Analisis Semiotika Puisi TAPI Karya Sutardji Calzoum Bachri
Oleh: kelompok 5
Khairul Ni’mah (I1B116010)
Ika Wahyuningsi (I1B116011)
Netti Hardiyanti (I1B116012)
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JAMBI
2019
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karya sastra adalah hasil atau bentuk apresiasi seseorang terhadap apa yang dialaminya yang memiliki keindahan dan keunikan bagi penikmatnya yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra, dimana puisi adalah kegiatan kreatif manusia yang dijelmakan dalam medium bahasa. Membicarakan puisi berarti membicarakan kebahasaan puisi.
Puisi merupakan karya estetis yang memanfaatkan sarana bahasa yang khas Suminto (dalam Diah Eka, 2016: 01). Dalam praktek kepenulisannya, puisi memiliki banyak ragam bentuk mengikuti perkembangan zaman seperti yang diungkapkan Riffatere (1978: 1) bahwa puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya. Keragaman puisi disebabkan oleh perbedaan zaman dan generasi yang terus menciptakan karya-karya baru.
Setiap pengarang menulis puisi berdasarkan ekspresi perasaannya sehingga bahasa yang digunakan bisa dimaknai berbeda. Setiap puisi yang dibuat oleh penyair tentu memiliki makna dan arti di dalamnya yang tidak diketahui secara implisit. Puisi adalah bentuk kesusastraan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dengan menggunakan bahasa pilihan. Puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan dan merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama.
Salah satu penyair indonesia yang terkenal yaitu Sutardji Calzoum Bachri atau yang dijuluki presiden penyair. Sutardzi merupakan pencentus lahirnya sastra kontemporer dimana karyanya ataupun kumpulan puisi-puisinya yang keluar dari aturan-aturan yang ada sehingga menghasilkan bentuk baru, yang menjadikannya berbeda dengan penulis puisi lainnya yang bersifat konvensional.
Puisi sutardji yang berjudul tapi pada kumpulan puisi o amuk kapak ini, merupakan salah satu bentuk karyanya yang memiliki makna dan bentuk tulisan yang menarik untuk dianalisis karena banyak menggunakan tanda ataupun simbol yang membuat pembaca bingung. Karena, cara pandang presiden penyair ini sangat berbeda dengan penulis-penulis puisi lainnya seperti chairil, Goenawan Mohamad, Amir Hamzah dan lain-lain.
Puisi sebagai salah satu karya sastra dapat dianalisis dari bermacam-macam aspeknya. Apresiasi puisi tidak mungkin hanya terpaut pada kajian intrinsik semata tetapi harus mencakup pada keseluruhan unsur tanda (bentuk), isi, dan konteks, yang dapat membawa pembaca pada pemahaman secara menyeluruh tentang puisi itu menjadi hal yang sangat penting.
Analisis menggunakan pendekatan semiotik dengan tujuan memahami makna yang terkandung dalam puisi.
Menganalisis puisi adalah usaha menangkap dan memberi makna pada teks puisi. Dalam semiotika riffatere khsusnya lebih mengupas makna yang ada dalam teks puisi. Menggali makna yang terdapat dalam puisi merupakan bentuk apresiasi yang sangat menarik untuk di bahas, karena dalam puisi memiliki kandungan makna yang sangat mendalam sehingga perlu sebuah kajian untuk mengupas dan membongkar secara rinci untuk mengetahui kronologis pembentukan makna yang ada dalam puisi.
Oleh karena itu, pemakalah menggunakan Analisis Semiotika Pada Puisi Tapi Karya Sutardji Calzoum Bachri.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas pemakalah merumuskan satu permasalahan yaitu, bagaimana bentuk analisis semiotika pada puisi tapi karya Sutardji Calzoum Bachri.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah mengetahui bagaimana bentuk analisis semiotika pada pusi tapi karya Sutardji Calzoum Bachri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Substansi Teori Semiotika Riffaterre
Secara umum semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain. Konvensi yang memungkinkan suatu objek, peristiwa, atau suatu gejala kebudayaan, menjadi tanda itu disebut juga sebagai kode sosial.
Menurut Eco dalam Faruk (1994: 43-44). Artinya tanda-tanda dari setiap objek, peristiwa maupun kebudayaan memiliki makna yang tersirat dalam sebuah teks. Oleh karenanya makna dalam karya sastra merupakan hal yang sangat penting.
Dalam semiotika Riffaterre menggagas sebuah teori semiotika puisi melalui dialek antara teks dan pembaca (Teeuw, 1991:64). Artinya teks dan pembaca memiliki hubungan yang saling berkesinambungan untuk sebuah proses pembentukan makna.
Teks tanpa pembaca tak akan ada artinya karena hanya akan bernilaihampa, begitupun berlaku sebaliknya. Untuk mengungkap sebuah makna tentu dibutuhkan orang yang dinamakan pembaca. Dengan adanya pembaca, makna dalam teks dapat di ketahui dan di analisis. Dengan pembaca makna dalam tek diberikan oleh si pembaca untuk mengetahui unsur-unsur maupun propaganda yang terdapat dalam teks.
Kehadiran pembaca sangat di butuhkan dalm proses analisi semiotika ini khususnya semiotika Riffaterre.
Secara garis besar semiotika Riffaterre dibagi menjadi empat, pertama ekspresi tidak langsung, pembacaan teks secara heuristik dan hermeneutik, matriks, model dan varian, dan hipogram (Pradopo, 2005:281). Dengan keempat langkah-langkah yang di tawarkan oleh Riffaterre, menganalisis makna yang terdapat dalam puisi akan lebih mudah didapat dan dipahami. Keempat langkah tersebut harus dilakukan untuk mendapatkan makna maupun kode-kode dalam puisi.
A. Ekspresi Tidak Langsung
Dalam pembacaan puisi maupun kosa kata yang dipakai dalam puisi tidak ada makna yang menggambarkan secara langsung. Pasti penggunaan kata-kata dalam puisi memiliki makna yang di sampaikan dengan mengiaskan atau mengandaikan. Tentu melalui proses pemaknaan masing-masing individu.
Seperti yang Riffatterre kemukakan dalam bukunya yang berjudul semiotics of poetry mengatakan bahwa puisi dari waktu ke waktu senantiasa berubah. Perubahan itu disebabkan oleh perbedaan konsep estetik dan evolusi selera. Namun ada satu hal yang tidak mengalami perubahan yakni, puisi itu merupakan ekpresi tidak langsung (1978: 1). Ekpsresi tidak langsug menurut Riffaterre diakibatkan oleh tiga hal yakni, displacing (penggantian), distorting (perusakan) dan creating (penciptaan) of meaning (arti) (1978: 1).
• Penggantian arti (displacing meaning)
Penggantian arti (displacing of meaning) adalah perubahan arti dari kata-kata yang ada pada puisi tidak menggunakan arti yang sebenarnya. Biasanya puisi seperti itu menggunakan majas. Majas yang digunakan dalam penggantian arti adalah metonimi dan metafora.
Pada buku karangan Pradopo, Alterbernd menjelaskan bahwa metafora adalah kiasan yang menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama dengan sesuatu lain yang sebenarnya tidak ada kaitan sama sekali. Metonimi adalah kiasan pengganti nama seperti Sungai Ciliwung yang diganti namanya dengan Sungai Kesayangan dalam sajak Toto Sudarto Bachtiar (Setyarini, 2010, p 22).
• Perusakan atau penyimpangan arti (Distorting meaning)
Dikebanyakan puisi, kata-kata atau kalimat yang digunakan sering terjadi sebuah penyimpangan arti yang di akibatkan tiga hal menurut Riffaterre, yakni ambiguitas, kontradiksi dan nonsense (1978: 2). Ambiguitas dapat terjadi pada kata, frasa, kalimat, maupun wacana yang disebabkan oleh munculnya penafsiran yang berbeda-beda menurut konteksnya. Kontradiksi adalah penggunaan kata-kata yang paradok, ironi dan antithesis. Sedangkan, non-sense adalah kata-kata yang tidak mempunyai arti (sesuai kamus) tetapi mempunyai makna “gaib” sesuai dengan konteks (Salam, 2009:4).
• Penciptaan arti (creating meaning)
Penciptaan arti baru terjadi karena di sebabkan oleh adanya bentuk visual yang meliputi, rima, enjambement, dan tipografi (Riffaterre, 1978:2). Artinya visualisasi dalam puisi mampu menciptakan sebuah arti baru seperti, rima, emjambement dan tipografi yang membuat penciptaan arti baru dalam puisi. Sehingga dalam pemaknaan dalam puisi terjadi pemaknaan baru (creating meaning).
B. Heuristik dan Hermeneutik
Heuristik adalah pembacaan tahap pertama pada puisi yang dilakukan oleh pembaca. Dimana dalam tahap pertama ini pembacaan teks sesuai dengan tata bahasa yang sintaksis, morfologis, normatif dan semantik. Artinya dalam pembacaan heuristik menghasilkan teks secara menyeluruh sesuai tata bahasa yang normatif dengan sistem semiotik. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda-tanda dari tingkat mimetik ke tingkat pemaknaan yang lebih tinggi.
Dalam pembacaan heuritsik ini disebut sebagai pembacaan tahap pertama karena pembaca dituntut untuk memahami puisi dari keseluruhan. Artinya dalam tahap pertama ini, pembaca hanya membaca di bagian luarnya sebelum memahami ke tahap yang kedua atau yang disebut hermeneutik. Di tahap yang pertama ini, proses dekoding terjadi dengan membaca teks secara keseluruhan untui medapatkan arti keseluruhan. Pembacaan heuristik tidaklah cukup untuk memahami dan menangkap makna dalam puisi yang sesungguhnya, oleh karena itu diperlukan tahap hermeneutic atau disebut pembacaan tahap kedua.
Dalam pembacaan hermeneutik, tentu tak lepas dari tahap pembacaan heuristik terlebih dahulu yang harus dilalui karena heuristik merupakan proses pembacaan tahap pertama untuk mengetahui makna teks keseluruhan secara menyeluruh yang hanya dipahami bagian luar saja.
Hermeneutik sebagai lanjutan dari tahap heuristik sebelumnya, menyajikan sebuah pemahaman yang lebih mendalam dan rinci. Hermeneutik disebut juga pembacaan tahap kedua atau retroaktif. Artinya pembaca melakukan pencarian makna secara mendalam yang didasarkan pada konvensi sastra. Proses decoding terjadi dalam tahap ini karena dalam tahap pertama dimana pembaca sudah membaca secara keseluruhan meskipun masih tahap awal namun di tahap hermeneutik, pembaca lebih paham untuk memahami teks lebih jauh dan mendalam. Segala sesuatu yang pada tahap heuristic, pembaca sesuatu yang tidak koheren antar kata atau kalimat, dalam tahap ini menemukan fakta-fakta yang berhubungan satu sama lain. Pembaca mulai dapat memahami dari yang awalnya mendapatkan makna atau arti yang ambigu menjadi jelas.
C. Matriks, Varian dan Model (kata kunci)
Puisi menjadi sebuah impian untuk seorang penyair cinta maupun kehidupan. Namun dalam perkembangannya matriks menjadi model yang di transformasikan menjadi varia-varian oleh seorang penyair yang dalam bentuk puisi. Riffaterre dalam bukunya yang berjudul semiotics of poetry mengatakan bahwa matriks ini berupa satu kata, gabungan kata, bagian kalimat sederhana (Riffaterre, 1978:25). Itu artinya bahwa matriks dalam karya sastra, puisi khususnya sangatlah menentukan keindahannya dikarenakan matrik di poles atau dibungkus oleh model yang biasanya berupa kiasan untuk mengiaskan sebuah kata-kata dalam puisi. Sehingga, keindahan matriks dalam puisi sangatlah menentukan karena matriks tidak secara jelas (butuh penafsiran hermeneutik) di gambarkan dalam puisi, bentuk varian yang menjelaskan matriks dalam puisi secara lugas dan gamblang. Untuk “membuka” sajak supaya dapat mudah dipahami, dalam konkretisasi puisi, haruslah dicari matriks atau kata-(kata) kuncinya. Kata-kata kunci adalah kata yang menjadi kunci penafsiran sajak yang dikonkretisasikan (Pradopo, 2010: 299). Artinya matriks adalah kata kunci yang yang terdapat dalam teks puisi yang menjadi model-model dalam kata-kata puisi dan ditransformasikan kedalam varian-varian.
D. Hipogram (hubungan intertekstual)
Untuk mengetahui makna dalam puisi diperlukan cara lain yakni dengan cara hipogram atau melihat makna hubungan antar sajak dalam teks sastra. Dikemukakan oleh Riffaterre dalam Pradopo (2010: 300) bahwa sajak itu adalah response (jawaban, tanggapan) terhadap sajak sebelumnya. Artinya sajak satu dengan sajak yang lain adalah jawaban dari sajak sebelumnya yang membuat puisi itu mengalami sebuah ambiguitas, kontradiksi maupun nonsense.
Riffaterre mengatakan bahwa sajak itu adalah jawaban atau tanggapan terhadap sajak sebelumnya. Tanpa menempatkan sajak pada urutan kesejarahan, maka makna sebenarnya sajak itu tidak akan terungkap. Menurut Riffaterre dikutip dalam bukunya Teeuw meyakini bahwa karya sastra tidak lahir dalam kekosongan budaya. Karya sastra ada sebagai sarana komunikasi, yang maknanya dapat berupa penyimpangan atau tanggapan dari karya sastra sebelumnya (2003, p. 67). Artinya karya sastra lahir dari sebuah fenomena-fenomena sosial maupun konflik sosial dari gejala itulah karya sastra lahir. Sehingga karya di sebutkan bahwa karya sastra lahir tidak dalam kekosongan budaya melainkan dari segala bentuk permasalahan sosial yang dituangkan kedalam karya sastra, sehingga dalam karya sastra memiliki makna yang tersirat yang harus dikupas secara mendalam.
Dengan adanya gejala maupun konflik yang ada, maka penyair melakukan peresapan dan penghayatan terhadap peristiwa yang di transformasikan kedalam sajak. Transformasi ini disebut sebagai hipogram oleh Rifatterre (Pradopo, 2005, p. 300). Dalam artian lain hipogram merupakan sebuah sistem tanda yang berisi setidaknya sebuah pernyataan yang bisa saja sebesar sebuah teks, bisa hanya berupa potensi sehingga terlihat dalam tataran kebahasaan, atau bisa juga aktual sehingga terlihat dalam teks sebelumnya (Riffaterre, 1978, p. 23). Sehingga dapat di artikan bahwa hipogram adalah teks tidak dapat terlepas dari teks sebelumnya yang menjadi latar penciptaan teks baru.
2.2 Analisis Puisi “Tapi” Karya Sutardji Calzoum Bachri
Puisi “Tapi”
KaryaSutardjiCalzoumBachri
TAPI
aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku cpadamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
wah!
(sutardji, 1981:91)
Puisi “Tapi” karangan Sutardji Calzoum Bachri menggambarkan sebuah pertentangan antara aku dan kau sehingga apa pun yang dibawa oleh aku selalu tak bermakna di mata kau. Adanya pemisahan antara baris aku dan kau seolah menggambarkan perrcakapan antara dua orang yang tak akan pernah sejajar seperti seorang yang sedang menalin asmara atau juga seperti Hamba dengan Tuhannya.
Dari segi kasmaran haal ini menggambarkan sebuah pertentangan antara aku dengan kekasihnya akan tetapi secara dalam ketika kita menganalisis dari segi semiotiknya sangat terlihat jelas tepatnya adalah hubungan antara hamba dengan Tuhan. Bahwa seorang hamba tidak mungkin membawa bunga pada Tuhannya seperti pada baris pertama puisi aku bawakan bunga padamu. Kata bunga, resah, darah, mimpi, arwah, mayat, dan duka merupakan makna konotasi karena seorang hamba tidak akan membawa hal-hal demikian saat menghadap dengan penciptanya. Sedangkan kata bilang pada puisi merupakan makna konotasi dari firman karena Tuhan biasanya menggunakan kata “firman”.
Pemaknaan puisi dengan teori Riffaterre mencakup empat cara, yaitu melalui ekspresi tidak langsung, pembacaan heuristik dan hermeneutik / retroaktif, mencari matrik, dan mencari hipogram. Akan tetapi, dalam pembahasan kali ini, penyusun hanya menggunakan dua cara yaitu pertama, ekspresi tidak langsung, kedua, pembacaan heuristic dan hermeneutic/ retroaktif.
A. Ekspresi Tidak Langsung
Dalam puisi yang berjudul “Tapi” karya Sutardji, ditemukan ekpresi tidak langsung yang berupa penyimpangan arti. Misalnya dalam kata bunga, resah, darah, mimpi, mayat, arwah. Memiliki berbagai macam arti bagi para pembaca puisi tersebut, tergantung pada pengalaman dan kemampuan masing-masing pembaca. Hal ini yang disebut ambiguitas, yaitu menimbulkan berbagai makna.
Dalam puisi ini penulis mencoba menuliskan pemaknaan yang dapat dianalisis dari beberapa kata kunci pada puisi tersebut yang dapat dilihat sebagai berikut:
• Aku bawakan bunga padamu (sebagai keindahan ataupun cinta)
• tapi kamu bilang masih (belumcukup)
• Aku membawakan keresahannya (ketidaknyamanannya)
• kamu bilang hanya (hanya itu? belumcukup)
• Saat aku membawa darah (pengorbanan)
• Kamu bilang meski (sebanyak apa pun, belum cukup)
• Aku membawa mimpi (cita-cita),
• Tetapi kamu bilang tapi (itu belum juga cukup).
• Aku membawakan mayatku kepadamu (seluruh hidup, penyerahan dirinya),
• Kamu menanggapi hampir (cukup, tetapi masih belum sempurna).
• Aku membawakan arwahku padamu (kepulangan, kebebasan),
• kamu masih bilang kalau (saja, tetapi tidakkan?)
• Akhirnya aku datang tanpa membawa apa pun,
• kamu bilang wah (bias berarti wah-kagum, bias berarti wah-keterlaluan).
Penjelasan di atas adalah analisis pemaknaan yang menurut kelompok kami Segala hal yang dibawa aku untuk kamu tidak berarti sama sekali. Semua itu tidak cukup, tidak sempurna di mata kamu. Tetapi ketika aku tidak membawa apa pun, tanggapan kamu menjadi lain. Bisa berarti kamu kesal (wah-keterlaluan), atau kamu ingin mengungkapkan persetujuan (wah-bagus/kagum).
B. Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik
Pembacaan heuristik merupakan pembacaan tahap awal. Sajak dibaca berdasarkan struktur kebahasaannya. Untuk itulah, kemampuan linguistik pembaca diperlukan pada tahap ini. Hasil pembacaan heuristilk dalam puisi TAPI sebagai berikut:
• Aku bawakan bunga padamu, tapi kau bilang masih (belum cukup).
• Aku bawakan resahku padamu, tapi kau bilang hanya (itu yang bias kaubawa?).
• Aku bawakan darahku padamu, tapi kau bilang meski (darah kau beri, tetap belum cukup).
• Aku bawakan mimpiku padamu, tapi kau bilang tapi (itu hanya mimpi, belum cukup).
• Aku bawakan mayatku padamu, tapi kau bilang hampir (cukup, tetapi belum sempurna).
• Aku bawakan arwahku padamu, tapi kau bilang kalau (saja, tetapi tidak kan?).
• (Akhirnya) tanpa apa (pun) aku datang padamu, (kau bilang).
• Wah! (entah bagus atau tidak).
Pembacaan hermeneutik atau retroaktif adalah sistem semiotika tingkat kedua. Setelah pembacaan heuristik, puisi dibaca ulang dengan bacaan retroaktif, baru kemudian ditafsirkan melalui pembacaan hermeneutic berdasarkan konvensi satra (puisi). Konvensi sastra yang dimaksud dalam puisi “TAPI” yaitu ketak langsungan ekspresi (ambiguitas). Hasil pembacaan retroaktif dan hermeneutik adalah sebagai berikut:
• Ketika manusia bertemu dengan Tuhannya (beribadah) dengan membawa keindahan (pakaian, harta benda-kemewahan) dan cinta yang tidak tulus atau murni dari hati, Tuhan menilai belum sempurna ibadahnya.
• Ketika manusia datang pada Tuhan dengan segala bentuk kekhawatirannya (disampaikan dalam doa), Tuhan mampu member jawaban atas semua masalah, bukan hanya menghilangkan kekhawatiran itu.
• Ketika manusia beribadah dengan segala pengorbanannya, Tuhan menjawab semua pengorbanan itu hanyalah pengorbanan kecil dibandingkan kebesaran-Nya.
• Ketika manusia beribadah dengan segala cita-citanya yang baik, Tuhan menilai cita-citanya barulah harapan (niat), belum dilaksanakan dan diperjuangkan.
• Ketika manusia mulai menyerah dan pasrah terhadap ketentuan Tuhan, Tuhan menilai ibadahnya hampir sempurna.
• Ketika manusia menyerahkan semua kepada-Nya (segalanya berpulang kepada-Nya), Tuhan menilai itu hanya “kalau”. Akan tetapi, ketika manusia beribadah/ kembali kepada-Nya tanpa merasa membawa apa pun, barulah Tuhan menerima ibadahnya atau arwahnya. Sebagai manusia, segala yang dimilikinya adalah milik Tuhan. Semua itu tidak akan berarti apa-apa untuk-Nya, karena Tuhan MahaBesar, memiliki apa yang tidak mungkin dimiliki manusia atau makhluk ciptaan-Nya yang lain. Ketika manusia menyadari kedudukannya adalah serendah-rendahnya sebagai seorang hamba, Tuhan menerimanya dengan segala amal ibadahnya.
C. Tipografi
Dalam analisis puisi TAPI, penulis menggunakan tipografi berantai. Tokoh aku dan tokoh kau terpisah namun bisa menyatu dalam satu pembacaan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Puisi merupakan suatu bentuk ekspresi atau kegelisahan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Pemaknaan puisi akan berbeda-beda tergantung siapa dan menggunakan pandangan apa mereka memaknai puisi.
Pemaknaan puisi dengan teori Riffaterre mencakup empat cara, yaitu melalui ekspresi tidak langsung, pembacaan heuristik dan hermeunetik/retroaktif, mencari matrik, dan mencari hipogram. Akan tetapi, dalam pembahasan kali ini, penyusun hanya menggunakan dua cara yaitu pertama, ekspresi tidak langsung, kedua, pembacaan heuristik dan hermeneutik/retroaktif.
DaftarPustaka
Bachri, Sutardji Calzoum. 1981. O, Amuk, Kapak. Jakarta: SinarHarapan.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: GadjahMada University Press.
Rachmat Djoko Pradop. 2012. Di https://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/628 Saddam Husein. 2016 . Di
https://www.academia.edu/27383069/MAKALAH_Semiotika_Riffaterre_MATA_KULIAH_TEORI_SASTRA_I_Dari_Klasik_Sampai_Modern