Analisis Puisi Dinding Anak dengan Menggunakan Teori Sosiologi Sastra
Disusun Oleh Kelompok 2 :
Riduansyah (I1B116001)
Feni Rosita (I1B116002)
Novita Sari (I1B116003)
Dosen Pengampu :
Dr. Drs. Maizar Karim, M. Hum.
Sovia Wulandari, S.S., M.Pd
Program Studi Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Jambi
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karya sastra sebagai cermin masyarakat pada suatu zaman bisa juga dianggap sebagai dokumen sosial budaya, meskipun unsur-unsur imajinasi tidak bisa dilepaskan begitu saja, sebab tidak mungkin seorang pengarang dapat berimajinasi jika tidak ada kenyataan yang melandasinya. Karya sastra juga bisa menjadi media untuk menyampaikan gagasan atau ide-ide penulis. Max Adereth dalam salah satu karangannya membicarakan litterature engage (sastra yang terlibat) yang menampilkan gagasan tentang keterlibatan sastra dan sastrawan dalam politik dan ideologi.
Pencetus teori sastra yang pertama kali yaitu Georg Lukacs dengan bukunya The Theory of Novel, pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman pada tahun 1916 yang kemudian melahirkan teori sosiologi sastra. Di dalam negeri sendiri yaitu Umar Junus yang mengemukakan, bahwa yang menjadi pembicaraan dalam telaah sosiologi sastra adalah karya sastra dilihat sebagai dokumen sosial budaya.
Sedangkan menurut Damono, sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antar masyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, dan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang (2003:1)
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu sosiologi sastra?
1.2.2 Hal-hal apa saja yang termasuk sasaran penelitian sosiologi sastra?
1.2.3 Bagaimana hubungan antara sastra dan masyarakat?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Apa itu sosiologi sastra.
1.3.2 Hal-hal apa saja yang termasuk sasaran penelitian sosiologi sastra.
1.3.3 Bagaimana hubungan antara sastra dan masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori
2.1.1 Pengertian Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologidan sastra. Sosiologi berasal dari kata sos(Yunani) yang berarti bersama, bersatu, kawan, teman, dan logi (logos) berarti sabda, perkataan, perumpamaan. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Merujuk dari definisi tersebut, keduanya memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun demikian, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda bahkan bertentangan secara dianetral.
Sosiologi adalah ilmu objektf kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini (das sain) bukan apa yang seharusnya terjadi (das solen). Sebaliknya karya sastra bersifat evaluatif, subjektif, dan imajiatif.
Sosiologi sastra adalah suatu telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakatdan tentang sosial dan proses sosial. Sosiologi menelaah tentang bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan masalah-masalah perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain. (Atar Semi: 52).
Telaah sosiologis itu mempunyai tiga klasifikasi (Wellek dan Werren dalam Atar Semi: 53) yaitu:
- Sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, idiologi politik, dan lain-lain yang menyangkut status pengarang.
- Sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan tenatang suatu karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya
- Sosiologi sastra, yakni mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat Pada prinsipnya, menurut Lauren dan Swingewood (Endraswara, 2004:79), terdapat tiga perspektif berkaitan dengan sosiologi sastra yaitu; (1) Penelitian yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan, (2) Penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial penulisnya, (3) Penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah dan keadaan sosial budaya.
2.2 Analisis Sosiologi Pembaca
Fenomena yang ditawarkan atas teks sastra, sebetulnya merupakan sebuah formula yang di racik oleh pengarang untuk memberi kekuatan tertentu pada penggunaan diksi agar karya yang ditulis nampak segar dan mengigit. Dalam cerpen dinding anak karya Danarto, penulis melihat bentuk yang ditawarkan dalam cerpen ini adalah kejanggalan dalam penggunaan diksi dalam penceritaanya.
Dalam kaitanya dengan sastra kontemporer, kita melihat adanya indikasi bahwa pengarang membuat semacam keabsurdan dalam menceritakan peristiwa atau fenomena dalam cerpennya. Kemudian yang penting selanjutnya, untuk memahami keutuhan tubuh dalam cerpen dinding anak ini, penulis melakukan pembacaan ber-ulang guna memastikan tema pokok yang ditawarkan dibalik keabsurdan cerpen dinding anak ini.
Pertama, untuk melihat adanya indikasi terkait penjelasan diatas, penulis mencoba memisahkan kata-kata yang janggal dalam pengertian absurd. Kedua, penulis mencoba melogikakan diksi yang absurd itu dan mencari padananya guna menemukan arti yang sejalur dengan rangkaian prsitiwa dalam cerpen. Ketiga, penulis mencoba memberi uraian atas diksi-diksi yang janggal pada tahapan sudut pandang atau interpretasi penulis.
Keempat, penulis mencoba menguak masalah pokok yang diusung dalam cerpen ini secara utuh. Bibit jelas sekali mula-mula berayun-ayun di atas dahan, lalu dahan itu menggelembungkan dirinya menjadi lengan, dan pemilik lengan itu lalu mengembang, melebar, dan meninggi. Ya, ya, tiba-tiba saya mengenal siapa pemilik lengan itu, yang wajahnya tak tertembus oleh cahaya.
“Izra’il!” teriak saya.
Penggalan kalimat diatas merupakan sebuah petunjuk, bahwa cerpen danarto yang berjudul Dinding Anak ini merupakan karya yang dimaksud dalam pengetian kontemporer.
Dalam penggalan tekst di atas, penulis melihat adanya sebuah kejanggalan dalam cara pengarang mengusung cerita.
Pengarang mencoba menggambarkan sesuatu yang ilahia dalam wujudnya. Dalam hal ini penggambaran malaikat Izroil digambarkan memiliki lengan yang lebar dan tubuh yang besar menyerupai pohon, sedangkan menurut sudut pandang keislaman bahwa malaikat merupakan mahluk Allah yang tidak menampakan diri , atau dalam bahasa agamanya goib.
Tentu ini menimbulkan keambiguan bagi pembaca, tentang pertanyaan mengapa sosok izroil digambarkan dalam wujud yang dijelaskan pengarang, tinggi, besar, menyerupai pohon. Serta yang tidak masuk akal lagi bahwa bibit, tokoh dakam cerpen ini , dijelaskan sedang berayun-ayun di dahan pohon yang tak lain adalah lengan izroil. Seperti kita memutar mata uang di telapak tangan. Kemudian ia memperlihatkan empat wajahnya. Satu di depan, satu dikepala, satu di belakang, dan satu lagi ditelapak kakinya. Namun karena berkerudung tak tertembus cahaya, wajah itu lebih mirip prahara yang menghunjam-hunjam di lembah berpagar empat gunung. Ia lalu mengepakkan sayapnya yang maha luas, sambil memperlihatkan tubuhnya yang tertutup mata yang jumlahnya tak terjangkau oleh mesin hitung. Jika satu matanya menutup, berarti satu makhluk menemui ajalnya. Mendadak sontak ia melesat ke angkasa dan duduk dan duduk pada singgasananya di langit keenam. Dan satu juta lembar kerudungnya berkibar-kibar menutupi planet-plenet.
Masih tentang gambaran malaikat izroil, pengarang menjelaskan bagaimana wajah malaikat Izroil menghadap ke empat arah, depan, belakang, samping kiri dan kanan, bagaimana malaikat Izroil di gambarkan memiliki ribuan mata dan sayap yang lebar. Dan pengarang juga menjelaskan tempat kediaman malaikat izroil di langit keenam. Secara logika jelas hal diatas merupakan daya imajinasi pengarang yang ditumpahkan dalam cerpenya untuk memperluas idenya. Ide yg dimaksud yaitu keabsurdan.
Saya hampiri Izra’il sambil berkata: “Anda sudah tidak mungkin lagi mengejar-ngejar Bibit. Dia sudah bukan saya anak lagi. Antara kami dan dia sudah tidak ada pertalian apa-apa.” Seperti biasanya, Izra’il tidak menjawab. Kali ini ia tsetinggi manusia biasa dengan hiasan sayap pada punggungnya yang nampak berpendar-pendar cahayanya. Suatu sinar yang menimbulkan kesejukkan, yang membuat sejenisnya di bumi pudar. Penggalan diatas meperlihatkan bagaimana tokoh ayah sedang berbicara dengan malaikat Izroil walaupun pada, akhirnya dijelaskan bahwa tidak ada gubrisan atau jawaban dari malaikat Izroil.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disumpulkan bahwa Sosiologi sastra adalah suatu telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakatdan tentang sosial dan proses sosial. Sosiologi menelaah tentang bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan masalah-masalah perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain. (Atar Semi: 52). Telaah sosiologis itu mempunyai tiga klasifikasi (Wellek dan Werren dalam Atar Semi: 53), yaitu: Sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra, sosiologi sastra. Terdapat tiga perspektif berkaitan dengan sosiologi sastra yaitu; (1) Penelitian yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan, (2) Penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial penulisnya, (3) Penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah dan keadaan sosial budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung : Angkasa.
Endraswara, Suwardi. 2008. Sanggar Sastra: Wadah Pembelajaran dan Pengembangan Sastra. Yogyakarta: Ramadhan Press.