisi dibentuk, berdasarkan kemampuan imajinasi para penyair menangkap pengalaman atau penghayatan puitik yang dengan cara lain mungkin tidak tertangkap atau terungkap.


c. Sintetik
Sintetik diartikan sebagai suatu kesatuan, satu gabungan, suatu pemadatan. Lawan sintetik yaitu analitik yang berarti terurai, dan terlihat jelas unsu-unsur yang membentuknya. Puisi yang sintetik membentuk kontruksi terpadu, dan terpusat. Akibat dari sifat puisi yang sintetik, pernyataan puisi menjadi unik dalam artian tidak langsung mengacu kepada sesuatu yang diungkapkan, tetapi dapat menghasilkan pengertian yang luas dan bermacam-macam.

2.Gaya Puisi dari Segi Tipografi
Saat ini terjadi perkembangan yang luar biasa dalam dunia perpuisian di Indonesia. banyak pengarang yang melahirkan karyanya dengan bentuk tipografi yang beragam. Setiap penyair seperti mau memilih bentuk pengucapan yang sama sekali tidak terduga, dengan memilih bentuk-bentuk yang aneh atau ganjil, maka terjadilah ragam bentuk tipografi yang dengan sendirinya membuat terbentuknya ragam gaya pengucapan puisi.


Menurut Semi (2008: 144), keanekaragaman tipografis secara garis besar terdiri dari bentuk berikut :

a) Sistem kalimat dalam larik dan bait

b) Sistem kalimat dalam wujud prosais

c) Sistem frase dalam larik dan bait

d) Sistem frase dalam bait yang simetris

e) Sistem kata yang tersusun dalam wujud prosais

f) Sistem kata dalam susunan simetris

g) Sistem kata yang tersusun dalam susunan lekuk

h) Sistem kata yang tersusun secara acak

i) Sistem bunyi dan kata yang disusun secara absurd

j) Gabungan dari sistem tersebut

3.Gaya Puisi dari Segi kepuitisan
Unsur pokok yang membangun puisi ada dua, yaitu bentuk fisik atau tipografi, dan yang kedua adalah bentuk mentalnya. Kedua hal ini terjalin dalam suatu wujud yang padu. Bentuk fisik dan mental puisi terdiri dari tiga lapis yaitu; lapisan bunyi, lapisan arti , dan lapisan tema. Ketiga lapisan ini saling mendukung untuk menciptakan nilai estetika puisi.


Bagian yang penting dalam stilistika puisi atau dalam membentuk kepuitisan puisi:

Kemerduan Bunyi
Lapisan pertama dan utama sebuah puisi adalah bunyi. Bunyi bahkan tidak dapat dan tidak mungkin dilepaskan dalam puisi karena di dalam puisi unsur bunyi itu sangat penting.


Hal lain yang terkait dengan kemerduan bunyi adalah irama yaitu semacam gerakan atau alunan yang teratur, rentetan bunyi yang berulang yang menimbulkan variasi bunyi yang menciptkan getaran yang hidup.

Asosiasi dan Imajinasi
Asosiasi berkaitan dengan masalah mental dan perasaan. Yang dimaksudkan dengan asosiasi adalah kemampuan mental untuk menghubungkan suatu gagasan atau objek dengan gagasan atau objek yang lain.


Imajinasi ada hubungannya dengan asosiasi. Bila asosiasi merupakan keadaan mental pembaca yang menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain maka imajinasi lebih merupakan upaya penyair dalam menghadapi objek atau abstraksi serta bagaimana cara ia berespon terhadapnya.


Asosiasi dan imajinasi hanya dapat dibentuk dengan melakukan pemilihan kata dan pembentukan kata secara cermat dengan penuh pertimbangan. Pemilihan dan pembentukan kata dengan menggunakan kombinasi kata ditempuh dengan cara:
a. Dengan penjajaran (paralelisme)
Yaitu penggunaan kata yang sama artinya atau sama bentuknya dalam suatu rangkaian puisi.
b. Dengan paradoksal
Yaitu kata yang digunakan memiliki arti yang bertentangan atau berlawanan.
c. Dengan metafora
Yaitu pengucapan yang berhubungan dengan perbandingan langsung atau memindahkan sifat benda yang satu menjadi sifat benda yang lain.
d. Pesonifikasi
Adalah cara penyampaian gagasan dengan jalan menggunakan kata yang member sifat manusia terhadap benda mati.
e. Simile (perumpamaan)
Perbandingan yang menggunakan kombinasi kata kata yang menunjukan benda – benda, perbuatan, keadaan, dan sebagainya yang senapas, selingkupan, atau sejenis yang mempunyai sifat yang sama sebagai perbandingan.
f. Repitisi (perulangan)
Sesuatu yang abstrak dapat menjadi lebih konkrit. Dengan cara mengulang-ulang bagian tertentu.

HASIL ANALISIS PUISI SOLITUDE KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI


Yang paling mawar
Yang paling duri
Yang paling sayap
Yang paling bumi
Yang paling pisau
Yang paling risau
Yang paling nancap
Yang paling dekap
Samping yang paling
Kau!
Puisi ini termasuk kedalam tipografi sistem frase dalam larik dan bait karena terdiri dari rangkaian susunan frase sebagai unsur larik, dan larik – larik tersebut akhirnya membangun bait. Kemudian bait tersebut membangun struktur keseluruhan puisi.


Makna
Yang paling mawar = kesunyian seperti mawar yang indah dan harum
Yang paling duri = kesunyian yang menusuk , tajam, menyakitkan jika terkena duri
Yang paling sayap = kesunyian yang bisa terbang
Yang paling bumi = Kesunyian itu memiliki sifat seperti tempat dimana kita hidup di bumi
Yang paling pisau = kesunyian yang dibutuhkan jika memotong dan jika kita salah menggunakan akan berbahaya
Yang paling risau = kesunyian yang merisaukan bila mengalaminya
Yang paling nancap = Kesunyian yang pasti dan jika terus menerus dan berada didalamnya dan tidak pernah terlepas dalam kesunyian tersebut
Yang paling dekap = kesunyian yang memeluk
Samping yang paling Kau! = Yang mempunyai sifat yang paling adalah Kau yaitu Tuhan. Jadi orang yang paling itu, adalah orang selalu ingat Tuhan.


Rima
Puisi Sutardji Chalzoum Bachri banyak terdapat pengulangan bunyi yang membentuk musikalitas atau orkestrasi yang terdapat pada baris pertama sampai ke delapan. Dengan adanya bunyi yang berulang – ulang seperti itu maka dapat menyebabkan terjadinya keindahan dan kemerduan.


Repitisi
Puisi ini lebih mengarah pada asosisi imajinasi dengan menggunakan kombinasi repitisi atau pengulangan. Dengan mengulang bagian – bagian tertentu pada puisi Solitude maka dapat memancing perhatian dan terjadinya penekanan. Pengulangan pada puisi terdapat pada setiap barisnya (frase) yang sangat berperan dalam menciptakan intensitas makna, dan membentik rima. Gaya repitisi dalam puisi Solitude mempunyai pengaruh besar dalam setiap ujarannya.

DAFTAR PUSTAKA
Nurgiyantoro,Burhan.2013. Teori pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Semi, M.Atar. 2008. Stilistika Sastra. Padang: UNP Press
https://zaen.blog.uns.ac.id/2016/02/18/45/

Posted in Puisi Kontemporer | Leave a comment

KAJIAN SASTRA KONTEMPORER ROMANTISME DALAM CERPEN SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA

KAJIAN SASTRA KONTEMPORER
ROMANTISME DALAM CERPEN SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU
KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA


Disusun oleh :
Kelompok 8

Ahmad Azhari (I1B116022)

Mustakim (I1B116023)

Anggi Marlinda (I1B116024)

Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd.

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar belakang
Sastra adalah karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif atau sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain (Taum, 1997:13). Dalam sastra, kita juga mengenal sastra kontemporer. Sastra kontemporer adalah karya sastra yang hidup pada masa kini atau sastra yang hidup dalam waktu yang sama atau sastra yang berusaha bergerak mendahului zamannya.


Sebuah karya sastra mempunyai sifat imajinatif berdasarkan kekreatifan dan luapan emosi dari pengarang. Yang mana luapan emosi tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk kalimat-kalimat yang bernilai estetik. Dari kalimat-kalimat atau diksi yang menjadi pilihan pengarang itu pula yang menjadikan ciri khas dari pengarang itu sendiri.


Salah satu karya sastra kontemporer adalah cerpen berjudul “Sepotong senja untuk pacarku” karya Seno Gumira Aji Darma. Cerpen karya Seno ini memiliki cerita yang begitu imajinatif dan bisa dibilang sangat fenomena dalam masyarakat. pengarang mencoba keluar dari aturan-aturan dalam karya sastra pada umumnya.


Dalam cerpen tersebut, pengarang benar-benar bermain dengan imajinasinya dan juga pengarang lebih mengutamakan perasaan daripada logika dalam menciptakan karyanya. Hal semacam ini lah yang disebut-sebut sebagai aliran romantisme dalam karya sastra.
Pembaca betul-betul dibuatnya masuk dan terbuai dalam alur dari cerita tersebut. Selain itu, dalam peristiwa yang terjadi di dalam cerpen tersebut, pengarang betul-betul membuat tokoh utama menjadi sosok yang begitu romantis lewat kalimat-kalimat indah dan diksi yang pengarang gunakan dalam cerpen tersebut. Oleh sebab itu, Keindahan menjadi fokus utama dalam romantisme (Endaswara, 2003: 33).

Namun tidak sedikit pembaca yang menganggap bahwa cerpen ini sulit diterima oleh nalar, karena ke absudannya tersebut, pembaca terkadang sulit memahami dan memaknai apa sebenarnya inti dari cerita tersebut. Untuk itu, penulis mencoba menganalisis cerpen berjudul “Sepotong senja untuk pacarku” karya Seno Gumir Aji Darma ini menggunakan pendekatan Romantisme, agar pembaca bisa dengan mudah mengetahui dan memaknai isi dari cerpen tersebut, khususnya sisi romantis dalam cerita tersebut.


1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana unsur romantisme dalam cerpen “Sepotong senja untuk pacarku” karya Seno Gumir Aji Darma


1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :

  1. Agar pembaca mengetahui teori tentang romantisme
  2. Agar pembaca bisa mengetahui dan memahami unsur romantisme yang terdapat dalam cerpen “Sepotong senja untuk pacarku” karya Seno Gumira Aji Darma.

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Sinopsis cerpen
Cerpen karangan Seno Gumira Ajidarma ini bercerita tentang usaha seorang pria yang ingin sekali mengirimkan sepotong senja untuk pacarnya, Alina. Ia memilih senja itu karena baginya, kata-kata tidaklah cukup berarti untuk mewakili perasaannya dan senja itulah yang diimpikan oleh kekasihnya itu selama ini. Lalu di suatu pantai yang indah dengan pemandangan syahdu membuatnya ingin mengambil senja itu.


Namun, usahanya mengambil senja ternyata tak semulus yang ia kira, bahkan polisi dan masyarakat pada ribut karena kehilangan senja. Di tengah pelariannya, ia bertemu dengan gelandangan di bawah gorong-gorong. Gelandangan itu menyuruhnya bersembunyi agar aman dari kejaran polisi. Tiba-tiba ia menemukan sebuah tempat yang mirip dengan tempat dimana ia mengambil senja tadi. Namun disana tampak sangat sepi, tak ada manusia, hewan, apalagi keramaian. Iapun memutuskan untuk mengambil senja yang ada disana dan menyimpan di saku yang satunya lalu kembali meninggalkan gorong-gorong dan naik ke bumi.


Diluar dugaan ternyata keadaan diatas sudah tak sekacau tadi, bahkan mobilnya tampak habis dicuci. Ia juga sempat melahap pizza dan segera melajukan mobilnya. Ia memasangkan senja yang dari gorong-gorong itu dan ternyata cocok. Sedangkan senja yang ia dapat dari tempat pertama ia kirimkan lewat pos. Ia jadi ingat, gorong-gorong itu pasti akan menjadi gelap karena ia telah mengambil senja itu untuk pacarnya dan semua orang akan memperbincangkan itu kelak. Terakhir iapun berpesan agar kekasihnya itu menjaga baik-baik senja yang ia berikan.


2.2 Romantisme
Romantisme adalah aliran sastra yang berkembang di Eropa yang muncul sebagai reaksi pada aliran rasionalisme yang cenderung kaku dan terlalu mengedepankan rasio. Aliran ini sangat mengedepankan perasaan dan emosionalitas (Shaari, 2002 : 87). Romantisme berasal dari kata romantic dalam Bahasa Inggris. Kata ini sering digunakan pada roman-roman heroik Prancis pada pertengahan abad ke-17.
Romantik sebenarnya juga mengandung pengertian pertualangan yang jauh dari kehidupan biasanya, sehingga menjadi sesuatu yang tidak nyata dan penuh khayalan. Pada abad ke-18 istilah romantisme umumnya mengacu pada kebangkitan pemikiran dan emosi yang tidak pernah dipengaruhi oleh rasionalisme pada abad tersebut (Noyes, 1967 : XX).


Kemunculan romantisme tidak terlepas dari pengaruh berbagai peristiwa penting yang terjadi di Eropa pada zaman Renaissance, seperti revolusi Prancis dan revolusi industri di Inggris. Semangat pencerahan yang sangat hebat pada saat itu menempatkan rasio pada posisi tertinggi untuk memahami alam semesta. Apapun yang ada dan terjadi di jagad raya harus dapat diterjemahkan dengan rasio, sehingga terjadilah penyisihan terhadap kehidupan rohani dan kepekaan perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan akal manusia secara keseluruhan.


Hal ini ternayata menimbulkan kegelisahan dalam masyarakat Eropa itu sendiri, yang mampu memunculkan kembali semangat untuk memperoleh kemerdekaan emosi dan kedaulatan pribadi. Semangat romantisme yang menekankan nilai-nilai ketulusan hati, spontanitas, dan penentangan terhadap pengekangan menjadi salah satu pemecahan masalah kala itu, sehingga aliran ini mampu berkembang dengan pesat dan mempengaruhi kehidupan masyarakat di berbagai bidang, termasuk bidang kesusastraan.


Romantisisme berawal dari sebuah aliran seni yang menempatkan perasaan manusia sebagai unsur yang paling dominan. Menurut Neyos (dalam Hadimadja, 1972) bahwa sedikitnya ada enam ciri romantisme yang muncul dalam karya sastra yakni Kembali ke Alam, kemurungan, primitivisme, sentimentalis, eksotisme.


Sedangkan menurut Pemandu di Dunia Sastra (Hartoko, 1986 : 122), romantik adalah sebuah istilah kebudayaan yang menonjolkan pemujaan terhadap alam murni, masa silam, sesuatu yang eksotis, misterius, bebas, pemberontakan terhadap hidup yang teratur, orisinal, dan memiliki identitas nasional. Jika dilihat secara umum dapat dikatakan bahwa romantisme memiliki ciri-ciri antara lain, memiliki perhatian yang besar dan memuja alam, emosi yang mengalahkan rasionalitas, individualisme dan mengedepankan kepentingan diri, khayalan dan imajinasi yang tinggi, sederhana tanpa pengaruh modernitas, spontan, menyukai hal-hal yang erotik serta pemberontakan terhapadap aturan atau tatanan yang ada dalam masyarakat.


Romantisme atau sering disebut dengan romantik ini mengungkapkan rasa ketidaksenangan terhadap kehidupan modern yang artifisial, materialis, kasar, dan kaku. Rasa ketidaksenangan itu dilampiaskan dengan lari ke pangkuan alam, memuja keindahan ciptaan Tuhan, mendendangkan nyanyian indah, mengagumi pribadi-pribadi yang tenang, penyayang, penuh rasa kasih sayang, memuja cinta, kelembutan, dan keindahan. Aliran ini biasanya menggambarkan tentang peristiwa kehidupan dunia yang lain, yang indah, yang kurang dikenal, yang terjadinya entah di mana.


Menurut Sumarjo (1996:243) romantik merupakan istilah kesusastraan untuk menunjukkan karya perasaan dari pada segi intelektualnya. Karya sastra romantik sering mengandung pemujaan terhadap keagungan baik dalam pelukisan karakter, pelukisan peristiwa, maupun suasana sehingga jauh dari pemahaman realita. Romantisme merupakan aliran yang menggunakan prinsip bahwa karya sastra merupakan cerminan kehidupan realistik yang menggambarkan kehidupan manusia yang berliku-liku dengan menggunakan bahasa yang indah sehingga dapat menyentuh emosi pembaca. Keindahan menjadi fokus utama dalam romantisme (Endaswara, 2003: 33).


Romantisme merupakan aliran sastra yang didominasi oleh perasaan dibandingkan logika dalam berfikir. Aliran romantisme lebih mementingkan curahan perasaan yang indah dan menggetarkan jiwa serta gambaran kehidupan yang penuh duka yang diungkapkan dalam estetika diksi dan gaya bahasa yang mendayu-dayu.


Oleh karena itu fiksi romantis kerap mengambil latar masa yang sudah lewat, tempat yang tidak biasa atau di luar jangkauan, atau wilayah rekaan yang lokasi sebenarnya tidak jelas. Tokoh-tokoh utama dalam fiksi romantis biasanya teriosasi secara emosional maupun fisik dan dikendalikan oleh cinta yang obsesif, kebencian, pemberontakan, dan rasa takut.


2.3 Analisis Cerpen
Dari enam ciri romantisme menurut Neyos (Hadimadja, 1972), hal ini dapat dilihat juga dalam cerpen berjudul “Sepotong senja untuk pacarku” karya Seno Gumira Ajidarma. Berikut adalah analisisnya :


a. Kembali ke alam
Kaum romantik berpegang pada semboyan mereka yaitu alam adalah sesuatu yang mendukung dan menentukan perasaan hati manusia. Dengan demikian, perasaan hati manusia itu tergantung dari keadaan alam. Begitu besarnya pengaruh alam bagi pengarang beraliran romantik. Alam yang digambarkan dalam cerpen tersebut yakni seperti kutipan berikut :
Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu. “barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku.

Kutipan cerpen diatas menggambarkan suatu sore di tepi pantai. Dengan melihat keindahan alam yang tersebut diatas, tokoh “aku” berpikir bahwa senja itu akan bagus untuk kekasihnya dan berkeinginan untuk memberikan senja itu pada kekasihnya, keindahan alam benar-benar mendukung perasaannya. Dengan melihat itu, alam yang dimaksud dapat digambarkan oleh pengarang di dalam cerpennya.


b. Kemurungan
Tema-tema pada kesusastraan kemurungan (melankolis) dapat dikatakan berkisar seputar kemurungan akibat keterbencian, cinta yang tidak bahagia, penderitaan hidup, dan hal-hal yang menyeramkan. hal ini dapat digambarkan dalam kutipan novel dibawah ini:

“Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian. Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan.”

Dari kutipan cerpen di atas secara tidak langsung pengarang menggambarkan penderitaan hidup yang terjadi di gorong-gorong, yakni anak-anak gelandangan yang tidak bahagia. Meskipun pengarang menceritakannya hanya sekilas, namun dapat dilihat bahwa kemurungan yang terdapat dalam kutipan cerpen diatas yakni tentang penderitaan hidup anak-anak gelandangan.


c. Primitivisme
Primitivisme merupakan unsur romantisme yang ditandai oleh kerinduan masa lalu dan kerinduan kejayaan dimasa yang akan datang. Primitivisme berasal dari kata primitif yakni belum maju, kuno, tidak modern, terbelakang dsb. Primitivisme ini cendrung akan hal-hal yang alamiah dan natural. hal ini dapat digambarkan dalam kutipan novel dibawah ini:

“Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina.”

Dari kutipan cerpen di atas, dapat dilihat bahwa pada cerita tersebut terdapat sebuah tempat, yaitu gua. Dapat dinilai cerpen tersebut secara tidak langsung menandakan bahwa pada cerita tersebut berlatarbelakang zaman dahulu/belum maju.


d. Sentimentalis
Sentimentalis merupakan deskripsi tentang ungkapan emosi/perasaan secara berlebihan berupa kesukaan akan kelembutan, birahi, kegandrungan akan sifat alamiah yang semuanya lebih bersifat patetis dari pada etis. hal ini dapat digambarkan dalam kutipan novel dibawah ini:

“Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi. Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.”

Kutipan cerpen di atas merupakan sebuah ungkapan tokoh “aku” kepada kekasihnya Alina melalui surat yang sudah dia tulis. Tokoh “aku” memiliki perasaan cinta yang sangat berlebihan kepada Alina sampai-sampai dia mengirimkan sepotong senja untuk membuat Alina bahagia. Dia menulis surat tersebut penuh dengan perasaan cinta dan emosi dengan setiap kejadian-kejadian yang dialaminya. Pengarang menciptakan cerita yang sangat imajinatif dan penuh emosi, sehingga tokoh “aku” digambarkan sebagai sosok yang sangat sentimen.


e. Eksotisme
Romantisme tidak hanya cenderung melarikan diri ke dalam perasaan serta dunia mimpi mereka sendiri, tetapi juga mencari pengalaman emosional dalam dunia eksternal berupa hal-hal yang jauh, baik dalam hal waktu maupun tempat. Biasanya tokoh tenggelam dalam keinginan-keinginan. Eksotisme merupakan perlakuan tokoh yang mengandung keunikan serta rasa asing yang mengandung daya tarik khas. hal ini dapat digambarkan dalam kutipan novel di bawah ini:


“Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.”


Dari kutipan cerpen di atas, dapat dilihat bahwa perlakuan tokoh “aku” kepada Alina kekasihnya memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri. Dia memberikan senja untuk kekasihnya, meskipun jika dilihat dari sudut pandang dunia nyata hal tersebut mustahil, namun kemustahilan tersebutlah yang menjadi imajinasi pengarang dalam menciptakan karya sastra. Pengarang sangat imajinatif dan berani keluar dari aturan pada umumnya. hal yang dilakukan tokoh “aku” sangat berbeda, jauh dari laki-laki pada umumnya yang hanya bisa berkata-kata saja. Dia berusaha memberikan sesuatu yang berbeda, yaitu sepotong senja dan cinta untuk kekasihnya.


Selain itu, tokoh “aku” juga memiliki keinginan-keinginan seperti yang terdapat dalam kutipan diatas. Dia sangat menginginkan segala hal dapat dilakukannya bersama kekasinya meskipun hal tersebut entah kapan menjadi kenyataan.

BAB III
KESIMPULAN


Romantisme merupakan aliran sastra yang didominasi oleh perasaan dibandingkan logika dalam berfikir. Aliran romantisme lebih mementingkan curahan perasaan yang indah dan menggetarkan jiwa serta gambaran kehidupan yang penuh duka yang diungkapkan dalam estetika diksi dan gaya bahasa yang mendayu-dayu. Menurut Neyos (dalam Hadimadja, 1972) ada enam ciri romantisme yang muncul dalam karya sastra yakni Kembali ke Alam, kemurungan, primitivisme, sentimentalis, eksotisme.

Cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku” merupakan salahsatu cerpen yang tergolong romantik. Cerita didalamnya mengandung banyak kata-kata yang romantis dan indah. Pengarang sangat imajinatif dan berani keluar dari aturan-aturan pada umumnya yang berlaku pada karya sastra. 

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2009. Stilistika:teori, metode dan aplikasi pengkajian estetika bahasa. Surakarta : Cakra Books

Jurnal :
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://kim.ung.ac.id/index.php/KIMFSB/article/download/3200/3176&ved=2ahUKEwjyxdTe74niAhWTfCsKHXPNCdYQFjABegQIBxAB&usg=AOvVaw1VO8gHKB3LvxLRIMYXeZec

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://digilib.unila.ac.id/25829/18/SKRIPSI%2520TANPA%2520BAB%2520PEMBAHASAN.pdf&ved=2ahUKEwjyxdTe74niAhWTfCsKHXPNCdYQFjAAegQIAxAB&usg=AOvVaw0XRhWRvdA_Sw9A0mGoe8Wv
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://lib.ui.ac.id/file%3Ffile%3Ddigital/20352007-MK-Ferdina%2520Wahyu%2520Arista.pdf&ved=2ahUKEwiQidaE8YniAhVYU30KHVUMBq0QFjABegQIAhAB&usg=AOvVaw13PuxRxkiNG5nOCuSWOjKq
Posted in Cerpen Kontemporer | Leave a comment

ANALISIS NOVEL ZIARAH KARYA IWAN SIMATUPANG

ANALISIS NOVEL ZIARAH KARYA IWAN SIMATUPANG

Oleh Kelompok 7 :
Dita Cahyani (I1B116017)
Siti munawa (I1B116019)
Karmila (I1B116020)

Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd.

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar belakang
Karya sastra adalah hasil dari pemikiran manusia baik berupa puisi, prosa maupun lakon. Karya sastra disampaikan secara komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Dalam karya sastra selain ide, dalam literatur ada juga deskripsi peristiwa, gambar psikologis, dan pemecahan masalah jangkauan dinamis. Salah satu jenis karya sastra adalah novel.

Novel adalah bentuk sastra yang menceritakan kisah fiksi kehidupan seseorang yang dianggap mengesankan. Pada dasarnya karakter dalam novel adalah fiktif belaka, tetapi disesuaikan dengan waktu cerita itu ditulis. Dalam hal ini, novel yang akan dibahas adalah novel Ziarah karya Iwan Simatupang. Iwan Simatupang sendiri ialah salah satu penulis ternama yang dikenal dengan karya-karya absudrnya, dan salah satu karyanya ialah Ziarah.


Ziarah merupakan sebuah novel karya Iwan Simatupang yang diterbitkan pertama kali oleh penerbit Djambatan pada tahun 1969. Pemilihan tema dalam penulisan novel ini sangat berbeda dengan genre novel lainnya. Novel Ziarah dapat dikatakan sebagai novel yang rumit, seperti alur cerita yang tidak teratur atau tidak mengikuti urutan kronologis cerita, absurd. Novel ini membawa Iwan Simatupang untuk memperoleh Hadiah Sastra Asean tahun1977, tujuh tahun setelah sang pengarang meninggal dunia. Novel tersebut mendapat sambutan positif dari sastrawan dan pengamat sastra. Novel Ziarah ini bercerita tentang tokoh kita yang dianggap sebagai manusia aneh.


Novel Ziarah karya Iwan Simatupang ini merupakan karya sastra yang menarik dan berbeda dibandingkan dengan karya sastra Indonesia lainnya. Ziarah banyak mendapat kritik dari pakar sastra karena isi ceritanya melibatkan budaya Barat dan menganggap Iwan Simatupang sebagai pengarang yang borjuis. Novel Ziarah ini sulit dimengerti oleh pembaca biasa, sehingga untuk memahaminya perlu menggunakan kesadaran filsafat tentang kehidupan dan kematian manusia, pemberontakan, dan kesadaran sosial. Sehingga didalam pembahasan ini untuk memudahkan pembaca memahami apa makna yang tersirat didalamnya dengan menganalisis unsur Instrinsiknya.


Dalam sebuah penganalisisan membutuhkan kajian yang relevan dengan hal yang ingin dikaji. Pada analisis novel ziarah karya Iwan Simatupang ini, penulis mengambil kajian sturukturalisme, yang mana strukturalisme ini menurut KBBI ialah suatu gerakan linguistik yang berpandangan bahwa hubungan antara unsur bahasa lebih penting dari pada unsur itu sendiri. Suatu pandangan yang tepat dalam sebuah pengkajian sastra, karena sastra rekat kaitannya dengan bahasa.


B. Rumusan masalah

  1. Bagaimana kajian strukturalisme terhadap novel ziarah karya Iwan Simatupanhg?
  2. Apa saja unsur yang terdapat dalam novel ziarah karya Iwan Simatupang?

C. Tujuan

  1. Untuk menguraikan kajian strukturalisme dalam novel ziarah karya Iwan Simatupang.
  2. Untuk mengetahui unsur yang ada dalam novel ziarah karya Iwan Simatupang.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sinopsis Novel Ziarah karya Iwan Simatupang
Tokoh kita atau lebih tepatnya mantan pelukis hebat tiba-tiba berubah secara drastis semenjak kepergian istri yang sangat ia cintai.. Ia sangat mencintai istrinya sehingga ia tidak pernah percaya bahwa wanita yang dicintainya itu telah meninggal. Pada suatu hari si pelukis itu ke sebuah pekuburan Kotapraja. Di sana ia bertemu dengan lelaki tua yang telah menghabiskan masa tuanya sebagai opseter perkuburan. Lelaki tua itu menawarkan pekerjaan kepada si pelukis sebagai tukang cat tembok di pekuburan Kotapraja. Tawaran yang memang ia idam-idamkan, Tokoh kita menerima pekerjaan itu dengan tujuan agar selalu dekat dengan almarhum istri tercintanya. Namun, pekerjaan pengecatan pekuburan itu tidak berjalan lama sebab Walikota Kotapraja tiba-tiba mengeluarkan surat pemberhentian pekerjaan itu. Si opseter tua itu harus berhenti menjadi opseter perkuburan Kotapraja. Sang Walikota mendapat dukungan penuh dari masyarakat akan keputusannya itu.


Dukungan itu membuat si walikota menjadi besar kepala. Namun, khayalannya itu hanya mimpi, karena kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Saat sang opseter tua itu ditemukan gantung diri di dalam rumah dinasnya. Berita kematiannya itu membuat geger seluruh pelosok kota. Ia memerintahkan bawahan nya untuk segera mencari penggganti Opseter yang baru. Di tengah-tengah keputusasaan mereka, tiba-tiba datang seorang pemuda tampan yang melamar menjadi opseter baru.


Selama Ia menjadi opseter, pekerjaan mengecat tembok kuburan berjalan seperti semula. Hingga keuletan nya dalam bertugas para aparat pemerintah menginginkan pemuda itu menggantikan perdana menteri yang lama yang telah meninggal dunia. Namun, pemuda itu menolaknya, ia tidak mengingkan sekali jabatan itu. Sejak kejadian itu pemuda itu berubah, ia lebih sering mengurung dirinya, sang walikota keheranan, ada apa dengan pemuda yang yang cerdas, dan tegas dalam kepemimpinannya.


Pada suatu hari datang dua orang laki-laki ke kantor walikota. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mereka ingin menemui si opseter muda itu. Kedua orang itu adalah seorang ayah opseter dan mahaguru si opseter muda. Ia meminta walikota agar memberhentikan si pemuda itu karena ia tidak rela mahasiswa bimbingannya bekerja sebagai opseter perkuburan. Seorang calon doktor tidak tepat menjadi opseter kuburan (ucapnya), kenyataannya si pemuda itu berkata tegas bahwa ia tidak akan meninggalkan pekerjaannya. Ia juga menegaskan bahwa tak seorang pun yang dapat mencegahnya untuk menjadi opseter.


Suatu hari, ketika pulang kerja dari kuburan, si pelukis merasa terkejut ketika mengetahui bahwa salah satu lukisannya hilang. Dan ia menemukan setumpuk uang valuta asing di rumahnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung manukarkan uang asing itu menjadi rupiah. Dan ia begitu terkejut bahwa jumlahnya tidak sedikit. Ia bingung bagaimana menghabiskan uang sebanyak itu. Kemudia ia berfikir untuk mempertaruhkan semua uang nya di pertandingan sepak bola. Namun, ia memenangkan judi itu, maka uang nya pun malah bertambah. Karena kebingungan yang ia rasakan maka pelukis itu berusaha untuk bunuh diri karena merasa sangat bingung. Ia bunuh diri dengan cara lompat dari gedung kotapraja. Namun, ketika ia lompat, ada seorang wanita sedang berbelanja kemudian lewat di bawah gedung itu dan si pelukis jatuh tepat di dalam keranjang si wanita itu. Ia tidak jadi meninggal dunia. Bahkan, tidak lama kemudian, ia menikahi wanita itu, namun pernikahan itu tidak berlangsung lama karena si wanita kemudian meninggal dunia tanpa penyebab yang pasti.


Pekerjaan pengecatan tembok pekuburan akan segera di hentikan. Pemuda itu pun berhenti dari pekerjaannya bersamaan dengan surat penguduran dirinya. Tak lama sesudah si pelukis mengundurkan diri, tiba-tiba di lokasi kuburan Kotapraja menjadi sangat ramai. Ternyata si pemuda opseter itu bunuh diri di kamar dinasnya tanpa diketahui penyebabnya. Setelah menguburkan si pemuda opseter itu, si pelukis bincang-bincang dengan seorang kakek yang juga pekerja pekuburan Kotapraja. Si kakek adalah professor pembimbing si pemuda opseter itu. Setelah berbicara panjang lebar dengan si kakek, si pelukis memutuskan untuk melamar pekerjaan sebagai opseter untuk menggantikan si pemuda. Alasannya, ia selalu dekat dengan isteri yang sangat ia cintai.

B. Analisis Novel Ziarah Karya Iwan Simatupang
Penulis menganalisis novel Ziarah karya Iwan Simatupang ini menggunakan teori strukturalisme. Menurut KBBI strukturalisme adalah gerakan linguistik yang berpandangan bahwa hunbungan antara unsur bahasa lebih penting daripada unsur itu sendiri, satu-satunya objek bahasa adalah sistem bahasa, dan penelitian bahasa dapat dilakukan secara sinkronis. Tokoh penting di dalam teori strukturalisme diantaranya Roman Jakobson, Jan, Mukarovsky, Fellix Vodicka, Rene Wellek, Jonathan Culler, dan Robert Scoles.


Teori strukturalisme terbagi menjadi tiga bagian, yaitu strukturalisme dinamik, strukturalisme genetik, dan strukturalisme naratologi. Strukturalisme dinamik adalah penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik, yang dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. Menurut Fokkema (1997: 31) “Strukturalisme dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Fellix Vodicka”.


Strukturalisme Genetik adalah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul karya. Secara ringkas strukturalisme genetik berarti memberikan perhatian terhadap analisis intrinsik dan ekstrinsik. Sedangkan strukturalisme naratologi adalah strukturalisme yang berkembang atas dasar analogi linguistik, seperti model sintaksis, sebagaimana hubungan antara sabjek, predikat, dan objek penderita.
Dari ketiga bagian strukturalisme di atas, maka penulis memilih bagian pertama, yaitu strukturalisme dinamik. Novel Ziarah karya Iwan Simatupang ini merupakan novel yang absurd dan sangat sulit untuk di pahami oleh para pembaca awam. Oleh karena itu untuk memudahkan seluruh pembaca baik yang awam maupun orang yang tidak awan dalam memahami novel ini secara menyeluruh, maka penulis lebih memfokuskan analisis novel Ziarah karya Iwan Simatupang kepada unsur intrinsiknya saja.


Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang ada di dalam batang tubuh suatu karya satra. Setiap karya sastra, baik itu berbentuk frosa, puisi, ataupun drama, memiliki unsur-unsur intrinsik di dalamnya. Namun, masing-masing bentuk karya sastra itu memiliki bentuk unsur-unsur intrinsik tersendiri. Novel termasuk kedalam karya sastra bagian prosa fiksi. Adapun unsur intrinsik dalam novel, yaitu: tema, tokoh, alur, latar, perwatakan atau penokohan, gaya bahasa, sudut pandang, dan amanat.

C. Unsur Intrinsik Novel Ziarah Karya Iwan Simatupang

  1. Tema
    Tema adalah ide pokok suatu cerita dan merupakan suatu landasan bagi pengarang untuk menulis ceritanya (Sayuti, 2000: 31). Dalam sebuah penulisan, sejatinya pengarang dalam menuangkan idenya tidak hanya ingin sekedar bercerita belaka, tapi ia mau menyampaikan sesuatu yang dianggapnya berguna kepada pembacanya. Keberadaan suatu cerita yang ditampilkan pengarang dapat berupa suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya, atau komentar tentang kehidupan. besarnya cinta sang suami kepada istri yang telah meninggal.

2. Alur
Salah satu elemen terpenting dalam membentuk sebuah karya fiksi adalah plot cerita. Dalam analisis cerita, plot sering pula disebut alur. Plot atau alur ialah jalan cerita yang berupa peristiwa-peristiwa yang disusun satu-persatu saling berkaitan menurut hukum sebab akibat dari awal hingga akhir cerita. Jadi, peristiwa yang lain itu juga akan menjadi sebab bagi timbulnya peristiwa berikutnya dan seterusnya sampai akhir cerita (Suroto, 1989: 89).

3. Tokoh :
a. Si pelukis/atau tokoh Kita
Suami yang sangat mencintai istrinya walaupun istrinya telah meninggal. Seperti yang terdapat dalam kutipan “dia bangun dengan rasa hari itu bakal bertemu istrinya di salah satu tikungan, entah tikungan mana. Sedang istrinya telah mati entah berapa lama” . ( hal 13)

b. Penjaga kuburan
Kutipan “Malam nya dia menyuruh penjaga pekuburan meletekkan bunga di atas kuburan istrinya” (hal 14)

c. Orang-orang kampung
Kutipan “Ketika sampai di depan rumah tempat dia menyewa kamar, orang-orang baik hati yang telah berkenaan mengantarkannya pulang” (hal 16)

d. Opseter perkuburan kotapraja 1
Kutipan “dia berpapasan dengan seorang paruh baya, yang menurut orang-orang sekotanya adalah opseter perkuburan kotapraja” (hal 21)
Lelaki tua yang selama hidup nya hanya mengabdi di kuburan

e. Walikota
Kutipan “ mereka melongo saja, sama tercengan menonton sang walikota yang bicara sendirian” (hal 31)

f. Pamong praja
Kutipan “ ini menjadikan dirinya justru tipe pamong praja yang sangat ideal” (hal 42)

g. Kepala jawatan
Kutipan “ maka ini akan saya anggap sebagai alasan yang cukup kuat untuk meninjau kembali kedudukan saudara sebagai kepala jawatan penempatan tenaga di kota praja saya ini “ (hal 56)

h. Opseter pengawas pekuburan 2
Opseter muda yang melamar pekerjaan mengganti opseter sebelumnya.
Kutipan “ pemuda itu telah beroleh suray pengangkatannya sementaranya sebagai opseter pengawas perkuburan kotapraja yang baru” (hal 59)

i. Gubernur kepala daerah swatantra tingkat satu
Kutipan “oleh sebab itu, dia meneruskan persoalan ini atasannya, yakni gubernur kepala daerah swantantra” (hal 64)

j. Perdana Menteri
Kutipan “ajudan paduka yang mulia terengah-engah lari-lari kepada yang mulia perdana menteri” (hal 68)

k. Ayah opseter dan mahaguru
Kutipan “pada suaty hari, walikota kedatangan dua orang. Yang seorang ayah opseter, sedang seorang lagi seorang mahaguru”. (hal 76)

l. Mandor
Kutipan “dia terus mengurung dirinya dalam rumah. Seorang mandor datang membawa kertas dan pensil “. (hal 80)

4. Latar
A. Latar tempat :
a. Kamar kecil
b. Tanah perkuburan
c. Jalan raya
d. Kaki lima
e. Alun-alun
f. Kedai arak
g. Rumah dinas
h. Taman kecil belakang rumah dinas


B. Latar waktu :
a. Malam
b. Sore hari
c. Tengah hari

C. Latar suasana :
a. Ramai
b. Sedih
c. Sunyi
d. Kacau

5. Gaya Bahasa
a. Hiperbola
Kutipan “ panas dalam tubuh mereka memijar, membuat isi dada mereka berkilauan memantulkan napas persahabatan dan kesetiakawanan ke seluruh pelosok alam”. (hal 24)

b. Metafora
Kutipan “Mereka sesungguhnya hidup pada abad ke-20 dengan kebudayaannya yang sedang merobos ruang angkasa”. (hal 30)

c. Personafikasi
Kutipan “ dalam telingannya dia mendengar suara gegap gempita ,suara turut terjungkirnya Bumi yang merekat rapat pada kakinya. (hal 40)

d. Sinisme
Kutipan “dia tak pernah menyukai orang-orang seperti dia, bekas pelukis yang berubah menjadi tukang kapur ini, dengan jidat terlalu lebar, rambut semakin jarang tumbuh di batok kepalanya, dan muka yang pasti karena tak pernah bertemu sinar Matahari.” (hal 38)

e. Sarkasme
Kutipan “ mayatnya di cincang lumat-lumat, kemudian di gumpalkan sebesar upil hidung dan di penyetkan dengan rasa kesal dan mual”. (hal 48)Sudut pandang dalam novel ziarah

6. Sudut pandang

Sudut pandang yang bisa diambil dalam novel ini ialah yaitu sudut pandang orang ketiga, yaitu dimana orang ketiga disini yang selalu menyebutkan nama-nama tokoh pemeran dalam novel tersebut. Hal ini di buktikan oleh salah satu kutipan “tiba-tiba tangan Opseter telah menyuruk ke dalam tangan tokoh kita dalam salam yang bergetar-getar hangat”.

7. Amanat
Amanat yang bisa kita ambil dari novel ini adalah, bahwa kematian adalah hal yang pasti. Namun, jarang orang menerimanya dengan kenyataan sebenarnya. Dan dalam novel ini mengisahkan tentang kecintaan sang suami yang tidak rela di tinggal istrinya. Kekuatan cinta yang bisa kita petik dari novel Ziarah karya Iwan Simatupang ini.

DAFTAR PUSTAKA

Simatupang, Iwan. 2017. Ziarah. Noura Books (PT. Mizan Publika).
Jakarta Selatan.

https://www.quipper.com/id/blog/mapel/bahasa-indonesia/unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-sastra/amp/
https://sastra33.blogspot.com/2015/07/teori-strukturslisme-teori-metode-dan.html?m=1
Posted in Novel Kontemporer | Leave a comment

PERLAWANAN TERHADAP BUDAYA PATRIAKI DALAM NOVEL SAMAN

PERLAWANAN TERHADAP BUDAYA PATRIAKI DALAM NOVEL SAMAN

Oleh:
Kelompok 6

Oktania (I1B116012)
Fadhillah Hasna (I1B116014)
Naomi (I1B116015)

Dosen Pengampu:

Dr. Drs. Maizar Karim, M.Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd.

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Karya sastra adalah hasil karya seni yang menceritakan realita berdasarkan imajinasi si pengarang. Manusia dan lingkungannya sebagai objek yang digunakan oleh si pengarang, melalui bahasa sebagai medianya. Berbicara tentang sebuah karya sastra, tidak akan terlepas dari nilai-nilai etika dan estetika, sehingga orang yang menikmati karya sastra akan merasa berada dalam lingkup kehidupan yang diciptakan karya sastra tersebut. Karya sastra dapat berguna karena isi yang terkandung di dalamnya bermanfaat bagi pembaca. Oleh sebab itu, sastra dijadikan suatu wadah oleh pengarang untuk menyampaikan ide-ide, imajinasi, dan pikirannya melalui novel, sebagai salah satu jenis karya sastra.


Novel adalah hasil karya sastra berjenis prosa fiksi yang berisi cerita dan menyajikan fenomena, peristiwa, fakta, dan imajinasi secara lebih bantak, lebih detail, dan lebih rinci oleh pengarangnya. Sebagai karya sastra, novel menyiratkan berbagai masalah, baik di bidang sosial, ekonomi, politik, tradisi, budaya, dan lain-lain. Novel Saman yang mengisahkan tentang hal yang oleh orang-orang timur seharusnya ditutupi, tapi ia malah cenderung membukanya secara terang-terangan seolah-olah itu memang layak untuk menjadi konsumsi masyarakat secara keseluruhan.


Novel Saman pun menjadi awal pergerakan penulis wanita yang berpikir bahwa sudah saatnya wanita hadir dan mendobrak kungkungan budaya partriaki yang telah lama memasung diri wanita.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana perlawanan para tokoh perempuan terhadap budaya patriaki dalam novel saman?

1.3 Tujuan Masalah
Untuk mengetahui bagaimana perlawanan para tokoh
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Patriarki
Patriarki adalah tatanan kekeluargaan yang sangat mementingkan garis turunan bapak. Secara etimologi, patriarki berkaitan dengan system sosial dimana ayah menguasai seluruh anggota keluarganya, harta miliknya, serta sumber-sumber ekonomi. Ia juga membuat semua keputusan penting bagi keluarga. Dalam sistem sosial, budaya dan juga keagamaan, patriarki muncul sebagai bentuk kepercayaan atau ideologi bahwa laki-laki lebih tinggi kedudukannya dibanding perempuan.


Patriarki juga dapat dijelaskan dimana keadaan masyarakat yang menempatkan kedudukan dan posisi laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya dan ekonomi. Di negara-negara barat, Eropa barat termasuk Indonesia, budaya dan ideologi patriarki masih sangat kental mewarnai berbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat. Bila dilihat secara garis besar, mayoritas penduduk Indonesia adalah masyarakat yang patrilineal yang dalam hal ini posisi ayah atau bapak (laki-laki) lebih dominan dibandingkan dengan posisi ibu (perempuan).


Perbedaan gender sebetulnya tidak menjadi masalah selama tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun ternyata perbedaan gender baik melalui mitos-mitos, sosialisai, kultur, dan kebijakan pemerintah telah melahirkan hukum yang tidak adil bagi perempuan. Pada masyarakat patriarki, nilai-nilai kultur yang berkaitandengan seksualitas perempuan mencerminkan ketidaksetaraan gender menempatkan perempuan pada posisi yang tidak adil.

2.2 Feminisme
Feminisme adalah paham atau keyakinan bahwa perempuan benar-benar bagian dari alam manusia, bukan dari yang lain yang menuntut kesetaraan dengan laki-laki dalam setiap aspek kehidupan, tanpa melihat kodrat dan fitrahnya. Kesetaraan ini biasanya disebut juga dengan istilah kesetaraan gender (gender equality). Dalam hal kesetaraan gender dapat diartikan bahwa dengan adanya kesamaan kondisi laki-laki maupun perempuan dalam mendapatkan hak-haknya sebagai makhluk sosial atau manusia. Hal ini diharapkan agar mampu berperan dan berpatisipasi dalam semua kegiatan seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan serta kesamaan dalam menikmati pembangunan.


Feminisme menurut Manggi Humin adalah sebuah ideology pembebesan perempuan karena yang melekat dalam semua pendekatanya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalammi ketidkadilan karena jenis kelamin. Adapun menurut Mansour Fakih, feminism adalah gerakan dan kesadaran yang berangkat dari asumsi bahwa kaum perempuan pada dasarnya ditindas dan di eksploitasi, serta usaha untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi tersebut. Gerakan Feminisme lahir dari sebuah ide yang diantaranya berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, sampai upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme adalah basis teori dari gerakan pembebasan perempuan.

2.3 Analisis Saman
Pada tahun 1998 novel saman karya Ayu Utami merupakan pemenang sayembara roman dewan kesenian Jakarta, Berbagai pujian pun dilontarkan oleh para pembaca terhadap novel tersebut. Damono mengatakan bahwa Saman memamerkan teknik komposisi yang sepanjang pengetahuannya belum pernah dicoba pengarang lain di Indonesia, bahkan mungkin di negeri lain. Sementara itu, Faruk mengatakan bahwa di dalam sejarah sastra Indonesia tak ada novel yang sekaya ini, yang lebih kaya daripada Para Priyayi-nya Umar Kayam. Ignas Kleden pun mengatakan bahwa kata-kata dalam Saman bercahaya seperti kristal. Dan Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “integritas penulisnya tinggi… saya tidak kuat melanjutkan. Melanjutkan membaca ini rasanya saya jadi tapol lagi”.
Ada yang menarik dari teknik sudut pandang dalam novel ini. Ketika yang diceritakan tokoh-tokoh perempuan, ternyata narator menggunakan sudut pandang akuan, sehingga ada dua akuan disini. Akuan Laila pada bagian awal novel dan akuan Shakuntala pada bagian tengah novel. Sementara itu, ketika fokus yang di ceritakan pria (Sihar dan Saman).

Sudut pandang tersebut dapat dikatakan menunjukkan adanya keterkaitan ideologi feminisme yang menempatkan perempuan sebagai subjek, yaitu sebagai fokus yang berbicara dan beraksi. Dalam novel tersebut dengan jelasa tampak bagaimana para perempuan menjadi subjek yang memaparkan pengalamannya, gagasan-gagasannya, serta impian-impiannya menjadi lebih kuat, lebih-lebih dengan gaya cerita yang cenderung terbuka (blak-blakan), seperti ini.


“Dan kalau dia datang ke taman ini,saya akan tunjukkan betapa sketsa yang saya buat karena kerinduan saya padanya. Serta beberapa sajak dibawahnya. Kuingin kan mulut yang haus/dari lelaki yang kehilangan masa remajanya/diantara pasir-pasir tempat iamenyisir arus. Saya tulis demikian pada sebuah gambar catair…..” (Utami,1998:3).


Di samping itu, para tokoh perempuan dalam Saman adalah figur perempuanmu dimasa kini yang kesemuanya memiliki karier dan aktivitas disektor publik. Laila menjadi fotografer sebuah majalah di Jakarta, Cok seorang pengusaha hotel, Yasmin seorang pengacara, dan Shakuntala seorang penelitidan koreografer tari yang mendapat beasiswa belajar dan meneliti tari di NewYork. Apabila dipahami dalam konteks sosiologi, khususnya yang berhubungan dengan perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia, keempat tokoh tersebut dapat dikatakan merupakan representasi dari para perempuan yang telah mendapatkan kemerdekaannya.

Mereka sadar akan posisi dan perannya yang harus seimbang dengan pria. Walaupun mereka juga masih hidup dalam lingkungan masyarakat yang mengagungkan keunggulan patriarki dan ideologi familialisme. Sikap dan cara berpikir mereka seringkali menunjukkan perlawanannya terhadap ideologi tersebut, walaupun tidak semuanya berhasil. Maka, ketika mendapat kesempatan menari (berkarier) di NewYork, Shakuntala amat bahagia, karena menurutnya dia dapat jauh dari ayahnya, sebagai simbol kekuatan patriarki yang dibencinya.


“Aku akan tinggal di New York lebih kurang dua tahun, mempelajari tari dan koreografi dalam beberapa festival disana, terlibat serentetan lokakarya juga mengajar, dan puncaknya adalah menggarap karyaku sendiri. Aku akan menari, dan menari jauhdariayahku. Betapa menyenangkan. Lalu aku melobi mereka agar tidak memaksaku mengenakan nama ayahku dalam dokumen- dokumen, sebab kami tak punya konsep itu…..” (Utami,1998:141).

“…Kemudian aku mengerti bahwa New York bukan negeri raksasa.Tapi aku tidak kecewa, sebab aku telah jauh dari ayahku….”(Utami, 1998:143).

Dari beberapa kutipan tersebut tampa kjelas bagaimana tokoh-tokoh perempuan dalam novel tersebut merasa terbelenggu dalam kultur patriarki daningin bebas darinya. Penolakan terhadap dominasi patriarki juga tampak pada ketersinggungan Laila atas sikap Saman, ketika Sihar menyuruhnya menyingkir karena dia akan berbicara berdua dengan Saman, dengan dalih yang mereka bicarakan adalah urusan laki-laki.

“Ada satu hal yang mengeherankan dan tidak menyenangkan saya dalam perjalanan ini. Disebuah restoran di Prabumulih, Saman meminta saya masuk ke dalam dulu.Saya menolak, tetapi ia terkesan memaksa, sebab mereka perlu bicara berdua saja. “Urusanlelaki,” kataSaman. Itu membuat saya tersinggung, tetapi juga heran. Dulu Saman tidak begitu malah saman cenderung menghapuskan kelas kelas urusan lelaki dan perempuan.” (Utami,2008:33).

Secara tersirat Ayu Utami ingin memberikan gambaran bahwa tidak penting pada zaman sekarang untuk menggunakan nama atau keterangan tentang asal-usul seorang ayah, padahal di sisi yang lain mengesampingkan nama ibu kita.


“Aku ingin sekali melihat tanah raksasa, rumah mereka yang besar-besar, jalanannya, tikusnya serta kucingnya. Terutama juga agar aku bisa pergi amat jauh dari ayah dan kakakku yang tidak kuhormati…..pada masa lampau kami boleh memilih nama kami sendiri…..tapi orang-orang masa kini lahir, dan kantor pengadilan mematri nama mereka pada akte seperti sekali kutukan untuk seumur hidup. Kenapa pula aku harus memakai nama ayahku? Bagaimana dengan nama ibuku?” (Ayu Utami, 2008: 140-141).


Gugatan juga bukan hanya diajukan kepada para lelaki saja, tapi melalui beberapa tokohnya, Ayu Utami juga menggugat dan menyalahkan Tuhan atas keadaan yang terjadi pada para wanita. Ini terlihat dalam kutipan berikut:
“Apa salah laki-laki? Jawab Laila: sebab mereka mengkhianati wanita. Mereka Cuma menginginkan keperawanan keperawanan, dan akan pergi setelah si wanita menyerahkan kesucian…..sebab menurutku yang curang lagi-lagi Tuhan: dia menciptakan selaput dara tapi tidak membikin selaput penis.” (Ayu Utami, 2008: 152)

Shakuntala memprotes budaya yang menunjukkan dominasi laki-laki yang tampak pada aturan yang mewajibkan seorang anak yang belum menikah mencantumkan nama ayahnya dalam visanya.
“Kenapa ayahku harus tetap memiliki bagian dariku? Tapi hari-hari ini semakin banyak orang Jawa tiru-tiru Belanda. Suami istri memberi nama sibapak pada bayi mereka sambil menduga anaknya bahagia dan beruntung karena dilahirkan. Alangkah melesetnya. Alangkah naifnya.” (Utami,1998 : 140).

Dalam perspektif sosiologi karyasastra, sosok, karakter dan gagasan para perempuan dalam Saman, dapat dipandang sebagai bentuk representasi dari kondisi perempuan Indonesia 1990-an, yang sesuai dengan latar waktu dalam novel tersebut.

BAB III
KESIMPULAN

perempuan dalam Saman, dapat dipandang sebagai bentuk representasi dari kondisi perempuan Indonesia 1990-an, yang sesuai dengan latar waktu dalam novel tersebut. Ada yang menarik dari teknik sudut pandang dalam novel ini. Ketika yang diceritakan tokoh-tokoh perempuan, ternyata narator menggunakan sudut pandang akuan, sehingga ada dua akuan disini. Akuan Laila pada bagian awal novel dan akuan Shakuntala pada bagian tengah novel.

Berbicara tentang sebuah karya sastra, tidak akan terlepas dari nilai-nilai etika dan estetika, sehingga orang yang menikmati karya sastra akan merasa berada dalam lingkup kehidupan yang diciptakan karya sastra tersebut. Karya sastra dapat berguna karena isi yang terkandung di dalamnya bermanfaat bagi pembaca. Oleh sebab itu, sastra dijadikan suatu wadah oleh pengarang untuk menyampaikan ide-ide, imajinasi, dan pikirannya melalui novel, sebagai salah satu jenis karya sastra.

DAFTAR PUSTAKA
Siti Aminah, “Gender, Politik, Dan Patriarki Kapitalisme dalam Perspektif Feminis Sosialis”, Jurnal Politik Indonesia, 2012

Ni luh Arjani, “Feminisasi Kemiskinan dalam Kultur Patriarki”

Cahyono, 2005: “ Wajah Kemiskinan Wajah Perempuan” dalam Jurnal Perempuan. No. 42. Jakarta Yayasan Jurnal Perempuan

http://assyita.blogspot.com/2008/10/arus-gelombang-feminisme-novel-saman.html
Posted in Novel Kontemporer | Leave a comment

Analisis Semiotika Puisi TAPI Karya Sutardji Calzoum Bachri

Analisis Semiotika Puisi TAPI Karya Sutardji Calzoum Bachri

Oleh: kelompok 5

Khairul Ni’mah (I1B116010)
Ika Wahyuningsi (I1B116011)
Netti Hardiyanti (I1B116012)

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Karya sastra adalah hasil atau bentuk apresiasi seseorang terhadap apa yang dialaminya yang memiliki keindahan dan keunikan bagi penikmatnya yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra, dimana puisi adalah kegiatan kreatif manusia yang dijelmakan dalam medium bahasa. Membicarakan puisi berarti membicarakan kebahasaan puisi.


Puisi merupakan karya estetis yang memanfaatkan sarana bahasa yang khas Suminto (dalam Diah Eka, 2016: 01). Dalam praktek kepenulisannya, puisi memiliki banyak ragam bentuk mengikuti perkembangan zaman seperti yang diungkapkan Riffatere (1978: 1) bahwa puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya. Keragaman puisi disebabkan oleh perbedaan zaman dan generasi yang terus menciptakan karya-karya baru.


Setiap pengarang menulis puisi berdasarkan ekspresi perasaannya sehingga bahasa yang digunakan bisa dimaknai berbeda. Setiap puisi yang dibuat oleh penyair tentu memiliki makna dan arti di dalamnya yang tidak diketahui secara implisit. Puisi adalah bentuk kesusastraan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dengan menggunakan bahasa pilihan. Puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan dan merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama.


Salah satu penyair indonesia yang terkenal yaitu Sutardji Calzoum Bachri atau yang dijuluki presiden penyair. Sutardzi merupakan pencentus lahirnya sastra kontemporer dimana karyanya ataupun kumpulan puisi-puisinya yang keluar dari aturan-aturan yang ada sehingga menghasilkan bentuk baru, yang menjadikannya berbeda dengan penulis puisi lainnya yang bersifat konvensional.


Puisi sutardji yang berjudul tapi pada kumpulan puisi o amuk kapak ini, merupakan salah satu bentuk karyanya yang memiliki makna dan bentuk tulisan yang menarik untuk dianalisis karena banyak menggunakan tanda ataupun simbol yang membuat pembaca bingung. Karena, cara pandang presiden penyair ini sangat berbeda dengan penulis-penulis puisi lainnya seperti chairil, Goenawan Mohamad, Amir Hamzah dan lain-lain.
Puisi sebagai salah satu karya sastra dapat dianalisis dari bermacam-macam aspeknya. Apresiasi puisi tidak mungkin hanya terpaut pada kajian intrinsik semata tetapi harus mencakup pada keseluruhan unsur tanda (bentuk), isi, dan konteks, yang dapat membawa pembaca pada pemahaman secara menyeluruh tentang puisi itu menjadi hal yang sangat penting.
Analisis menggunakan pendekatan semiotik dengan tujuan memahami makna yang terkandung dalam puisi.

Menganalisis puisi adalah usaha menangkap dan memberi makna pada teks puisi. Dalam semiotika riffatere khsusnya lebih mengupas makna yang ada dalam teks puisi. Menggali makna yang terdapat dalam puisi merupakan bentuk apresiasi yang sangat menarik untuk di bahas, karena dalam puisi memiliki kandungan makna yang sangat mendalam sehingga perlu sebuah kajian untuk mengupas dan membongkar secara rinci untuk mengetahui kronologis pembentukan makna yang ada dalam puisi.


Oleh karena itu, pemakalah menggunakan Analisis Semiotika Pada Puisi Tapi Karya Sutardji Calzoum Bachri.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas pemakalah merumuskan satu permasalahan yaitu, bagaimana bentuk analisis semiotika pada puisi tapi karya Sutardji Calzoum Bachri.

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah mengetahui bagaimana bentuk analisis semiotika pada pusi tapi karya Sutardji Calzoum Bachri.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Substansi Teori Semiotika Riffaterre
Secara umum semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain. Konvensi yang memungkinkan suatu objek, peristiwa, atau suatu gejala kebudayaan, menjadi tanda itu disebut juga sebagai kode sosial.


Menurut Eco dalam Faruk (1994: 43-44). Artinya tanda-tanda dari setiap objek, peristiwa maupun kebudayaan memiliki makna yang tersirat dalam sebuah teks. Oleh karenanya makna dalam karya sastra merupakan hal yang sangat penting.
Dalam semiotika Riffaterre menggagas sebuah teori semiotika puisi melalui dialek antara teks dan pembaca (Teeuw, 1991:64). Artinya teks dan pembaca memiliki hubungan yang saling berkesinambungan untuk sebuah proses pembentukan makna.

Teks tanpa pembaca tak akan ada artinya karena hanya akan bernilaihampa, begitupun berlaku sebaliknya. Untuk mengungkap sebuah makna tentu dibutuhkan orang yang dinamakan pembaca. Dengan adanya pembaca, makna dalam teks dapat di ketahui dan di analisis. Dengan pembaca makna dalam tek diberikan oleh si pembaca untuk mengetahui unsur-unsur maupun propaganda yang terdapat dalam teks.

Kehadiran pembaca sangat di butuhkan dalm proses analisi semiotika ini khususnya semiotika Riffaterre.
Secara garis besar semiotika Riffaterre dibagi menjadi empat, pertama ekspresi tidak langsung, pembacaan teks secara heuristik dan hermeneutik, matriks, model dan varian, dan hipogram (Pradopo, 2005:281). Dengan keempat langkah-langkah yang di tawarkan oleh Riffaterre, menganalisis makna yang terdapat dalam puisi akan lebih mudah didapat dan dipahami. Keempat langkah tersebut harus dilakukan untuk mendapatkan makna maupun kode-kode dalam puisi.

A. Ekspresi Tidak Langsung
Dalam pembacaan puisi maupun kosa kata yang dipakai dalam puisi tidak ada makna yang menggambarkan secara langsung. Pasti penggunaan kata-kata dalam puisi memiliki makna yang di sampaikan dengan mengiaskan atau mengandaikan. Tentu melalui proses pemaknaan masing-masing individu.


Seperti yang Riffatterre kemukakan dalam bukunya yang berjudul semiotics of poetry mengatakan bahwa puisi dari waktu ke waktu senantiasa berubah. Perubahan itu disebabkan oleh perbedaan konsep estetik dan evolusi selera. Namun ada satu hal yang tidak mengalami perubahan yakni, puisi itu merupakan ekpresi tidak langsung (1978: 1). Ekpsresi tidak langsug menurut Riffaterre diakibatkan oleh tiga hal yakni, displacing (penggantian), distorting (perusakan) dan creating (penciptaan) of meaning (arti) (1978: 1).
• Penggantian arti (displacing meaning)
Penggantian arti (displacing of meaning) adalah perubahan arti dari kata-kata yang ada pada puisi tidak menggunakan arti yang sebenarnya. Biasanya puisi seperti itu menggunakan majas. Majas yang digunakan dalam penggantian arti adalah metonimi dan metafora.

Pada buku karangan Pradopo, Alterbernd menjelaskan bahwa metafora adalah kiasan yang menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama dengan sesuatu lain yang sebenarnya tidak ada kaitan sama sekali. Metonimi adalah kiasan pengganti nama seperti Sungai Ciliwung yang diganti namanya dengan Sungai Kesayangan dalam sajak Toto Sudarto Bachtiar (Setyarini, 2010, p 22).
• Perusakan atau penyimpangan arti (Distorting meaning)
Dikebanyakan puisi, kata-kata atau kalimat yang digunakan sering terjadi sebuah penyimpangan arti yang di akibatkan tiga hal menurut Riffaterre, yakni ambiguitas, kontradiksi dan nonsense (1978: 2). Ambiguitas dapat terjadi pada kata, frasa, kalimat, maupun wacana yang disebabkan oleh munculnya penafsiran yang berbeda-beda menurut konteksnya. Kontradiksi adalah penggunaan kata-kata yang paradok, ironi dan antithesis. Sedangkan, non-sense adalah kata-kata yang tidak mempunyai arti (sesuai kamus) tetapi mempunyai makna “gaib” sesuai dengan konteks (Salam, 2009:4).
• Penciptaan arti (creating meaning)
Penciptaan arti baru terjadi karena di sebabkan oleh adanya bentuk visual yang meliputi, rima, enjambement, dan tipografi (Riffaterre, 1978:2). Artinya visualisasi dalam puisi mampu menciptakan sebuah arti baru seperti, rima, emjambement dan tipografi yang membuat penciptaan arti baru dalam puisi. Sehingga dalam pemaknaan dalam puisi terjadi pemaknaan baru (creating meaning).

B. Heuristik dan Hermeneutik
Heuristik adalah pembacaan tahap pertama pada puisi yang dilakukan oleh pembaca. Dimana dalam tahap pertama ini pembacaan teks sesuai dengan tata bahasa yang sintaksis, morfologis, normatif dan semantik. Artinya dalam pembacaan heuristik menghasilkan teks secara menyeluruh sesuai tata bahasa yang normatif dengan sistem semiotik. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda-tanda dari tingkat mimetik ke tingkat pemaknaan yang lebih tinggi.


Dalam pembacaan heuritsik ini disebut sebagai pembacaan tahap pertama karena pembaca dituntut untuk memahami puisi dari keseluruhan. Artinya dalam tahap pertama ini, pembaca hanya membaca di bagian luarnya sebelum memahami ke tahap yang kedua atau yang disebut hermeneutik. Di tahap yang pertama ini, proses dekoding terjadi dengan membaca teks secara keseluruhan untui medapatkan arti keseluruhan. Pembacaan heuristik tidaklah cukup untuk memahami dan menangkap makna dalam puisi yang sesungguhnya, oleh karena itu diperlukan tahap hermeneutic atau disebut pembacaan tahap kedua.


Dalam pembacaan hermeneutik, tentu tak lepas dari tahap pembacaan heuristik terlebih dahulu yang harus dilalui karena heuristik merupakan proses pembacaan tahap pertama untuk mengetahui makna teks keseluruhan secara menyeluruh yang hanya dipahami bagian luar saja.

Hermeneutik sebagai lanjutan dari tahap heuristik sebelumnya, menyajikan sebuah pemahaman yang lebih mendalam dan rinci. Hermeneutik disebut juga pembacaan tahap kedua atau retroaktif. Artinya pembaca melakukan pencarian makna secara mendalam yang didasarkan pada konvensi sastra. Proses decoding terjadi dalam tahap ini karena dalam tahap pertama dimana pembaca sudah membaca secara keseluruhan meskipun masih tahap awal namun di tahap hermeneutik, pembaca lebih paham untuk memahami teks lebih jauh dan mendalam. Segala sesuatu yang pada tahap heuristic, pembaca sesuatu yang tidak koheren antar kata atau kalimat, dalam tahap ini menemukan fakta-fakta yang berhubungan satu sama lain. Pembaca mulai dapat memahami dari yang awalnya mendapatkan makna atau arti yang ambigu menjadi jelas.

C. Matriks, Varian dan Model (kata kunci)
Puisi menjadi sebuah impian untuk seorang penyair cinta maupun kehidupan. Namun dalam perkembangannya matriks menjadi model yang di transformasikan menjadi varia-varian oleh seorang penyair yang dalam bentuk puisi. Riffaterre dalam bukunya yang berjudul semiotics of poetry mengatakan bahwa matriks ini berupa satu kata, gabungan kata, bagian kalimat sederhana (Riffaterre, 1978:25). Itu artinya bahwa matriks dalam karya sastra, puisi khususnya sangatlah menentukan keindahannya dikarenakan matrik di poles atau dibungkus oleh model yang biasanya berupa kiasan untuk mengiaskan sebuah kata-kata dalam puisi. Sehingga, keindahan matriks dalam puisi sangatlah menentukan karena matriks tidak secara jelas (butuh penafsiran hermeneutik) di gambarkan dalam puisi, bentuk varian yang menjelaskan matriks dalam puisi secara lugas dan gamblang. Untuk “membuka” sajak supaya dapat mudah dipahami, dalam konkretisasi puisi, haruslah dicari matriks atau kata-(kata) kuncinya. Kata-kata kunci adalah kata yang menjadi kunci penafsiran sajak yang dikonkretisasikan (Pradopo, 2010: 299). Artinya matriks adalah kata kunci yang yang terdapat dalam teks puisi yang menjadi model-model dalam kata-kata puisi dan ditransformasikan kedalam varian-varian.

D. Hipogram (hubungan intertekstual)
Untuk mengetahui makna dalam puisi diperlukan cara lain yakni dengan cara hipogram atau melihat makna hubungan antar sajak dalam teks sastra. Dikemukakan oleh Riffaterre dalam Pradopo (2010: 300) bahwa sajak itu adalah response (jawaban, tanggapan) terhadap sajak sebelumnya. Artinya sajak satu dengan sajak yang lain adalah jawaban dari sajak sebelumnya yang membuat puisi itu mengalami sebuah ambiguitas, kontradiksi maupun nonsense.


Riffaterre mengatakan bahwa sajak itu adalah jawaban atau tanggapan terhadap sajak sebelumnya. Tanpa menempatkan sajak pada urutan kesejarahan, maka makna sebenarnya sajak itu tidak akan terungkap. Menurut Riffaterre dikutip dalam bukunya Teeuw meyakini bahwa karya sastra tidak lahir dalam kekosongan budaya. Karya sastra ada sebagai sarana komunikasi, yang maknanya dapat berupa penyimpangan atau tanggapan dari karya sastra sebelumnya (2003, p. 67). Artinya karya sastra lahir dari sebuah fenomena-fenomena sosial maupun konflik sosial dari gejala itulah karya sastra lahir. Sehingga karya di sebutkan bahwa karya sastra lahir tidak dalam kekosongan budaya melainkan dari segala bentuk permasalahan sosial yang dituangkan kedalam karya sastra, sehingga dalam karya sastra memiliki makna yang tersirat yang harus dikupas secara mendalam.
Dengan adanya gejala maupun konflik yang ada, maka penyair melakukan peresapan dan penghayatan terhadap peristiwa yang di transformasikan kedalam sajak. Transformasi ini disebut sebagai hipogram oleh Rifatterre (Pradopo, 2005, p. 300). Dalam artian lain hipogram merupakan sebuah sistem tanda yang berisi setidaknya sebuah pernyataan yang bisa saja sebesar sebuah teks, bisa hanya berupa potensi sehingga terlihat dalam tataran kebahasaan, atau bisa juga aktual sehingga terlihat dalam teks sebelumnya (Riffaterre, 1978, p. 23). Sehingga dapat di artikan bahwa hipogram adalah teks tidak dapat terlepas dari teks sebelumnya yang menjadi latar penciptaan teks baru.

2.2 Analisis Puisi “Tapi” Karya Sutardji Calzoum Bachri
Puisi “Tapi”
KaryaSutardjiCalzoumBachri
TAPI
aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku cpadamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
wah!
(sutardji, 1981:91)

Puisi “Tapi” karangan Sutardji Calzoum Bachri menggambarkan sebuah pertentangan antara aku dan kau sehingga apa pun yang dibawa oleh aku selalu tak bermakna di mata kau. Adanya pemisahan antara baris aku dan kau seolah menggambarkan perrcakapan antara dua orang yang tak akan pernah sejajar seperti seorang yang sedang menalin asmara atau juga seperti Hamba dengan Tuhannya.


Dari segi kasmaran haal ini menggambarkan sebuah pertentangan antara aku dengan kekasihnya akan tetapi secara dalam ketika kita menganalisis dari segi semiotiknya sangat terlihat jelas tepatnya adalah hubungan antara hamba dengan Tuhan. Bahwa seorang hamba tidak mungkin membawa bunga pada Tuhannya seperti pada baris pertama puisi aku bawakan bunga padamu. Kata bunga, resah, darah, mimpi, arwah, mayat, dan duka merupakan makna konotasi karena seorang hamba tidak akan membawa hal-hal demikian saat menghadap dengan penciptanya. Sedangkan kata bilang pada puisi merupakan makna konotasi dari firman karena Tuhan biasanya menggunakan kata “firman”.

Pemaknaan puisi dengan teori Riffaterre mencakup empat cara, yaitu melalui ekspresi tidak langsung, pembacaan heuristik dan hermeneutik / retroaktif, mencari matrik, dan mencari hipogram. Akan tetapi, dalam pembahasan kali ini, penyusun hanya menggunakan dua cara yaitu pertama, ekspresi tidak langsung, kedua, pembacaan heuristic dan hermeneutic/ retroaktif.

A. Ekspresi Tidak Langsung
Dalam puisi yang berjudul “Tapi” karya Sutardji, ditemukan ekpresi tidak langsung yang berupa penyimpangan arti. Misalnya dalam kata bunga, resah, darah, mimpi, mayat, arwah. Memiliki berbagai macam arti bagi para pembaca puisi tersebut, tergantung pada pengalaman dan kemampuan masing-masing pembaca. Hal ini yang disebut ambiguitas, yaitu menimbulkan berbagai makna.
Dalam puisi ini penulis mencoba menuliskan pemaknaan yang dapat dianalisis dari beberapa kata kunci pada puisi tersebut yang dapat dilihat sebagai berikut:
• Aku bawakan bunga padamu (sebagai keindahan ataupun cinta)
• tapi kamu bilang masih (belumcukup)
• Aku membawakan keresahannya (ketidaknyamanannya)
• kamu bilang hanya (hanya itu? belumcukup)
• Saat aku membawa darah (pengorbanan)
• Kamu bilang meski (sebanyak apa pun, belum cukup)
• Aku membawa mimpi (cita-cita),
• Tetapi kamu bilang tapi (itu belum juga cukup).
• Aku membawakan mayatku kepadamu (seluruh hidup, penyerahan dirinya),
• Kamu menanggapi hampir (cukup, tetapi masih belum sempurna).
• Aku membawakan arwahku padamu (kepulangan, kebebasan),
• kamu masih bilang kalau (saja, tetapi tidakkan?)
• Akhirnya aku datang tanpa membawa apa pun,
• kamu bilang wah (bias berarti wah-kagum, bias berarti wah-keterlaluan).

Penjelasan di atas adalah analisis pemaknaan yang menurut kelompok kami Segala hal yang dibawa aku untuk kamu tidak berarti sama sekali. Semua itu tidak cukup, tidak sempurna di mata kamu. Tetapi ketika aku tidak membawa apa pun, tanggapan kamu menjadi lain. Bisa berarti kamu kesal (wah-keterlaluan), atau kamu ingin mengungkapkan persetujuan (wah-bagus/kagum).

B. Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik
Pembacaan heuristik merupakan pembacaan tahap awal. Sajak dibaca berdasarkan struktur kebahasaannya. Untuk itulah, kemampuan linguistik pembaca diperlukan pada tahap ini. Hasil pembacaan heuristilk dalam puisi TAPI sebagai berikut:
• Aku bawakan bunga padamu, tapi kau bilang masih (belum cukup).
• Aku bawakan resahku padamu, tapi kau bilang hanya (itu yang bias kaubawa?).
• Aku bawakan darahku padamu, tapi kau bilang meski (darah kau beri, tetap belum cukup).
• Aku bawakan mimpiku padamu, tapi kau bilang tapi (itu hanya mimpi, belum cukup).
• Aku bawakan mayatku padamu, tapi kau bilang hampir (cukup, tetapi belum sempurna).
• Aku bawakan arwahku padamu, tapi kau bilang kalau (saja, tetapi tidak kan?).
• (Akhirnya) tanpa apa (pun) aku datang padamu, (kau bilang).
• Wah! (entah bagus atau tidak).
Pembacaan hermeneutik atau retroaktif adalah sistem semiotika tingkat kedua. Setelah pembacaan heuristik, puisi dibaca ulang dengan bacaan retroaktif, baru kemudian ditafsirkan melalui pembacaan hermeneutic berdasarkan konvensi satra (puisi). Konvensi sastra yang dimaksud dalam puisi “TAPI” yaitu ketak langsungan ekspresi (ambiguitas). Hasil pembacaan retroaktif dan hermeneutik adalah sebagai berikut:
• Ketika manusia bertemu dengan Tuhannya (beribadah) dengan membawa keindahan (pakaian, harta benda-kemewahan) dan cinta yang tidak tulus atau murni dari hati, Tuhan menilai belum sempurna ibadahnya.
• Ketika manusia datang pada Tuhan dengan segala bentuk kekhawatirannya (disampaikan dalam doa), Tuhan mampu member jawaban atas semua masalah, bukan hanya menghilangkan kekhawatiran itu.
• Ketika manusia beribadah dengan segala pengorbanannya, Tuhan menjawab semua pengorbanan itu hanyalah pengorbanan kecil dibandingkan kebesaran-Nya.
• Ketika manusia beribadah dengan segala cita-citanya yang baik, Tuhan menilai cita-citanya barulah harapan (niat), belum dilaksanakan dan diperjuangkan.
• Ketika manusia mulai menyerah dan pasrah terhadap ketentuan Tuhan, Tuhan menilai ibadahnya hampir sempurna.
• Ketika manusia menyerahkan semua kepada-Nya (segalanya berpulang kepada-Nya), Tuhan menilai itu hanya “kalau”. Akan tetapi, ketika manusia beribadah/ kembali kepada-Nya tanpa merasa membawa apa pun, barulah Tuhan menerima ibadahnya atau arwahnya. Sebagai manusia, segala yang dimilikinya adalah milik Tuhan. Semua itu tidak akan berarti apa-apa untuk-Nya, karena Tuhan MahaBesar, memiliki apa yang tidak mungkin dimiliki manusia atau makhluk ciptaan-Nya yang lain. Ketika manusia menyadari kedudukannya adalah serendah-rendahnya sebagai seorang hamba, Tuhan menerimanya dengan segala amal ibadahnya.

C. Tipografi
Dalam analisis puisi TAPI, penulis menggunakan tipografi berantai. Tokoh aku dan tokoh kau terpisah namun bisa menyatu dalam satu pembacaan.

BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Puisi merupakan suatu bentuk ekspresi atau kegelisahan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Pemaknaan puisi akan berbeda-beda tergantung siapa dan menggunakan pandangan apa mereka memaknai puisi.


Pemaknaan puisi dengan teori Riffaterre mencakup empat cara, yaitu melalui ekspresi tidak langsung, pembacaan heuristik dan hermeunetik/retroaktif, mencari matrik, dan mencari hipogram. Akan tetapi, dalam pembahasan kali ini, penyusun hanya menggunakan dua cara yaitu pertama, ekspresi tidak langsung, kedua, pembacaan heuristik dan hermeneutik/retroaktif.

DaftarPustaka

Bachri, Sutardji Calzoum. 1981. O, Amuk, Kapak. Jakarta: SinarHarapan.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: GadjahMada University Press.

Rachmat Djoko Pradop. 2012. Di https://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/628 Saddam Husein. 2016 . Di
https://www.academia.edu/27383069/MAKALAH_Semiotika_Riffaterre_MATA_KULIAH_TEORI_SASTRA_I_Dari_Klasik_Sampai_Modern

Posted in Puisi Kontemporer | Leave a comment

Sosiologi Pembaca dalam Cerpen Keadilan Karya Putu Wijaya

Sosiologi Pembaca dalam Cerpen Keadilan Karya Putu Wijaya

Oleh:
Kelompok 4

Intan Sundari (I1B116007)
Oppi Arianita (I1B116008)
Evi Priana Dewi (I1B116010)

Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd.

Program Studi Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Jambi
2019

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Cerpen merupakan salah satu genre sastra yang termasuk dalam prosa fiksi. Berbeda dengan novel cerpen memiliki struktur cerita yang tidak mengalami perubahan yang signifikan. Seperti halnya karya sastra yang lain, cerpen juga dibangun oleh struktur (unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik). Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya itu sendiri dari dalam. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangun cerita.


Cerita pendek atau cerpen merupakan salah satu karya sastra di Indonesia yang biasanya hanya mengisahkan satu peristiwa kemudian ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Dari sebuah cerpen dapat diambil sebuah pelajaran, di antaranya dapat memberikan pengalaman, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal.


Sebuah cerpen, tidak luput di dalamnya memuat tentang unsur instrinsik, karena sejatinya unsur tersebut adalah pembangun dari karya itu sendiri. Unsur instrinsik tersebut adalah tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang dan amanat. Selain itu, ada unsur ekstrinsik yang ikut andil dalam penciptaan sebuah karya sastra, seperti cerpen. Nah disini kami ingin menganalisis tentang pendekatan sosiologi pembaca terdapat pada cerpen keadilan karya putu wijaya disini kami ada menemukan nilai sosiologi dari cerpen ini.

BAB II
KAJIAN TEORI


2.1 Pengertian Cerpen
Cerpen atau cerita pendek muncul dalam abad ke-19 di Eropa bersamaan dengan munculnya majalah. “Menurut bentuk fisiknya, cerita pendek atau cerpen adalah cerita yang pendek. Tetapi dengan hanya melihat fisiknya yang pendek saja orang belum dapat menetapkan sebuah cerita yang pendek adalah sebuah cerpen” (Sumardjo, 1988: 36).


Menurut Siswanto (2008: 142), cerpen merupakan akronim dari cerita pendek. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cerpen diartikan sebagai kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh di satu situasi (pada suatu ketika).


Poe, sastrawan kenamaan dari Amerika mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira- kira berkisar antara setengah sampai dua jam-suatu hal yang kiranya tidak mungkin dilakukan untuk sebuah novel (Nurgiantoro, 2013: 12).


Sebuah cerpen, tidak luput di dalamnya memuat tentang unsur instrinsik, karena sejatinya unsur tersebut adalah pembangun dari karya itu sendiri. Unsur instrinsik tersebut adalah tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang dan amanat. Selain itu, ada unsur ekstrinsik yang ikut andil dalam penciptaan sebuah karya sastra, seperti cerpen.


Kecenderungan cerpen modern atau kontemporer adalah penekanan pada unsur perwatakan tokohnya. Bukan berarti bahwa pada cerpen lama perwatakan tidak dipentingkan. Penulis cerpen modern banyak menciptakan karakter besar, tokoh cerita dengan watak yang tidak akan kita lupakan. Unsur watak atau karakter dalam cerpen modern menjadi begitu menonjol dan dominan antara lain disebabkan oleh makin berkembangnya ilmu jiwa. Di Indonesia dapat kita sebut putu wijaya, pengarang yang menulis dengan menggunakan unsur tersebut.


2.2 Pendekatan Sosiologi Pembaca
Sosiologi pembaca merupakan salah satu model kajian sosiologi sastra yang memfokuskan perhatian kepada hubungan antara karya sastra dengan pembaca. Hal-hal yang menjadi wilayah kajiannya antara lain adalah permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra, serta sejauh mana karya sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial (Wellek dan Warren, 1994). Di samping itu, juga mengkaji fungsi sosial sastra mengkaji sampai berapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial (Watt, via Damono, 1979). Mempermasalahkan pembaca dan pengaruh sosial karya tersebut, yakni sejauh mana dampak sosial sastra bagi masyarakat pembacanya. pembaca merupakan audiens yang dituju oleh pengarang dalam menciptakan karya sastranya. Dalam hubungannya dengan masyarakat pembaca atau publiknya, menurut Wellek dan Warren (1994). Perlu dilakukan kajian secara empiris mengenai siapa sajakah pembaca yang secara nyata (riel) membaca karya-karya pengarang tertentu.


Beberapa sastrawan Indonesia, juga memiliki publik yang berbeda-beda, sesuai dengan aliran sastra, gaya bahasa, serta isi karya sastranya. Dari cerpen Putu Wijaya berkecenderungan beraliran surealistis, inkonvensional, dan penuh dengan renungan filosofi mengenai hidup manusia lebih sesuai untuk publik yang memiliki latar belakang intelektual perguruan tinggi dan kompetensi sastra yang relatif tinggi. pendekatan sosiologi pembaca menganalisis bagaimana pandangan seorang pembaca dari cerpen keadilan karya putu wijaya tesebut.


Perilaku dan interaksi sosial merupakan akibat dan bagian sistem sosial, yang pada gilirannya merupakan bagian lingkungan sosial. Lingkungan sosial melibatkan berbagai komponen (fisik – non fisik) dalam bentuk tradisi (agama, bahasa, norma, hukum, pengetahuan, dan pola-pola perilaku lainnya). Perilaku dan interaksi sosial bertumpu pada kualitas dan tradisi di dalam kenyataan sosial, yang tidak disadari telah dimanfaatkan dan dimapankan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah perilaku sosial dan interaksi sosial dianggap sebagai ciri khas objek sosiologis.


Metode yang dipakai dalam sosiologi karya adalah analisis teks untuk mengetahui strukturnya, kemudian digunakan untuk memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang ada di luar sastra. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra dipakai untuk memaparkan keterkaitan antar unsur pembangun karya dari aspek sosial yang ada.


2.3 Interaksi Sosial
Pengertian Interaksi Sosial
Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa mempunyai kecenderungan untuk hidup bersama dalam suatu bentuk pergaulan hidup yang disebut masyarakat. Dengan kata lain, manusia memerlukan hubungan dengan lingkungannya yang menggiatkannya, merangsang perkembangannya, atau yang memberikan sesuatu yang ia perlukan. Sehingga menyebabkan manusia dapat menggunakan lingkungannya, berpartisipasi dengan lingkungannya, menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau bertentangan dengan lingkungannya. Hubungan itu dapat juga disebut interaksi.


Interaksi dapat juga memengaruhi, mengubah, dan memperbaiki perilaku sesorang, atau sebaliknya yang menyebabkan kegiatan hidup seseorang menjadi bervariasi dan kompleks. Jika salah seorang melakukan aksi dan orang lain tidak melakukan reaksi, interaksi tidak akan terjadi. Oleh karena itu, interaksi sosial dapat terjadi apabila dua belah pihak saling berhubungan.


Roucek (dalam Abdulsyani: 2012: ) menyatakan bahwa interaksi merupakan proses timbal balik, dengan mana satu kelompok dipengaruhi tingkah laku reaktif pihak lain dan dengan demikian ia mempengaruhi tingkah laku orang lain. Interaksi sosial menurut H. Bonner dalam bukunya Social Psychology, adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya.



Dalam kontak sosial, dapat terjadi hubungan yang positif dan negatif. Kontak sosial positif dapat terjadi karena hubungan kedua belah pihak terdapat saling pengertian sehingga hubungan dapat mengarah pada suatu kerja sama. Sedangkan kontak sosial negatif dapat terjadi karena hubungan antara kedua belah pihak tidak melahirkan saling pengertian, sehingga mengakibatkan suatu pertentangan atau perselisihan.

2.4 Analisis Unsur Instrinsik Cerpen keadilan Karya Putu Wijaya
Tema
Tema adalah ide pokok suatu cerita dan merupakan suatu landasan bagi pengarang untuk menulis ceritanya (Sayuti, 2000: 31). Dalam sebuah penulisan, sejatinya pengarang dalam menuangkan idenya tidak hanya ingin sekedar bercerita belaka, tapi ia mau menyampaikan sesuatu yang dianggapnya berguna kepada pembacanya. Keberadaan suatu cerita yang ditampilkan pengarang dapat berupa suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya, atau komentar tentang kehidupan.


Cerpen keadilan karya Putu Wijaya ini menceritakan tentang ketidak adilan yang dihadapi oleh pembeli es. Konflik yang membuat antara penjual dan pembeli es ini menjadi kesalah pahaman. Namun sejatinya kesabaran masih tampak pada pembeli es yang Ia merasa telah menyelamatkan nyawa orang itu, tapi orang itu malah menuntut. melalui tema, pembaca dapat memahami makna yang disampaikan pengarang. Pengarang membuat cerpen ini karena merasakan keadilan susah tidak ditegakan lagi didunia ini, dan nilai sosial antara penjual dan pembeli.


Tokoh dan penokohan
a) Tokoh pak amat : sabar, penolong.
hal ini tedapat dalam kutipan :
“Pak Sersan, maaf itu salah saya. Anak-anak itu protes karena saya minta didahulukan. Saya minta maaf, saya yang salah”
b) Penjual es : tidak berterima kasih
Hal ini terdapat dalam kutipan :
“Bapak yang beli es kemarin yang deket lapangan? mana gelasnya, Bapak belum kembalikan. Itu harganya 50 ribu satu gelas, itu gelas kristal.”
c) Pak sersan : pemarah
Hal ini terdapat dalam kutipan :
“jangan rebut! Tiba-tiba pak sersan meletuskan pistolnya”
“…Tidak! Bangsat ini yang salah. Kalau dia tidak bawa es pudengnya keluar masuk kampung kita…”


Alur
Salah satu elemen terpenting dalam membentuk sebuah karya fiksi adalah plot cerita. Dalam analisis cerita, plot sering pula disebut alur. Plot atau alur ialah jalan cerita yang berupa peristiwa-peristiwa yang disusun satu-persatu saling berkaitan menurut hukum sebab akibat dari awal hingga akhir cerita. Jadi, peristiwa yang lain itu juga akan menjadi sebab bagi timbulnya peristiwa berikutnya dan seterusnya sampai akhir cerita (Suroto, 1989: 89).


Kemudian menurut Sayuti (2000: 31), alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan kausalitas.Secara garis besar alur dibagi dalam tiga bagian, yaitu awal, tengah, dan akhir.


Bagian awal struktur terdiri dari paparan, rangsangan, dan ketidakadilan. Pada bagian awal cerpen keadilan ini, penulis memaparkan gambaran situasi dan kondisi sebagai pijakan awal dimulainya cerita. Situasi yang digambarkan merupakan sebuah rangsangan untuk pengenalan masalah yang diangkat dalam cerita ini. Awal dari cerita dimulai dengan toko penjual es tentang awal mula, penyebab atau akar dari permasalahan dalam dibaca pada kutipan berikut:
“Pada suatu hari yang terik, sementara anak-anak di alun-alun menaikkan layangannya, tukang es pudeng itu lewat “

Kemudian setelah pengenalan masalah tersebut, terjadilah konflik yang membuat jalan cerita ini menjadi menarik sehingga pembaca tenggelam dalam rasa simpati dan empatik yang mendalam pada tokoh cerita ini. Masalah atau konflik terjadi ketika penjual es yang dimahari dan ditembak oleh pak sersan Hal ini dapat dibaca pada kutipan berikut:
“akibatnya jelek sekali. Pintu rumah terkuak lebar. Pak Sersan muncul sambil mengacungkan pistolnya”
“Tidak! Bangsat ini yang salah. Kalau dia tidak bawa es pudengnya keluar masuk kampung kita, anak-anak tidak akan punya kebiasaan beli es sampai sakit-sakit seperti anakku, yang walaupun sudah sakit masih teriak-teriak minta es, kalau terdengar kelenengannya lewat celaka.”

Berdasarkan struktur alur di atas, maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dalam alur maju mundur Dikatakan demikian karena dalam cerpen ini mencerita kan pada masa yang lalu dan yang terjadi sekarang, yang mana kisah nya menceritakan tentang keadilan masa dulu dan masa sekarang.
Latar
a. Latar tempat:

  1. perkampungan yang terletak di sudut alun-alun daerah Bali.
  2. rumah Pak Sersan.
    Hal ini dilihat dari pendeskripsian tokoh, pak amat, penjual es, dan pak sersan :
    “Pada suatu hari yang terik, sementara anak-anak di alun-alun menaikkan layangannya, tukang es pudeng itu lewat. Pak Sersan yang rumahnya di sudut alun-alun berteriak memanggil, anaknya merengek-rengek minta es pudeng”
    “ada saat banyak pedagang es pudeng dari Jawa berkeliaran di Bali”
    b. latar waktu
    menunjukan latar waktu yaitu pada siang hari
    hal ini dapat dilihat dalam kutipan :
    “Pada suatu hari yang terik, sementara anak-anak di alun-alun menaikkan layangannya, tukang es pudeng itu lewat”
    c. latar suasana
    Suasana disini terlihat tegang dan sedih.
    Pengarang menceritakan latar suasana disini sangat menegangkan, dibuat sedemikian rupa untuk membuat pembaca terbawa suasana.
    Hal ini terdapat dalam kutipan:
    “Tiba-tiba Pak Sersan meletuskan pistolnya. Semua mendadak terdiam. Anak-anak ketakutan, tukang es pudeng pucat pasi” “Pak Amat menaruh uang sepuluh ribu di atas salah satu gelas tukang es itu. Lalu, dengan perasaan hancur lebur, ia berbalik dan pergi”

Sudut padang
Sudut pandang dalam cerpen ini adalah sebagai orang ketiga serba tahu. Setiap tokoh diceritakan pengarang berdasarkan kejadian cerita dan perannya dalam cerita.Tokoh utama diberi nama Pak Amat, Pak Amat berperan menjadi tokoh utama yang menjadikan cerita lebih hidup. Tidak ditemukan sudut pandang aku pengarang sebagai tokoh. Dalam cerita ini jelas semua tokoh diposisikan dalam sudut pandang orang ketiga. Pengarang dalam ceritanya menggunakan gaya bahasa yang disampaikan dalam cerita merupakan gaya bahasa pada umumnya sering digunakan, yaitu gaya berbahasa sehari-hari. Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen ini menggunakan bahasa indonesia yang mudah di pahami oleh pembaca. Konflik adalah pertentangan antara tokoh dengan alam,dengan tokoh lain, atau dengan dirinya sendiri. bentuknya dapat berupa konflik fisik (perkelahian) konflik ide (pertentangan dua pendapat), atau konflik batin (pergolakan batin).Konflik yang terdapat pada cerpen ini adalah konflik fisik.konflik fisik disini ditunjukan oleh Pak Sersan dan tukang es . Pak Sersan meletuskan pistolnya dan menodongkannya kepada tukang es. Sedangkan konflik fisik yang ditunjukan tukang es yaitu kepada Pak Amat ketika tukang e situ melukai tangan Pak Amat. Seperti berikut.
“Pak Sersan menggeleng dan menodongkan senjatanya ke tukang es itu” “Tidak! Bangsat ini yang salah. Kalau dia tidak bawa es pudengnya keluar masuk kampung kita, anak-anak tidak akan punya kebiasaan beli es sampai sakit-sakit seperti anakku, yang walaupun sudah sakit masih teriak-teriak minta es, kalau terdengar kelenengannya lewat. Dan, dia tahu sekali itu. Minggat! Sebelum aku tembak kamu. Aku sudah banyak bunuh Portugis di Timtim, nambah satu tidak apa! Minggat!” “Pak Amat merasa itu tidak lucu lagi. Ia merasa telah menyelamatkan nyawa orang itu, tapi orang itu malah menuntut. Pak Amat lalu melangkah, tapi orang itu tiba-tiba mengeluarkan celuritnya dan menyerang. Pak Amat masih sempat mengelak tapi tangannya terluka.”


Amanat
Amanat disampaikan secara langsung oleh pengarang melaui tokoh yang diceritakan oleh pengarang. Amanat yang dapat dipetik dari cerpen “Keadilan” Karya Putu Wijaya, kita sebagai manusia yang hidup berdampingan haruslah memiliki sikap yang baik contoh halnya seperti Pak Amat. Ia sudah baik menolong akan tetapi ia malah dihina dan dilukai, saking sabarnya ia tidak membalas perlakuan tukang es itu. Hendaklah menjadi manusia yang selalu berbuat kebaikan meskipun tidak dibalas dengan kebaikan lagi. Saling menghargai menjadi kunci kehidupan karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri melainkan hidup saling berdampingan bersama orang lain, dan tidak dapat dipungkiri bahwasannya seorang manusia pasti sering melakukan kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja. Sebagai manusia kita hendaknya saling mengingatkan kea rah yang lebih baik. Menunduklah jangan sampai kita selalu menegakan kepala kita.

2.5 Analisis Sosiologi pembaca pada Cerpen keadilan Karya Putu Wijaya
Setelah dibaca dan mencoba memandang dari sudut sosiologi Putu Wijaya mencoba untuk memberikan pandangan berbeda tentang orang-orang di luar sana, yaitu bahwa masih ada orang yang baik ingin membantu kita tanpa meminta balasan, masih ada masyarakat yang sosialis bukan individualis dan masih ada orang yang sudah ditolong malahan tidak bertima kasih, malahan menyudutkan seseorang tersebut dengan cara menagih gelas yang terbawa oleh pak amat tersebut.


Hal ini hendak disampaikan pengarang juga adalah bahwa setiap manusia yang ingin menolong tidak harus meminta balas budi. Tetapi kita harus tetap menerapkan keadilan di kehidupan sosial dalam masyrakat dan saling bantu membantu dan tidak pandang bulu.


Putu Wijaya mencoba mengkritik sosial dan interaksi sosial dan keadilan di Indonesia sendiri. Ia mecoba mengatakan dalam cerpennya, indonesia seharusnya bisa lebih baik dari negara barat. Mungkin saja, pengarang mulai jenuh dengan ketidakadilan dalam kehidupan sosial itu sendiri, terkait dengan pengarang juga memandang perbuatan baik dan perbuatan buruk. Perbuatan baik disini yaitu yang dilakukan oleh Pak Amat yang berusaha menolong tukang es dari amukan Pak Sersan. Terlihat Pak Amat berusaha melerai percekcokan diantara mereka, niat Pak Amat sangat baik. Namun siapa sangka niat baiknya berujung penghinaan dan tumpah darah yang terjadi pada Pak Amat. Sedangkan perbuatan buruk disini terjadi pada Pak Sersan dan tukang es. Mereka sama-sama mempunyai budi pekerti yang buruk dan emosional yang tinggi. Pak Sersan disini diceritakan sebagai Aparat, tetapi sebagai aparat ia harus bisa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Cerpen ini merupakan cerpen kontemporer yang lebih menitik beratkan kepada penokohan dari setiap tokoh. Cerpen ini berusaha menghadirkan sisi lain dari negara kapitalis yang tujuannya adalah untuk mengkritik negara pengarang sendiri, agar adanya keadilan dalam kehidupan masyarakat, agar tidak lagi individualis dan agar bisa membuka mata terhadap sekitar, serta agar lebih meningkatkan jiwa sosial terhadap sesame manusia.

Daftar Pustaka
Segandiyohannes. 2016 mengenal 25 teori pengkajian sastra, Yogyakarta : ombak
Nurgiyantoro. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjahmada University Press
Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo
Sumardjo. 1988. Apresiasi Kesusteraan. Jakarta: Gramedia
Ratna, N.K. 2009. Stilistika. Bandung: Remaja Rosdakarya

Posted in Cerpen Kontemporer | Leave a comment

Analisis Cerpen Orez Karya Budi Darma Menggunakan Sosiologi Sastra Teks

Analisis Cerpen Orez Karya Budi Darma
Menggunakan Sosiologi Sastra Teks

Oleh:
Kelompok 3

Nani Fitri Ramadhani (I1B116004)
Shella Syaputri (I1B116005)
Silvia Rosita Dewi (I1B116006)

Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd.

Program Studi Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Jambi
2019

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Sastra adalah fiksi yang sangat berpengaruh, Ia bukan hanya cerita khayal atau angan dari pengarang saja, melainkan wujud dari kreativitas dan imajinasi pengarang dalam menggali dan mengolah gagasan yang ada dalam pikirannya melalui pandangan terhadap lingkungan sosial yang berada di sekelilingnya.


Sastra hadir sebagai perenungan pengarang terhadap fenomena yang ada, biasanya pengarang berusaha mengungkapkan suka duka kehidupan masyarakat yang juga ia rasakan. Dari kehidupan masyarakat tersebut, terdapat beberapa permasalahan kehidupan yang mencakup hubungan sesama masyarakat, manusia, manusia dengan Tuhannya maupun antar peristiwa yang terjadi. Gambaran sosial masyarakat tersebut yang kemudian dituangkan pengarang ke dalam sebuah cerita, seperti novel dan cerita pendek.


Cerita pendek atau cerpen merupakan salah satu karya sastra di Indonesia yang biasanya hanya mengisahkan satu peristiwa kemudian ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Dari sebuah cerpen dapat diambil sebuah pelajaran, di antaranya dapat memberikan pengalaman, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal.


Orang-orang Bloomington merupakan kumpulan cerpen karya Budi Darma yang diterbitkan pada tahun 1980. Kumpulan cerpen ini ditulis pengarang pada periode akhir 1970-an yang terdiri dari tujuh cerpen yaitu Laki-laki Tua Tanpa Nama, Joshua Karabish, Keluarga M, Orez, Yorrick, Ny. Elberhart, dan Charles Lebourne. Dalam analisis cerpen kontemporer ini, dipilih cerpen Orez. Meskipun cerpen ini tergolong cerpen lama, tapi Ia masih bisa dikatakan kontemporer, karena cerpen ini menghadirkan permasalahan yang masih relevan sampai zaman sekarang.


Pada zaman globalisasi sekarang, interaksi sosial sangat dibutuhkan oleh seluruh manusia untuk keberhasilan hidup, karena pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri, dengan kata lain, manusia mempunyai kecenderungan untuk hidup bersama. Dalam hidup bersama atau bermasyarakat, manusia senantiasa dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia hidup, salah satunya dengan cara berinteraksi. Namun, ada beberapa masalah yang dapat terjadi pada manusia dalam berinteraksi.


Masalah tersebut tidak hanya terjadi di dalam cerita yang dituliskan Budi Darma saja, melainkan di kehidupan sehari-hari, seperti kesulitan berinteraksi sesama manusia yang dipicu oleh faktor kurangnya sosialisasi, kurangnya perhatian dan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar, teknologi yang sudah semakin maju, dan faktor luar seperti pengaruh budaya asing. Selain itu, ada hal absurd absurd dan terbaru yang dicoba untuk disajikan oleh Budi Darma melalui teks cerpen Orez.

BAB II
KAJIAN TEORI


2.1 Hakikat Cerpen
Pengertian Cerpen
Cerpen atau cerita pendek muncul dalam abad ke-19 di Eropa bersamaan dengan munculnya majalah. “Menurut bentuk fisiknya, cerita pendek atau cerpen adalah cerita yang pendek. Tetapi dengan hanya melihat fisiknya yang pendek saja orang belum dapat menetapkan sebuah cerita yang pendek adalah sebuah cerpen” (Sumardjo, 1988: 36).


Menurut Siswanto (2008: 142), cerpen merupakan akronim dari cerita pendek. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cerpen diartikan sebagai kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh di satu situasi (pada suatu ketika).


Edgar Allan Poe, sastrawan kenamaan dari Amerika mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira- kira berkisar antara setengah sampai dua jam-suatu hal yang kiranya tidak mungkin dilakukan untuk sebuah novel (Nurgiantoro, 2013: 12).


Sebuah cerpen, tidak luput di dalamnya memuat tentang unsur intrinsik, karena sejatinya unsur tersebut adalah pembangun dari karya itu sendiri. Unsur intrinsik tersebut adalah tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang dan amanat. Selain itu, ada unsur ekstrinsik yang ikut andil dalam penciptaan sebuah karya sastra, seperti cerpen.


Kecenderungan cerpen modern atau kontemporer adalah penekanan pada unsur perwatakan tokohnya. Bukan berarti bahwa pada cerpen lama perwatakan tidak dipentingkan. Penulis cerpen modern banyak menciptakan karakter besar, tokoh cerita dengan watak yang tidak akan kita lupakan. Unsur watak atau karakter dalam cerpen modern menjadi begitu menonjol dan dominan antara lain disebabkan oleh makin berkembangnya ilmu jiwa. Di Indonesia dapat kita sebut Budi Darma, pengarang yang menulis dengan menggunakan unsur tersebut.


Cerpen kontemporer adalah cerpen yang sesuai zaman, cerpen yang melampaui zaman atau cerpen lama yang permasalahan di dalamnya masih relevan dengan zaman sekarang. Cerpen kontemporer bercirikan absurd, irasional, membawa pembaruan, mendekonstruksi kaidah-kaidah sastra yang ada, tokoh-tokoh yang dihadirkan gelisah dan lain-lain. Namun, sebuah cerpen tidak harus memiliki semua ciri untuk bisa dikatakan kontemporer, jika sebuah cerpen mempunyai salah satu ciri, maka Ia bisa disebut dengan cerpen kontemporer.

2.2 Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra merupakan sambungan dari pendekatan Mimesis. Maksudnya adalah, pendekatan mimesis berupa melihat kenyataan yang disajikan dalam suatu karya, baik itu disajikan secara kompleks atau telah melalui proses inkubasi, dapat dianalisis dengan menggunakan teori sosiologi sastra.


Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Soio/socius berarti masyarakat, logi/logos berarti ilmu. Jadi, sosiologi berarti ilmu mengenali asal-usul dan pertumbuhan (evolusi) masyarakat, mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antar manusia dalam masyarakat.


Sedangkan sastra berasal dari bahasa Sangsekerta kata sas yang berarti mengarahkan, mengajar dan kata tra berarti alat, sarana. Jadi, sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar. Makna kata sastra bersifat lebih spesifik ketika membentuk kata kesusastraan, yaitu kumpulan hasil karya yang baik. Ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yaitu:
a) Pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek- aspek kemasyarakatannya.
b) Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek-aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya
c) Analisis secara langsung mengenai seberapa jauh kaitan langsung antara unsur-unsur karya dengan unsur-unsur masyarakat.
d) Sosiologi sastra adalah kaitan langsung antara karya sastra dengan masyarakat (Ratna, 2009: 1-3).

Pendekatan sosiologi menganalisis manusia dalam masyarakat, dengan proses pemahaman mulai dari masyarakat ke individu juga mengungkap karya sastra sebagai milik masyarakat (Ratna, 2007: 59).


Perilaku dan interaksi sosial merupakan akibat dan bagian sistem sosial, yang pada gilirannya merupakan bagian lingkungan sosial. Lingkungan sosial melibatkan berbagai komponen (fisik – non fisik) dalam bentuk tradisi (agama, bahasa, norma, hukum, pengetahuan, dan pola-pola perilaku lainnya). Perilaku dan interaksi sosial bertumpu pada kualitas dan tradisi di dalam kenyataan sosial, yang tidak disadari telah dimanfaatkan dan dimapankan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah perilaku sosial dan interaksi sosial dianggap sebagai ciri khas objek sosiologi.


Analisis yang dipakai dalam sosiologi sastra kali ini adalah analisis sosiologi teks untuk mengetahui strukturnya, kemudian digunakan untuk memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang ada di luar sastra. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra dipakai untuk memaparkan keterkaitan antar unsur pembangun karya dari aspek sosial yang ada.

2.3 Interaksi Sosial
Pengertian Interaksi Sosial
Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa mempunyai kecenderungan untuk hidup bersama dalam suatu bentuk pergaulan hidup yang disebut masyarakat. Dengan kata lain, manusia memerlukan hubungan dengan lingkungannya yang menggiatkannya, merangsang perkembangannya, atau yang memberikan sesuatu yang ia perlukan. Sehingga menyebabkan manusia dapat menggunakan lingkungannya, berpartisipasi dengan lingkungannya, menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau bertentangan dengan lingkungannya. Hubungan itu dapat juga disebut interaksi.


Interaksi dapat juga memengaruhi, mengubah, dan memperbaiki perilaku seseorang, atau sebaliknya yang menyebabkan kegiatan hidup seseorang menjadi bervariasi dan kompleks. Jika salah seorang melakukan aksi dan orang lain tidak melakukan reaksi, interaksi tidak akan terjadi. Oleh karena itu, interaksi sosial dapat terjadi apabila dua belah pihak saling berhubungan.


Roucek (dalam Abdulsyani: 2012:) menyatakan bahwa interaksi merupakan proses timbal balik, dengan mana satu kelompok dipengaruhi tingkah laku reaktif pihak lain dan dengan demikian ia mempengaruhi tingkah laku orang lain. Interaksi sosial menurut H. Bonner dalam bukunya Social Psychology, adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya.


Jadi, dengan kata lain, interaksi sosial terjadi karena adanya saling mengerti satu sama lain tentang maksud dan tujuan masing-masing pihak dalam suatu hubungan sosial. Tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat disebut interaksi.


Pada kontak sosial, dapat terjadi hubungan yang positif dan negatif. Kontak sosial positif dapat terjadi karena hubungan kedua belah pihak terdapat saling pengertian sehingga hubungan dapat mengarah pada suatu kerja sama. Sedangkan kontak sosial negatif dapat terjadi karena hubungan antara kedua belah pihak tidak melahirkan saling pengertian, sehingga mengakibatkan suatu pertentangan atau perselisihan.

2.4 Sinopsis Cerpen Orez Karya Budi Darma
Cerpen Orez menceritakan tentang sepasang suami istri yang memiliki anak abnormal. Tokoh utama memutuskan untuk menikahi Hester, walaupun Ia mengetahui bahwa Hester berasal dari keluarga yang aneh. Ia berasal dari keluarga yang cacat, anehnya semua saudaranya meninggal tapi tidak dengan Hester. Ia hidup dan menjadi aneh. Keanehan tersebut terlihat pada saat Hester kaget dan menggigit bibirnya serta mencekik dirinya sendiri. Lalu akhirnya Hester menjauhi tokoh utama, dan setelah itu pun ia meminta maaf dan akhirnya mau dinikahi oleh lelaki tersebut.


Setelah beberapa lama menikah, Hester hamil. Sayangnya bayinya gugur. Dan akhirnya ia pun kembali mengandung. Kehamilan kedua ini agak aneh dan tidak biasa. Perut Hester menjadi kuat dan lentur dan membuncit. Hester merasa takut tentang kehamilannya dan ingin menggugurkan janinnya. Tetapi suaminya tidak memperbolehkan, dan memang undang-undang kenegaraan tidak memperbolehkan warga untuk melakukan aborsi. Pada akhirnya, Hester melakukan sendiri hal-hal yang bisa menggugurkan kandungannya. Ia melompat dari wastafel ke bak mandi secara berulang-ulang, memukul diri sendiri, dan bahkan meminta suaminya untuk memukul perutnya dengan tongkat baseball, menendang seperti bola kaki, serta meninjunya. Namun, suaminya tidak mau dan semua usaha yang Hester lakukan menjadi sia-sia.


Akhirnya lahirlah anak laki-laki mereka yang diberi nama Orez. Ia terlihat cacat. Orez suka melompat-lompat, seperti binatang. Teriakan Orez dapat membuat gempa dan tangan kakinya mempunyai kekuatan yang tidak biasa. Tetangga tidak pernah menghina Orez dan keluarganya, mereka membolehkan anak-anak mereka bermain dengan Orez. Namun, rasa malu dan tidak enak kepada tetangga membuat keluarga Orze harus berpindah-pindah tempat tinggal.


Orez pernah dibawa oleh ayahnya ke sebuah tebing curam yang telah memakan korban jiwa karena mereka terpeleset, dengan harapan Orez pun akan menjadi korban berikutnya. Pada saat di perjalanan, Ia mengurungkan niatnya karena Ia menyadari bahwa cacatnya Orez bukan salahnya. Itu adalah kehendak Tuhan. Jadi Ia membatalkan niatnya untuk membunuh Orez.

2.5 Analisis Unsur Intrinsik Cerpen Orez Karya Budi Darma


Tema
Tema adalah ide pokok suatu cerita dan merupakan suatu landasan bagi pengarang untuk menulis ceritanya (Sayuti, 2000: 31). Dalam sebuah penulisan, sejatinya pengarang dalam menuangkan idenya tidak hanya ingin sekedar bercerita belaka, tapi ia mau menyampaikan sesuatu yang dianggapnya berguna kepada pembacanya. Keberadaan suatu cerita yang ditampilkan pengarang dapat berupa suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya, atau komentar tentang kehidupan.


Cerpen Orez karya Budi Darma ini menceritakan tentang segala permasalahan hidup yang dihadapi oleh sebuah keluarga. Konflik batin dan kenyataan hidup membuat mereka mengasingkan diri dari masyarakat yang sejatinya tidak pernah memusuhi mereka. Namun, sejatinya kesabaran masih tampak dari keluarga ini dalam menghadapi anaknya yang cacat. Mereka pun berusaha menjaga keharmonisan rumah tangga.


Tema yang diangkat dalam cerpen ini yaitu tentang kritik sosial terhadap masyarakat dalam menghadapi anak tidak normal dan ketika manusia menyikapi hawa nafsu mereka. Namun, hal itu dibungkus oleh pengarang dengan sudut pandang terbalik dari kenyataan melalui cerpen Orez, salah satu cerpen pada antologi cerpen yang berjudul Orang-Orang Blomingtoon.

Tokoh dan penokohan
a) Tokoh saya: sabar, tidak tegaan, setia, gigih dan bertanggungjawab.
Hal ini terdapat dalam kutipan:
“tahan dulu, kata saya. Tenangkan dirimu, nasihat saya”. Hal 106.
“…memang saya ingin menjadi ayah yang baik…” hal. 115.

b) Hester: rendah diri, mudah gugup, berprasangka buruk.
Hal ini terdapat dalam kutipan:
“tapi katanya perempuan semacam dia tidak pantas menjadi istri saya”. Hal. 98
“makin membesar perutnya, makin tampak was was menguasai wajahnya”. Hal. 101.

c) Orez: anak abnormal. Bukti dia anak abnormal terdalam dalam setiap paragraf di dalam cerpen dimulai ketika ia dilahirkan.

d) tetangga: baik dan pengertian.

Alur
Salah satu elemen terpenting dalam membentuk sebuah karya fiksi adalah plot cerita. Dalam analisis cerita, plot sering pula disebut alur. Plot atau alur ialah jalan cerita yang berupa peristiwa-peristiwa yang disusun satu-persatu saling berkaitan menurut hukum sebab akibat dari awal hingga akhir cerita. Jadi, peristiwa yang lain itu juga akan menjadi sebab bagi timbulnya peristiwa berikutnya dan seterusnya sampai akhir cerita (Suroto, 1989: 89).


Kemudian menurut Sayuti (2000: 31), alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan kausalitas. Secara garis besar alur dibagi dalam tiga bagian, yaitu awal, tengah, dan akhir.


Bagian awal struktur terdiri dari paparan, rangsangan, dan gawatan. Pada bagian awal cerpen Orez ini, penulis memaparkan gambaran situasi dan kondisi sebagai pijakan awal dimulainya cerita. Situasi yang digambarkan merupakan sebuah rangsangan untuk pengenalan masalah yang diangkat dalam cerita ini. Awal dari cerita dimulai dengan sorot balik yang diceritakan oleh toko saya tentang awal mula, penyebab atau akar dari permasalahan dalam kehidupannya, yaitu Orez. Hal ini dapat dibaca pada kutipan berikut:
“Umur Orez memang belum panjang, masih lima tahun lebih tiga bulan. …, sebelum saya kawin memang sudah ada pertanda bahwa keluarga saya akan celaka.”

      
          Kemudian setelah pengenalan masalah tersebut, terjadilah konflik yang membuat jalan cerita ini menjadi menarik sehingga pembaca tenggelam dalam rasa simpati dan empati yang mendalam pada tokoh cerita ini. Masalah atau konflik terjadi  ketika Hester menolak untuk dinikahi oleh tokoh Saya. Bukan karena tidak cinta, tapi karena ada penyakit dalam dirinya yang dianggapnya sebagai penyakit keturunan yang akan membuat rumah tangganya kelak akan dipenuhi masalah. Hal ini dapat dibaca pada kutipan berikut:

“Malamnya dia menelepon, mengajukan permohonan maaf, dan menyatakan terima kasihnya…, katanya, dia tidak hanya mencintai saya tapi juga menghormati saya. Tapi, katanya, perempuan semacam dia tidak pantas menjadi istri saya…”

      Selain itu, konflik juga ditimbulkan ketika ayah tokoh perempuan menceritakan semua persoalan yang sebenarnya terjadi. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Mulai dari titik inilah Stevick membuka persoalan yang sebenarnya. Entah berapa jumlah anaknya, dia sendiri sudah lupa. Mungkin tujuh, mungkin delapan, mungkin sembilan, semua mati karena cacat kecuali Hester…”

      Bagian tengah struktur terdapat klimaks. Pada bagian tengah ini permasalahan atau konflik yang terjadi mengalami puncaknya. Klimaks digambarkan ketika Hester berusaha menggugurkan anaknya dengan segala cara, tapi selalu gagal dan sampailah anak itu lahir. Selain itu, klimaks selanjutnya terjadi ketika Orez lahir yang membuat keluarga kecil ini begitu terpuruk kehidupannya dan harus berpindah dari satu tempat tinggal ke tempat tinggal lainnya. Bukan karena tetangga yang membuat mereka begitu, tapi karena tekanan batin dan juga kelakuan anaknya. Hal ini dapat dibaca pada kutipan berikut:

“Kali ini Hester berterus terang akan menggugurkan kandungannya. …, rencana pengguguran gagal karena perbuatan ini dianggap sebagai dajal oleh undang-undang negara Indiana… “

“Akhirnya, Hester sering mengunci diri di kamar mandi sampai lama. …, ketika saya intip, dia melompat dari lantai ke meja wastafel, dari sana melompat ke kakus, ke bibir bak, ke lantai, dan seterusnya.”

“Bagaikan seorang wasit tanpa sempritan, dia memerintahkan saya menendang perutnya. … kemudian, dia meminta saya memperlakukan perutnya sebagai landasan lompat jauh. Saya disuruh menjauh kemudian lari, memancangkan kaki saya pada perutnya kemudian melompat ke jendela. Saya tetap menolak.”

“Dan, begitu Hester ditelentangkan di ruang bersalin darurat, Orez lahir. Memang Orez lahir dengan selamat, tapi cacat. Kepalanya terlalu besar, kasar, dan benjol-benjol. Tangan dan kakinya juga terlalu besar, tapi tubuhnya terlalu kecil. Dan, setiap kali dia menangis, seluruh kota serasa mengalami gempa bumi hebat. Rupanya dia kelak akan mempunyai kekuatan luar biasa, lebih kuat daripada banteng ketaton.”

“Semua tetangga apartemen melakukan kami dengan baik. Kami tahu mereka tulus dan ikhlas, tapi kami merasa malu. …, beberapa kali kami pindah apartemen.”

      Bagian akhir struktur terdiri dari leraian dan selesaian. Leraian digambarkan ketika berakhirnya konflik batin yang dialami tokoh karena menyadari bahwa walaupun anaknya tidak normal, tapi dia berhak hidup. Bahwa hidup bukan hanya tentang pelampiasan nafsu semata, tapi juga tentang kesiapan dalam menghadapi semua risiko. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Saya tahu bahwa Orez tidak pernah minta dilahirkan, karena itu dia mempunyai hak hidup. Saya tahu bahwa dia, andaikata dapat berpikir, tidak menginginkan hidup cacat. Karena sudah terlanjur cacat, siapa pun tidak bisa mengubah Orez.”

     Berdasarkan struktur alur di atas, maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dalam alur flash back atau sorot balik. Dikatakan demikian karena perjalanan kisah dalam cerpen ini benar-benar bertumpu pada kisah sebelumnya atau dimulai dari awal munculnya masalah dalam cerita, yang mana kisah itu diceritakan oleh tokoh Saya. 

Latar
a. Latar tempat:

  1. Rumah Hester
    Hal ini terlihat dari pendeskripsian tokoh saya yang terdapat pada hal 99: “Dia mempersilakan saya duduk, lalu menanyakan apakah saya tidak keberatan jika disuguhkan kopi.”
  2. Rumah sakit
    “Akhirnya, pada suatu siang saya menerima telvon dari rumah sakit.” Hal 107
  3. Indiana, Kectucky, Ohio dan Chicago
    “Rencana penguguran gagal karena perbuatan ini diaanggap sebagai dajal oleh undang-undang Negara bagian Indiana, Hester berhasrat melaksanakan keingunanya di Kentucky, ternyata undang, undang Negara bagian ini juga sama. Demikian juga Ohio. Kemudian tanpa saya antar, dia terbang ke Chicago.” Hal. 108 dan 109.

Pada kutipan tersebut, terlihat bahwa Hester ingin mengugurkan kandunganya dan ternyata di sebagian Negara penguguguran kandungan termasuk kedalam perbuatan yang dianggap dajal oleh undang-undang Negara, Hester pergi ke beberapa Negara untuk melancarkan keinginanya ia pergi ke Kentucky, Ohio, dan Chicago namun tetap namun hasilnya tetap nihil.

4. Kamar mandi
“Tapi, dari suara-suara yang saya dengar dari kamar mandi, saya menjadi curiga.” Hal 109

Pada kutipan halaman 109 ini, terlihat bahwa si Hester ini ingin melakukan berbagai cara untuk mengugurkan kandungannya termasuk melakukan perbuatan yang menyakiti dirinya sendiri yang dilakukan dikamar mandi dengan cara melompat dari lantai kemeja wastafel , melompat kekaskus, lalu bibir bak lalu kelantai dan begitu seterusnya.

5. Kamar
“…dengan sekali lompat dia berdiri ditepi tempat tidurnya, kemudian membuka bajunya dengan cekatan mempertontonkan perutnya kepada saya, kemudian mengeluarkan aba-aba supaya saya menjontos perutnya seperti jago tinju yang akan merebahkan lawannya.” Hal 111.

6. Kamar
“…dengan sekali lompat dia berdiri ditepi tempat tidurnya, kemudian membuka bajunya dengan cekatan mempertontonkan perutnya kepada saya, kemudian mengeluarkan aba-aba supaya saya menjontos perutnya seperti jago tinju yang akan merebahkan lawanya.” Hal 111.

7. Di dekat lift
Hal tersebut terlihat dalam kutipan hal 115:
“Dalam hitungan beberapa detik kami sudah sampai di dekat lift.”

8. Hutan
Hal ini terlihat dalam kutipan hal 130:
“Dia saya gandeng terus masuk ke dalam hutan.”

b. Latar waktu:

  1. Malam hari
    Hal ini terlihat dalam kutipan:
    Malamnya dia menelfon mengajukan permohonan maaf, dan menyatakan terima kasihnya yang tidak terhingga kepada saya. Hal. 98
  2. Siang hari
    Hal ini terdapat pada kutipan berikut:
    “Akhirnya, pada suatu siang saya menerima telvon dari rumah sakit”. Hal. 107
  3. Sore hari
    Hal ini terlihat dalam kutipan:
    “Pada suatu sore, menjelang pukul lima, hester mengatakan bahwa perutnya sakit”. Hal 115

c. Latar suasana:

  1. Haru dan penuh cinta
    Suasana haru dan penuh cinta ini terlihat dalam kutipan yang terdapat di hal 98:
    Malamnya dia menelfon mengajukan permohonan maaf, dan menyatakan terima kasihnya yang tidak terhingga kepada saya. Katanya, dia tidak hanya mencintai saya, tapi juga menghormati saya.
  2. Putus asa
    “Haster dan saya sudah memutuskan tidak mengharap mempunyai bayi lagi”. hal 107

Keputusasaan terlihat dalam kutipan halaman 10, yang mana tokoh Saya ini dan istrinya Hester memutuskan untuk tidak mau berharap agar mempunyai bayi lagi.

  1. Sedih
    Kemudian dia bercerita bahwa istrinya sudah lama meninggal, bukan hanya karena sedih, melainkan juga karena putus harapan dan malu. Hal. 100

Suasana sedih terlihat dalam kutipan hal 100 berdasarkan pemaparan dan cerita masa lalu yang diceritakan oleh ayahnya Hester yaitu Stevick Price tampak kesedihan yang mendalam dalam pendeskripsianya tentang kenangan masa lalu yang pahit dan keam tentang kehidupanya bersama istrinya yang sudah meninggal. Kesedihan yang mendalam juga terlihat pada kutipan hal 110:

“… dia menjatuhkan diri ke dada saya, menangis tersedu-sedu, mengakui kesalahanya minta maaf dan menyatakan cintanya kepada saya.”

  1. Kekecewaan
    Hal ini terlihat dalam kutipan:
    “atas kegigihan saya menolak permohonanya dia menyatakan kecewa”. hal 112

Dalam kutipan hal 112 tersebut, Hester menyatakan kecewa kepada suaminya karena suaminya menolak semua perintahnya untuk menendang perutnya layaknya menendang dan memperlakukan perutnya layaknya bola soccer.

  1. Malu
    “Karena malu, Hester tetap hijrah dari satu pekerjaan ketempat pekerjaan lain, demikian juga saya”. Hal 122

Dalam kutipan tersebut terlihat bahwa malu dengan tingkah anaknya Orez.

  1. Menegangkan
    “Tepat pada saat saya mengambil pedang, dia melihat saya. Saya paksa dia untuk menelungkup, dia tetap menolak. Saya mengalah, saya biarkan dia melihat saya. Dan, ketika saya menarik pedang dari sarungnya, mata orez menjadi lebar.”
    Hal. 130
  2. Penyesalan
    “Keringat dingin membasahi tubuh saya, bukan hanya karena takut melainkan juga karena menyesal”. Hal. 130

Dalam kutipan di atas terlihat bahwa adanya rasa penyesalan di hati si saya ini karena sebelumnya sudah berusaha untuk mecoba untuk membunuh anaknya dengan pedang.

Sudut padang
Sudut pandang dalam cerpen ini adalah orang pertama serba tahu, hal itu terlihat dalam setiap paragrafnya penulis mendeskripsikan cerita yang selalu menggunakan kata saya yang mana si saya ini mengetahui semua seluk beluk dalam setiap cerita, kita dapat melihat salah satu kutipannya yaitu terdapat pada hal pertama dalam pembukaan cerita:


“Umur Orez memang belum panjang, masih lima tahun lebih tiga bulan. Tapi karena dia, baik istri saya maupun saya sudah sering pindah pekerjaan dan pindah apartemen delapan kali. Sebelum saya kawin memang sudah ada pertanda bahwa keluarga saya akan celaka.”


Hal itu juga terlihat dalam kutipan hal 124:
“Penyerangan terhadap Genet Tumblin, ini melahirkan babak baru dalam kehidupan kami. Hester sering menyendiri, takut saya dekati dan selamanya merasa malu dan bersalah terhadap saya.”


Pada kutipan di atas terlihat bahwa si Saya ini mengetahui semua perasaan yang ada dalam hati istrinya dan memaparkannya dengan pasti dan jelas.

Amanat
Amanat yang terdapat pada cerpen tersebut adalah bahwa sebagai manusia hendaknya selalu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan. Kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap takdir. Hiduplah dengan interaksi yang baik, meskipun ada kekurangan dari manusia lainnya, dan bersikap bijaklah dalam mengatasi hawa nafsu dan pernikahan.

2.6 Analisis Sosiologi Sastra pada Cerpen Orez Karya Budi Darma
Setelah dibaca dan mencoba memandang dari sudut sosiologi teks, ditemukan pandangan berbeda tentang orang-orang di luar sana atau di Luar Negeri, yaitu bahwa masih ada kehidupan yang memikirkan Tuhan, masih ada masyarakat yang sosialis bukan individualis dan masih ada orang yang bisa bertanggungjawab dalam segala hal, serta masih ada orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya di tempat yang terkenal dengan julukan kapitalis itu.


Tampaknya, teks cerpen Orez hadir membawa kritik terhadap interaksi sosial di Indonesia sendiri. Pesan implisit tersebut seperti, Indonesia seharusnya bisa lebih baik dari negara Barat. Indonesia, Negara dengan umat yang memiliki agama harusnya bisa melawan hawa nafsu, sehingga tidak lagi menambah angka amoral di Indonesia.


Selain itu, dalam teks juga menghadirkan kritik kepada orang-orang yang suka pilih-pilih dalam berteman, suka mengasingkan orang yang tidak sama dengan mereka atau punya kekurangan. Kritik tersebut hadir dalam bentuk teks cerpen yang menceritakan bahwa di Luar Negeri yang terkenal individualis ternyata justru lebih menjunjung tinggi kehidupan sosial, tidak membedakan fisik dan selalu rukun tetangga.


Tokoh Orez digambarkan sangat absurd di cerpen ini, karena Ia disajikan dalam bentuk manusia tapi memiliki keanehan-keanehan seperti bentuk wajah yang mengerikan, kemudian apabila Ia berteriak maka akan terjadi gempa di sekitarnya, kekuatan tangan dan kaki yang sangat kuat dapat membanting benda di sekitar dengan sekali pegang, dan hal lainnya.


Hal irasional tampak pula digambarkan pada tokoh Hester (ibu Orez), karena Hester semasa hamilnya, Ia melompat dari wastafel ke bak mandi, menyuruh suaminya menendang perutnya seperti bola kaki, meninju perutnya, dan hal lainnya. Tapi anehnya, janin itu tetap bertahan.


Hal yang tergambar dalam teks pula adalah, bahwa setiap manusia yang memiliki kekurangan pasti memiliki kelebihan. Jadi, jangan pernah malu untuk mempunyai anak yang cacat dan jangan malu berteman dengan mereka yang tidak normal, karena mereka butuh kasih sayang dan mereka punya kelebihan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Cerpen ini merupakan cerpen kontemporer yang lebih menitikberatkan kepada penokohan dari setiap tokoh. Cerpen ini berusaha menghadirkan sisi lain dari negara kapitalis yang tujuannya adalah untuk mengkritik negara pengarang sendiri, agar tersadar dari lamunan berkepanjangan, agar tidak lagi individualis dan agar bisa membuka mata terhadap sekitar, serta agar lebih meningkatkan keimanan.

Daftar Pustaka
Nurgiyantoro. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjahmada University Press
Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo
Sumardjo. 1988. Apresiasi Kesusteraan. Jakarta: Gramedia
Ratna, N.K. 2009. Stilistika. Bandung: Remaja Rosdakarya

Posted in Cerpen Kontemporer | Leave a comment

Analisis Cerpen Dinding Anak dengan Menggunakan Teori Sosiologi Sastra

Analisis Puisi Dinding Anak dengan Menggunakan Teori Sosiologi Sastra

Disusun Oleh Kelompok 2 :
Riduansyah (I1B116001)
Feni Rosita (I1B116002)
Novita Sari (I1B116003)


Dosen Pengampu :
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd

Program Studi Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Jambi
2019

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Karya sastra sebagai cermin masyarakat pada suatu zaman bisa juga dianggap sebagai dokumen sosial budaya, meskipun unsur-unsur imajinasi tidak bisa dilepaskan begitu saja, sebab tidak mungkin seorang pengarang dapat berimajinasi jika tidak ada kenyataan yang melandasinya. Karya sastra juga bisa menjadi media untuk menyampaikan gagasan atau ide-ide penulis. Max Adereth dalam salah satu karangannya membicarakan litterature engage (sastra yang terlibat) yang menampilkan gagasan tentang keterlibatan sastra dan sastrawan dalam politik dan ideologi.


Pencetus teori sastra yang pertama kali yaitu Georg Lukacs dengan bukunya The Theory of Novel, pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman pada tahun 1916 yang kemudian melahirkan teori sosiologi sastra. Di dalam negeri sendiri yaitu Umar Junus yang mengemukakan, bahwa yang menjadi pembicaraan dalam telaah sosiologi sastra adalah karya sastra dilihat sebagai dokumen sosial budaya.

Sedangkan menurut Damono, sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antar masyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, dan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang (2003:1)

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu sosiologi sastra?
1.2.2 Hal-hal apa saja yang termasuk sasaran penelitian sosiologi sastra?
1.2.3 Bagaimana hubungan antara sastra dan masyarakat?

1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Apa itu sosiologi sastra.
1.3.2 Hal-hal apa saja yang termasuk sasaran penelitian sosiologi sastra.
1.3.3 Bagaimana hubungan antara sastra dan masyarakat.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Teori
2.1.1 Pengertian Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologidan sastra. Sosiologi berasal dari kata sos(Yunani) yang berarti bersama, bersatu, kawan, teman, dan logi (logos) berarti sabda, perkataan, perumpamaan. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Merujuk dari definisi tersebut, keduanya memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun demikian, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda bahkan bertentangan secara dianetral.


Sosiologi adalah ilmu objektf kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini (das sain) bukan apa yang seharusnya terjadi (das solen). Sebaliknya karya sastra bersifat evaluatif, subjektif, dan imajiatif.


Sosiologi sastra adalah suatu telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakatdan tentang sosial dan proses sosial. Sosiologi menelaah tentang bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan masalah-masalah perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain. (Atar Semi: 52).


Telaah sosiologis itu mempunyai tiga klasifikasi (Wellek dan Werren dalam Atar Semi: 53) yaitu:

  1. Sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, idiologi politik, dan lain-lain yang menyangkut status pengarang.
  2. Sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan tenatang suatu karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya
  3. Sosiologi sastra, yakni mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat Pada prinsipnya, menurut Lauren dan Swingewood (Endraswara, 2004:79), terdapat tiga perspektif berkaitan dengan sosiologi sastra yaitu; (1) Penelitian yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan, (2) Penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial penulisnya, (3) Penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah dan keadaan sosial budaya.

2.2 Analisis Sosiologi Pembaca
Fenomena yang ditawarkan atas teks sastra, sebetulnya merupakan sebuah formula yang di racik oleh pengarang untuk memberi kekuatan tertentu pada penggunaan diksi agar karya yang ditulis nampak segar dan mengigit. Dalam cerpen dinding anak karya Danarto, penulis melihat bentuk yang ditawarkan dalam cerpen ini adalah kejanggalan dalam penggunaan diksi dalam penceritaanya.

Dalam kaitanya dengan sastra kontemporer, kita melihat adanya indikasi bahwa pengarang membuat semacam keabsurdan dalam menceritakan peristiwa atau fenomena dalam cerpennya. Kemudian yang penting selanjutnya, untuk memahami keutuhan tubuh dalam cerpen dinding anak ini, penulis melakukan pembacaan ber-ulang guna memastikan tema pokok yang ditawarkan dibalik keabsurdan cerpen dinding anak ini.


Pertama, untuk melihat adanya indikasi terkait penjelasan diatas, penulis mencoba memisahkan kata-kata yang janggal dalam pengertian absurd. Kedua, penulis mencoba melogikakan diksi yang absurd itu dan mencari padananya guna menemukan arti yang sejalur dengan rangkaian prsitiwa dalam cerpen. Ketiga, penulis mencoba memberi uraian atas diksi-diksi yang janggal pada tahapan sudut pandang atau interpretasi penulis.

Keempat, penulis mencoba menguak masalah pokok yang diusung dalam cerpen ini secara utuh. Bibit jelas sekali mula-mula berayun-ayun di atas dahan, lalu dahan itu menggelembungkan dirinya menjadi lengan, dan pemilik lengan itu lalu mengembang, melebar, dan meninggi. Ya, ya, tiba-tiba saya mengenal siapa pemilik lengan itu, yang wajahnya tak tertembus oleh cahaya.
“Izra’il!” teriak saya.


Penggalan kalimat diatas merupakan sebuah petunjuk, bahwa cerpen danarto yang berjudul Dinding Anak ini merupakan karya yang dimaksud dalam pengetian kontemporer.


Dalam penggalan tekst di atas, penulis melihat adanya sebuah kejanggalan dalam cara pengarang mengusung cerita.
Pengarang mencoba menggambarkan sesuatu yang ilahia dalam wujudnya. Dalam hal ini penggambaran malaikat Izroil digambarkan memiliki lengan yang lebar dan tubuh yang besar menyerupai pohon, sedangkan menurut sudut pandang keislaman bahwa malaikat merupakan mahluk Allah yang tidak menampakan diri , atau dalam bahasa agamanya goib.


Tentu ini menimbulkan keambiguan bagi pembaca, tentang pertanyaan mengapa sosok izroil digambarkan dalam wujud yang dijelaskan pengarang, tinggi, besar, menyerupai pohon. Serta yang tidak masuk akal lagi bahwa bibit, tokoh dakam cerpen ini , dijelaskan sedang berayun-ayun di dahan pohon yang tak lain adalah lengan izroil. Seperti kita memutar mata uang di telapak tangan. Kemudian ia memperlihatkan empat wajahnya. Satu di depan, satu dikepala, satu di belakang, dan satu lagi ditelapak kakinya. Namun karena berkerudung tak tertembus cahaya, wajah itu lebih mirip prahara yang menghunjam-hunjam di lembah berpagar empat gunung. Ia lalu mengepakkan sayapnya yang maha luas, sambil memperlihatkan tubuhnya yang tertutup mata yang jumlahnya tak terjangkau oleh mesin hitung. Jika satu matanya menutup, berarti satu makhluk menemui ajalnya. Mendadak sontak ia melesat ke angkasa dan duduk dan duduk pada singgasananya di langit keenam. Dan satu juta lembar kerudungnya berkibar-kibar menutupi planet-plenet.


Masih tentang gambaran malaikat izroil, pengarang menjelaskan bagaimana wajah malaikat Izroil menghadap ke empat arah, depan, belakang, samping kiri dan kanan, bagaimana malaikat Izroil di gambarkan memiliki ribuan mata dan sayap yang lebar. Dan pengarang juga menjelaskan tempat kediaman malaikat izroil di langit keenam. Secara logika jelas hal diatas merupakan daya imajinasi pengarang yang ditumpahkan dalam cerpenya untuk memperluas idenya. Ide yg dimaksud yaitu keabsurdan.


Saya hampiri Izra’il sambil berkata: “Anda sudah tidak mungkin lagi mengejar-ngejar Bibit. Dia sudah bukan saya anak lagi. Antara kami dan dia sudah tidak ada pertalian apa-apa.” Seperti biasanya, Izra’il tidak menjawab. Kali ini ia tsetinggi manusia biasa dengan hiasan sayap pada punggungnya yang nampak berpendar-pendar cahayanya. Suatu sinar yang menimbulkan kesejukkan, yang membuat sejenisnya di bumi pudar. Penggalan diatas meperlihatkan bagaimana tokoh ayah sedang berbicara dengan malaikat Izroil walaupun pada, akhirnya dijelaskan bahwa tidak ada gubrisan atau jawaban dari malaikat Izroil.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disumpulkan bahwa Sosiologi sastra adalah suatu telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakatdan tentang sosial dan proses sosial. Sosiologi menelaah tentang bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan masalah-masalah perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain. (Atar Semi: 52). Telaah sosiologis itu mempunyai tiga klasifikasi (Wellek dan Werren dalam Atar Semi: 53), yaitu: Sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra, sosiologi sastra. Terdapat tiga perspektif berkaitan dengan sosiologi sastra yaitu; (1) Penelitian yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan, (2) Penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial penulisnya, (3) Penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah dan keadaan sosial budaya.

DAFTAR PUSTAKA

Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung : Angkasa.

Endraswara, Suwardi. 2008. Sanggar Sastra: Wadah Pembelajaran dan Pengembangan Sastra. Yogyakarta: Ramadhan Press.

Posted in Cerpen Kontemporer | Leave a comment