Sosiologi Pembaca dalam Cerpen Keadilan Karya Putu Wijaya
Oleh:
Kelompok 4
Intan Sundari (I1B116007)
Oppi Arianita (I1B116008)
Evi Priana Dewi (I1B116010)
Dosen Pengampu:
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd.
Program Studi Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Jambi
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cerpen merupakan salah satu genre sastra yang termasuk dalam prosa fiksi. Berbeda dengan novel cerpen memiliki struktur cerita yang tidak mengalami perubahan yang signifikan. Seperti halnya karya sastra yang lain, cerpen juga dibangun oleh struktur (unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik). Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya itu sendiri dari dalam. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangun cerita.
Cerita pendek atau cerpen merupakan salah satu karya sastra di Indonesia yang biasanya hanya mengisahkan satu peristiwa kemudian ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Dari sebuah cerpen dapat diambil sebuah pelajaran, di antaranya dapat memberikan pengalaman, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal.
Sebuah cerpen, tidak luput di dalamnya memuat tentang unsur instrinsik, karena sejatinya unsur tersebut adalah pembangun dari karya itu sendiri. Unsur instrinsik tersebut adalah tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang dan amanat. Selain itu, ada unsur ekstrinsik yang ikut andil dalam penciptaan sebuah karya sastra, seperti cerpen. Nah disini kami ingin menganalisis tentang pendekatan sosiologi pembaca terdapat pada cerpen keadilan karya putu wijaya disini kami ada menemukan nilai sosiologi dari cerpen ini.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Cerpen
Cerpen atau cerita pendek muncul dalam abad ke-19 di Eropa bersamaan dengan munculnya majalah. “Menurut bentuk fisiknya, cerita pendek atau cerpen adalah cerita yang pendek. Tetapi dengan hanya melihat fisiknya yang pendek saja orang belum dapat menetapkan sebuah cerita yang pendek adalah sebuah cerpen” (Sumardjo, 1988: 36).
Menurut Siswanto (2008: 142), cerpen merupakan akronim dari cerita pendek. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cerpen diartikan sebagai kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh di satu situasi (pada suatu ketika).
Poe, sastrawan kenamaan dari Amerika mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira- kira berkisar antara setengah sampai dua jam-suatu hal yang kiranya tidak mungkin dilakukan untuk sebuah novel (Nurgiantoro, 2013: 12).
Sebuah cerpen, tidak luput di dalamnya memuat tentang unsur instrinsik, karena sejatinya unsur tersebut adalah pembangun dari karya itu sendiri. Unsur instrinsik tersebut adalah tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang dan amanat. Selain itu, ada unsur ekstrinsik yang ikut andil dalam penciptaan sebuah karya sastra, seperti cerpen.
Kecenderungan cerpen modern atau kontemporer adalah penekanan pada unsur perwatakan tokohnya. Bukan berarti bahwa pada cerpen lama perwatakan tidak dipentingkan. Penulis cerpen modern banyak menciptakan karakter besar, tokoh cerita dengan watak yang tidak akan kita lupakan. Unsur watak atau karakter dalam cerpen modern menjadi begitu menonjol dan dominan antara lain disebabkan oleh makin berkembangnya ilmu jiwa. Di Indonesia dapat kita sebut putu wijaya, pengarang yang menulis dengan menggunakan unsur tersebut.
2.2 Pendekatan Sosiologi Pembaca
Sosiologi pembaca merupakan salah satu model kajian sosiologi sastra yang memfokuskan perhatian kepada hubungan antara karya sastra dengan pembaca. Hal-hal yang menjadi wilayah kajiannya antara lain adalah permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra, serta sejauh mana karya sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial (Wellek dan Warren, 1994). Di samping itu, juga mengkaji fungsi sosial sastra mengkaji sampai berapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial (Watt, via Damono, 1979). Mempermasalahkan pembaca dan pengaruh sosial karya tersebut, yakni sejauh mana dampak sosial sastra bagi masyarakat pembacanya. pembaca merupakan audiens yang dituju oleh pengarang dalam menciptakan karya sastranya. Dalam hubungannya dengan masyarakat pembaca atau publiknya, menurut Wellek dan Warren (1994). Perlu dilakukan kajian secara empiris mengenai siapa sajakah pembaca yang secara nyata (riel) membaca karya-karya pengarang tertentu.
Beberapa sastrawan Indonesia, juga memiliki publik yang berbeda-beda, sesuai dengan aliran sastra, gaya bahasa, serta isi karya sastranya. Dari cerpen Putu Wijaya berkecenderungan beraliran surealistis, inkonvensional, dan penuh dengan renungan filosofi mengenai hidup manusia lebih sesuai untuk publik yang memiliki latar belakang intelektual perguruan tinggi dan kompetensi sastra yang relatif tinggi. pendekatan sosiologi pembaca menganalisis bagaimana pandangan seorang pembaca dari cerpen keadilan karya putu wijaya tesebut.
Perilaku dan interaksi sosial merupakan akibat dan bagian sistem sosial, yang pada gilirannya merupakan bagian lingkungan sosial. Lingkungan sosial melibatkan berbagai komponen (fisik – non fisik) dalam bentuk tradisi (agama, bahasa, norma, hukum, pengetahuan, dan pola-pola perilaku lainnya). Perilaku dan interaksi sosial bertumpu pada kualitas dan tradisi di dalam kenyataan sosial, yang tidak disadari telah dimanfaatkan dan dimapankan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah perilaku sosial dan interaksi sosial dianggap sebagai ciri khas objek sosiologis.
Metode yang dipakai dalam sosiologi karya adalah analisis teks untuk mengetahui strukturnya, kemudian digunakan untuk memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang ada di luar sastra. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra dipakai untuk memaparkan keterkaitan antar unsur pembangun karya dari aspek sosial yang ada.
2.3 Interaksi Sosial
Pengertian Interaksi Sosial
Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa mempunyai kecenderungan untuk hidup bersama dalam suatu bentuk pergaulan hidup yang disebut masyarakat. Dengan kata lain, manusia memerlukan hubungan dengan lingkungannya yang menggiatkannya, merangsang perkembangannya, atau yang memberikan sesuatu yang ia perlukan. Sehingga menyebabkan manusia dapat menggunakan lingkungannya, berpartisipasi dengan lingkungannya, menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau bertentangan dengan lingkungannya. Hubungan itu dapat juga disebut interaksi.
Interaksi dapat juga memengaruhi, mengubah, dan memperbaiki perilaku sesorang, atau sebaliknya yang menyebabkan kegiatan hidup seseorang menjadi bervariasi dan kompleks. Jika salah seorang melakukan aksi dan orang lain tidak melakukan reaksi, interaksi tidak akan terjadi. Oleh karena itu, interaksi sosial dapat terjadi apabila dua belah pihak saling berhubungan.
Roucek (dalam Abdulsyani: 2012: ) menyatakan bahwa interaksi merupakan proses timbal balik, dengan mana satu kelompok dipengaruhi tingkah laku reaktif pihak lain dan dengan demikian ia mempengaruhi tingkah laku orang lain. Interaksi sosial menurut H. Bonner dalam bukunya Social Psychology, adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya.
Dalam kontak sosial, dapat terjadi hubungan yang positif dan negatif. Kontak sosial positif dapat terjadi karena hubungan kedua belah pihak terdapat saling pengertian sehingga hubungan dapat mengarah pada suatu kerja sama. Sedangkan kontak sosial negatif dapat terjadi karena hubungan antara kedua belah pihak tidak melahirkan saling pengertian, sehingga mengakibatkan suatu pertentangan atau perselisihan.
2.4 Analisis Unsur Instrinsik Cerpen keadilan Karya Putu Wijaya
Tema
Tema adalah ide pokok suatu cerita dan merupakan suatu landasan bagi pengarang untuk menulis ceritanya (Sayuti, 2000: 31). Dalam sebuah penulisan, sejatinya pengarang dalam menuangkan idenya tidak hanya ingin sekedar bercerita belaka, tapi ia mau menyampaikan sesuatu yang dianggapnya berguna kepada pembacanya. Keberadaan suatu cerita yang ditampilkan pengarang dapat berupa suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya, atau komentar tentang kehidupan.
Cerpen keadilan karya Putu Wijaya ini menceritakan tentang ketidak adilan yang dihadapi oleh pembeli es. Konflik yang membuat antara penjual dan pembeli es ini menjadi kesalah pahaman. Namun sejatinya kesabaran masih tampak pada pembeli es yang Ia merasa telah menyelamatkan nyawa orang itu, tapi orang itu malah menuntut. melalui tema, pembaca dapat memahami makna yang disampaikan pengarang. Pengarang membuat cerpen ini karena merasakan keadilan susah tidak ditegakan lagi didunia ini, dan nilai sosial antara penjual dan pembeli.
Tokoh dan penokohan
a) Tokoh pak amat : sabar, penolong.
hal ini tedapat dalam kutipan :
“Pak Sersan, maaf itu salah saya. Anak-anak itu protes karena saya minta didahulukan. Saya minta maaf, saya yang salah”
b) Penjual es : tidak berterima kasih
Hal ini terdapat dalam kutipan :
“Bapak yang beli es kemarin yang deket lapangan? mana gelasnya, Bapak belum kembalikan. Itu harganya 50 ribu satu gelas, itu gelas kristal.”
c) Pak sersan : pemarah
Hal ini terdapat dalam kutipan :
“jangan rebut! Tiba-tiba pak sersan meletuskan pistolnya”
“…Tidak! Bangsat ini yang salah. Kalau dia tidak bawa es pudengnya keluar masuk kampung kita…”
Alur
Salah satu elemen terpenting dalam membentuk sebuah karya fiksi adalah plot cerita. Dalam analisis cerita, plot sering pula disebut alur. Plot atau alur ialah jalan cerita yang berupa peristiwa-peristiwa yang disusun satu-persatu saling berkaitan menurut hukum sebab akibat dari awal hingga akhir cerita. Jadi, peristiwa yang lain itu juga akan menjadi sebab bagi timbulnya peristiwa berikutnya dan seterusnya sampai akhir cerita (Suroto, 1989: 89).
Kemudian menurut Sayuti (2000: 31), alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan kausalitas.Secara garis besar alur dibagi dalam tiga bagian, yaitu awal, tengah, dan akhir.
Bagian awal struktur terdiri dari paparan, rangsangan, dan ketidakadilan. Pada bagian awal cerpen keadilan ini, penulis memaparkan gambaran situasi dan kondisi sebagai pijakan awal dimulainya cerita. Situasi yang digambarkan merupakan sebuah rangsangan untuk pengenalan masalah yang diangkat dalam cerita ini. Awal dari cerita dimulai dengan toko penjual es tentang awal mula, penyebab atau akar dari permasalahan dalam dibaca pada kutipan berikut:
“Pada suatu hari yang terik, sementara anak-anak di alun-alun menaikkan layangannya, tukang es pudeng itu lewat “
Kemudian setelah pengenalan masalah tersebut, terjadilah konflik yang membuat jalan cerita ini menjadi menarik sehingga pembaca tenggelam dalam rasa simpati dan empatik yang mendalam pada tokoh cerita ini. Masalah atau konflik terjadi ketika penjual es yang dimahari dan ditembak oleh pak sersan Hal ini dapat dibaca pada kutipan berikut:
“akibatnya jelek sekali. Pintu rumah terkuak lebar. Pak Sersan muncul sambil mengacungkan pistolnya”
“Tidak! Bangsat ini yang salah. Kalau dia tidak bawa es pudengnya keluar masuk kampung kita, anak-anak tidak akan punya kebiasaan beli es sampai sakit-sakit seperti anakku, yang walaupun sudah sakit masih teriak-teriak minta es, kalau terdengar kelenengannya lewat celaka.”
Berdasarkan struktur alur di atas, maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dalam alur maju mundur Dikatakan demikian karena dalam cerpen ini mencerita kan pada masa yang lalu dan yang terjadi sekarang, yang mana kisah nya menceritakan tentang keadilan masa dulu dan masa sekarang.
Latar
a. Latar tempat:
- perkampungan yang terletak di sudut alun-alun daerah Bali.
- rumah Pak Sersan.
Hal ini dilihat dari pendeskripsian tokoh, pak amat, penjual es, dan pak sersan :
“Pada suatu hari yang terik, sementara anak-anak di alun-alun menaikkan layangannya, tukang es pudeng itu lewat. Pak Sersan yang rumahnya di sudut alun-alun berteriak memanggil, anaknya merengek-rengek minta es pudeng”
“ada saat banyak pedagang es pudeng dari Jawa berkeliaran di Bali”
b. latar waktu
menunjukan latar waktu yaitu pada siang hari
hal ini dapat dilihat dalam kutipan :
“Pada suatu hari yang terik, sementara anak-anak di alun-alun menaikkan layangannya, tukang es pudeng itu lewat”
c. latar suasana
Suasana disini terlihat tegang dan sedih.
Pengarang menceritakan latar suasana disini sangat menegangkan, dibuat sedemikian rupa untuk membuat pembaca terbawa suasana.
Hal ini terdapat dalam kutipan:
“Tiba-tiba Pak Sersan meletuskan pistolnya. Semua mendadak terdiam. Anak-anak ketakutan, tukang es pudeng pucat pasi” “Pak Amat menaruh uang sepuluh ribu di atas salah satu gelas tukang es itu. Lalu, dengan perasaan hancur lebur, ia berbalik dan pergi”
Sudut padang
Sudut pandang dalam cerpen ini adalah sebagai orang ketiga serba tahu. Setiap tokoh diceritakan pengarang berdasarkan kejadian cerita dan perannya dalam cerita.Tokoh utama diberi nama Pak Amat, Pak Amat berperan menjadi tokoh utama yang menjadikan cerita lebih hidup. Tidak ditemukan sudut pandang aku pengarang sebagai tokoh. Dalam cerita ini jelas semua tokoh diposisikan dalam sudut pandang orang ketiga. Pengarang dalam ceritanya menggunakan gaya bahasa yang disampaikan dalam cerita merupakan gaya bahasa pada umumnya sering digunakan, yaitu gaya berbahasa sehari-hari. Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen ini menggunakan bahasa indonesia yang mudah di pahami oleh pembaca. Konflik adalah pertentangan antara tokoh dengan alam,dengan tokoh lain, atau dengan dirinya sendiri. bentuknya dapat berupa konflik fisik (perkelahian) konflik ide (pertentangan dua pendapat), atau konflik batin (pergolakan batin).Konflik yang terdapat pada cerpen ini adalah konflik fisik.konflik fisik disini ditunjukan oleh Pak Sersan dan tukang es . Pak Sersan meletuskan pistolnya dan menodongkannya kepada tukang es. Sedangkan konflik fisik yang ditunjukan tukang es yaitu kepada Pak Amat ketika tukang e situ melukai tangan Pak Amat. Seperti berikut.
“Pak Sersan menggeleng dan menodongkan senjatanya ke tukang es itu” “Tidak! Bangsat ini yang salah. Kalau dia tidak bawa es pudengnya keluar masuk kampung kita, anak-anak tidak akan punya kebiasaan beli es sampai sakit-sakit seperti anakku, yang walaupun sudah sakit masih teriak-teriak minta es, kalau terdengar kelenengannya lewat. Dan, dia tahu sekali itu. Minggat! Sebelum aku tembak kamu. Aku sudah banyak bunuh Portugis di Timtim, nambah satu tidak apa! Minggat!” “Pak Amat merasa itu tidak lucu lagi. Ia merasa telah menyelamatkan nyawa orang itu, tapi orang itu malah menuntut. Pak Amat lalu melangkah, tapi orang itu tiba-tiba mengeluarkan celuritnya dan menyerang. Pak Amat masih sempat mengelak tapi tangannya terluka.”
Amanat
Amanat disampaikan secara langsung oleh pengarang melaui tokoh yang diceritakan oleh pengarang. Amanat yang dapat dipetik dari cerpen “Keadilan” Karya Putu Wijaya, kita sebagai manusia yang hidup berdampingan haruslah memiliki sikap yang baik contoh halnya seperti Pak Amat. Ia sudah baik menolong akan tetapi ia malah dihina dan dilukai, saking sabarnya ia tidak membalas perlakuan tukang es itu. Hendaklah menjadi manusia yang selalu berbuat kebaikan meskipun tidak dibalas dengan kebaikan lagi. Saling menghargai menjadi kunci kehidupan karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri melainkan hidup saling berdampingan bersama orang lain, dan tidak dapat dipungkiri bahwasannya seorang manusia pasti sering melakukan kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja. Sebagai manusia kita hendaknya saling mengingatkan kea rah yang lebih baik. Menunduklah jangan sampai kita selalu menegakan kepala kita.
2.5 Analisis Sosiologi pembaca pada Cerpen keadilan Karya Putu Wijaya
Setelah dibaca dan mencoba memandang dari sudut sosiologi Putu Wijaya mencoba untuk memberikan pandangan berbeda tentang orang-orang di luar sana, yaitu bahwa masih ada orang yang baik ingin membantu kita tanpa meminta balasan, masih ada masyarakat yang sosialis bukan individualis dan masih ada orang yang sudah ditolong malahan tidak bertima kasih, malahan menyudutkan seseorang tersebut dengan cara menagih gelas yang terbawa oleh pak amat tersebut.
Hal ini hendak disampaikan pengarang juga adalah bahwa setiap manusia yang ingin menolong tidak harus meminta balas budi. Tetapi kita harus tetap menerapkan keadilan di kehidupan sosial dalam masyrakat dan saling bantu membantu dan tidak pandang bulu.
Putu Wijaya mencoba mengkritik sosial dan interaksi sosial dan keadilan di Indonesia sendiri. Ia mecoba mengatakan dalam cerpennya, indonesia seharusnya bisa lebih baik dari negara barat. Mungkin saja, pengarang mulai jenuh dengan ketidakadilan dalam kehidupan sosial itu sendiri, terkait dengan pengarang juga memandang perbuatan baik dan perbuatan buruk. Perbuatan baik disini yaitu yang dilakukan oleh Pak Amat yang berusaha menolong tukang es dari amukan Pak Sersan. Terlihat Pak Amat berusaha melerai percekcokan diantara mereka, niat Pak Amat sangat baik. Namun siapa sangka niat baiknya berujung penghinaan dan tumpah darah yang terjadi pada Pak Amat. Sedangkan perbuatan buruk disini terjadi pada Pak Sersan dan tukang es. Mereka sama-sama mempunyai budi pekerti yang buruk dan emosional yang tinggi. Pak Sersan disini diceritakan sebagai Aparat, tetapi sebagai aparat ia harus bisa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Cerpen ini merupakan cerpen kontemporer yang lebih menitik beratkan kepada penokohan dari setiap tokoh. Cerpen ini berusaha menghadirkan sisi lain dari negara kapitalis yang tujuannya adalah untuk mengkritik negara pengarang sendiri, agar adanya keadilan dalam kehidupan masyarakat, agar tidak lagi individualis dan agar bisa membuka mata terhadap sekitar, serta agar lebih meningkatkan jiwa sosial terhadap sesame manusia.
Daftar Pustaka
Segandiyohannes. 2016 mengenal 25 teori pengkajian sastra, Yogyakarta : ombak
Nurgiyantoro. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjahmada University Press
Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo
Sumardjo. 1988. Apresiasi Kesusteraan. Jakarta: Gramedia
Ratna, N.K. 2009. Stilistika. Bandung: Remaja Rosdakarya